SPPG Wonomulyo Poncokusumo 2 Jelaskan Menu MBG Tanpa Nasi: Masih Tahap Uji Coba
TIMES Malang/SPPG Wonomulyo Poncokusumo 2 yang ada di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. (Dok. TIMES Indonesia)

SPPG Wonomulyo Poncokusumo 2 Jelaskan Menu MBG Tanpa Nasi: Masih Tahap Uji Coba

SPPT Wonomulyo Poncokusumo di Kabupaten Malang memberikan klarifikasi terkait menu MBG tanpa nasi yang dikeluhkan penerima manfaat.

TIMES Malang,Rabu 4 Februari 2026, 12:02 WIB
10.4K
A
Achmad Fikyansyah

MALANGSatuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonomulyo Poncokusumo 2 di Kabupaten Malang memberikan klarifikasi terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat dikeluhkan penerima manfaat karena tidak menyajikan nasi. Menu tersebut dibagikan pada Selasa (3/2/2026) dan terdiri dari jagung, kental manis, keju (jasuke), telur puyuh, serta buah anggur.

Koordinator SPPG Wonomulyo Poncokusumo 2, S. Suyono, menjelaskan bahwa penyajian menu tersebut merupakan bagian dari tahap uji coba awal operasional SPPG yang baru berjalan sekitar lima hari.

“SPPG ini baru running lima hari. Ini masih dalam rangka uji coba. Kami bersama kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan berunding untuk mencoba menu yang kira-kira disukai anak-anak,” kata Suyono, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, selama masa uji coba ini, pihak SPPG juga akan melakukan survei untuk mengetahui menu yang paling diminati oleh anak-anak sebagai penerima manfaat. Hasil survei tersebut nantinya akan menjadi dasar penentuan menu ketika program sudah berjalan penuh.

“Nanti setelah uji coba selesai dan berjalan sesungguhnya, menu akan dimasak sesuai dengan keinginan anak-anak yang mayoritas meminta,” ujarnya.

Suyono juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan MBG di SPPG Wonomulyo Poncokusumo 2 masih menghadapi kendala administratif, khususnya terkait pencairan anggaran.

“Anggarannya sebenarnya sudah masuk ke rekening SPPG, tapi ada kekeliruan di akun kepala SPPG sehingga sampai sekarang belum bisa dicairkan,” jelasnya.

Ia menyebutkan, proses pembenahan administrasi rekening masih berlangsung dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tujuh hari. Meski demikian, kegiatan MBG tetap dijalankan dengan menggunakan dana talangan.

“Karena sudah terlanjur berjalan, kegiatan tetap kami lanjutkan,” imbuhnya.

Terkait menu jasuke yang menuai respons beragam dari masyarakat, Suyono menyatakan bahwa secara standar gizi, menu tersebut telah dikonsultasikan dengan ahli gizi yang ada di SPPG-nya, dan dinilai memenuhi kebutuhan dasar.

“Kalau menurut teman-teman ahli gizi, secara standar gizi itu sudah masuk. Karbohidratnya ada di jagung. Kemarin juga menggunakan jagung manis yang masih muda,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa aspek kebiasaan dan budaya makan masyarakat perlu menjadi bahan evaluasi ke depan. Ia menilai, generasi muda cenderung lebih terbuka dengan menu alternatif, sementara sebagian masyarakat masih menganggap nasi sebagai komponen utama makan.

“Ini jadi pelajaran bagi kami. Ahli gizi juga harus lebih hati-hati dan melihat budaya makan di desa. Kebudayaan setempat perlu dipelajari juga,” ucapnya.

Suyono menegaskan, masukan dari masyarakat dan media akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan program MBG ke depan agar pelaksanaannya semakin sesuai dengan aturan, kebutuhan gizi, dan kebiasaan penerima manfaat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Achmad Fikyansyah
|
Editor:Tim Redaksi