TIMES MALANG, MALANG – Perayaan ulang tahun ke-52 Dewan Kesenian Malang (DKM) ditandai dengan gelaran pameran seni rupa bertajuk Art Exhibition Day Mirrors 25, yang menampilkan beragam karya, mulai dari lukisan hingga instalasi tiga dimensi.
Pameran ini tidak sekadar menjadi penanda usia, tetapi juga diharapkan menjadi ruang kebangkitan dan regenerasi bagi ekosistem seni di Malang, khususnya bagi para perupa muda.
Tamtama Anoraga atau Bang Imot, salah satu penggagas acara Art Exhibition Day Mirrors 25. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
“Acara ini untuk memperluas jaringan dan menyediakan fasilitas atau ruang yg representatif bagi para perupa muda,” kata Tamtama Anoraga, anggota sekaligus penggagas acara, Minggu (4/1/2026).
Sebanyak 24 pelukis meramaikan pameran ini. Mereka menyumbang karya seni terbaiknya dengan total karya yang dipajang sekitar 31 karya.
Terdapat lukisan yang menarik mata ketika pengunjung memasuki pintu pameran. Lukisan karya Sunari, seorang seniman sekaligus guru seni SMP berwarna dasar biru degan gambar pemandangan ikon tiap negara seperti menara Eiffel Prancis, kincir angin Belanda, dan gedung-gedung besar dengan hewan-hewan laut yang berenang di atasnya.
Lukisan berjudul “Banjir” ini seperti menyiratkan pesan bahwa fenomena kerusakan alam di dunia semakin parah. Tak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga ekosistem.
Karya 3D milik bang Yon yang bermakna tentang kritik sosial di Indonesia. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Selain itu, ada karya tiga dimensi milik Yon Wahyuono. Karya ini diberi nama “Gicu Wolak Walik” yang merepresentasikan kekecewaannya terhadap para oligarkis. Karya ini sebagai bentuk kritik sosial terhadap kondisi Indonesia saat ini. Tujuannya supaya semakin banyak orang merasakan kegelisahan yang terjadi.
Karya-karya tersebut dipajang hingga tanggal 5 januari 2026. Di tanggal yang sama juga akan ada acara “Bincang seni” dengan pembicara Antoni Wibowo, salah satu seniman lukis senior di Malang. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |