The Power of Disability Kota Batu, Aksi Band Disabilitas di Musrenbang Bumiaji Bikin Undangan Terpukau
Grup band disabilitas The Power of Disability (PD) asal Kota Batu memukau undangan Musrenbang Kecamatan Bumiaji.
BATU – Penampilan Dito, vokalis Grup Band PD asal Kota Batu, sukses membuat seisi ruangan bergoyang dan bertepuk tangan mengikuti irama lagu. Gen-Z ini bukan hanya piawai menguasai panggung, tetapi juga mampu membawakan lagu legendaris “Berita Cuaca” yang diciptakan pada 1982 dengan penuh penghayatan.
Lagu yang dipopulerkan Gomblo tersebut terdengar begitu enak didengarkan hingga menghipnotis para undangan yang hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, beberapa waktu lalu.
Usai penampilan, tepuk tangan meriah pun menggema sebagai bentuk apresiasi terhadap Grup Band PD. Keistimewaan band ini bukan hanya terletak pada suara merdu Dito atau aransemen musiknya yang rancak dan harmonis, melainkan karena seluruh personelnya merupakan penyandang disabilitas.

Selain Dito, ada Eko, Gatot Bemo, dan Dani. Mereka adalah penyandang tuna daksa dengan keterbatasan fisik. Karena itulah mereka menamai grup ini The Power of Disability (PD), sebagai simbol kekuatan dan kepercayaan diri.
Penampilan mereka semakin istimewa karena dipadukan dengan musik tradisional yang dimainkan grup Labuni (Lembaga Adat Budaya dan Seni) Kecamatan Bumiaji, sehingga menghadirkan harmoni modern dan tradisional dalam satu panggung.
Eko menuturkan, awal terbentuknya band ini berkat inisiatif Camat Bumiaji, Thomas Maydo. Ia merupakan pembina Shindi (Shinning of Disabilitas), wadah bagi penyandang disabilitas di wilayah tersebut, yang mendorong terbentuknya grup band ini.

“Kebetulan Dito adalah putra beliau. Dari situ akhirnya terbentuk Band PD yang kemudian sering tampil di berbagai event, mulai dari perayaan Natal hingga festival seperti Nala Festival di Kota Batu,” ujar Eko.
Band PD menjadi wadah untuk mewujudkan cita-cita para anggotanya. Nama Power of Disability dipilih untuk menumbuhkan rasa percaya diri serta menunjukkan kepada masyarakat, termasuk sesama penyandang disabilitas, bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya.
“Kami tidak butuh dikasihani, kami hanya ingin diberikan apresiasi dan ruang berkreasi,” tegas Eko.
Melalui karya dan panggung yang mereka taklukkan, The Power of Disability membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk bersinar dan menginspirasi Kota Batu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



