Jadi Simbol Rasa Syukur, Grebeg Suro Desa Sumberagung Berlangsung Khidmat
Tradisi Grebeg Suro di Desa Sumberagung, Kabupaten Malang, kembali digelar secara khidmat. (Foto: Desa Sumberagung)

Jadi Simbol Rasa Syukur, Grebeg Suro Desa Sumberagung Berlangsung Khidmat

Tradisi Grebeg Suro di Desa Sumberagung, Kabupaten Malang, kembali digelar secara khidmat. Sebanyak 50 gunungan hasil bumi diarak sebagai simbol rasa syukur dan semangat gotong royong warga.

TIMES Malang,Selasa 16 Juni 2026, 19:45 WIB
53
I
Imadudin Muhammad

MALANG – Tradisi Grebeg Suro kembali menjadi perekat kebersamaan masyarakat Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Memasuki bulan Muharram atau Suro yang dianggap sakral dalam penanggalan Islam maupun Jawa, warga setempat menggelar kirab budaya sebagai wujud rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Perayaan yang berlangsung pada Selasa (17/6/2026) tersebut berlangsung khidmat dan meriah. Ratusan warga dari berbagai elemen masyarakat memadati jalan desa untuk mengikuti arak-arakan gunungan hasil bumi menuju Lapangan Gunturan Sumberagung.

Mengusung tema "Cancut Taliwanda, Mbangun Praja", Grebeg Suro tahun ini diikuti oleh 37 RT dan 15 lembaga pendidikan. Total terdapat 50 ogoh-ogoh gunungan yang dihias dengan aneka hasil pertanian, makanan, serta berbagai uba rampe yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa.

Kirab dimulai dari depan Kantor Desa Sumberagung dan berakhir di Lapangan Gunturan. Antusiasme warga terlihat sejak pagi hari. Tidak hanya orang tua, anak-anak hingga pelajar turut ambil bagian dalam perayaan tahunan tersebut.

Tradisi Grebeg Suro sebagai Wujud Syukur

Kepala Desa Sumberagung, Muzayid, mengatakan Grebeg Suro bukan sekadar agenda budaya, melainkan menjadi sarana masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memanjatkan doa agar diberikan keselamatan dan keberkahan dalam menjalani tahun baru.

"Doa terbaik adalah ungkapan syukur. Mari bersama-sama kita syukuri segala sesuatu yang kita miliki. Mudah-mudahan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT," ujarnya.

Menurut Muzayid, tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Sumberagung itu akan terus dilestarikan dan dilaksanakan secara konsisten setiap tahun.

Menguatkan Semangat Gotong Royong Warga

Lebih dari sekadar perayaan, Grebeg Suro juga menjadi ruang untuk memperkuat nilai gotong royong dan kekompakan masyarakat.

Proses pembuatan gunungan dilakukan secara bersama-sama oleh warga di masing-masing RT dan lembaga pendidikan.

Semangat kebersamaan itu tercermin dari kreativitas dan kekompakan peserta saat menampilkan hasil karya mereka dalam kirab budaya.

"Kekompakan terlihat ketika warga memamerkan ogoh-ogoh gunungan hasil kerja keras mereka. Seluruhnya tampak antusias dan sangat mendukung kegiatan ini," kata Muzayid.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi sehingga Grebeg Suro 2026 dapat berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat.

Merawat Tradisi di Tengah Perkembangan Zaman

Bagi masyarakat Sumberagung, Grebeg Suro bukan hanya warisan budaya yang diwariskan turun-temurun. Tradisi tersebut juga menjadi sarana memperkuat nilai religius, kebersamaan, serta identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.

Melalui kirab gunungan hasil bumi dan doa bersama, warga berharap tahun baru Muharram membawa keberkahan, keselamatan, serta kehidupan yang semakin sejahtera bagi seluruh masyarakat.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Imadudin Muhammad
|
Editor:Imadudin Muhammad