TIMES MALANG, MALANG – Keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi kenyataan pahit bagi Sekolah Luar Biasa atau SLB Al Fir Ma’unah di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak berdiri pada tahun 2019 hingga kini, sekolah yang melayani puluhan anak berkebutuhan khusus itu terpaksa menjalankan kegiatan belajar mengajar di rumah kontrakan warga berukuran tipe 36.
Kepala SLB Al Fir Ma’unah, Evy Yuli Hastuti, mengungkapkan bahwa selama enam tahun berdiri, sekolahnya belum memiliki gedung sendiri akibat keterbatasan dana dan minimnya dukungan dari berbagai pihak.
“Dulu kita pernah membuat proposal untuk pembangunan sekolah, tapi belum ada respons sampai sekarang. Kepedulian dan perhatian para pejabat itu kurang ke kami,” ujar Evy kepada TIMES Indonesia.
Saat ini, SLB Al Fir Ma’unah menempati dua rumah kontrakan warga yang digabung menjadi satu. Namun, luas bangunan yang terbatas membuat ruang belajar jauh dari kata ideal.
“Kita sewa rumah warga, cuma rumah ya, dua rumah jadi satu. Tapi kan rumahnya kecil, dua kamar tipe 36. Itu pun sudah dengan banyak barang, sudah nggak muat,” katanya.
Kondisi sarana-prasarana yang minim juga berdampak langsung pada proses pembelajaran. Dengan jumlah siswa mencapai 42 anak, sekolah hanya memiliki 10 meja belajar.
“Kendalanya saya itu ya di sarana-prasarana saja. Murid 42, kita hanya punya meja 10. Kalau dipaksakan sesuai jumlah murid, tempatnya enggak ada,” jelas Evy.
Akibatnya, proses belajar harus dilakukan secara bergantian. Saat jumlah siswa yang hadir banyak, sebagian anak terpaksa belajar lesehan menggunakan tikar, bahkan ada yang belajar di luar ruangan.
“Kalau pas banyak, kita kelesehan, ditikar. Ada yang di luar. Kita bikin di depan, kayak pos ronda gitu. Kalau hujan, lari-lari pindah masuk, berteduh di teras,” tuturnya.
Tak hanya ruang kelas, keterbatasan tempat juga memaksa sekolah membongkar program pembelajaran berbasis praktik yang sebelumnya berjalan. Salah satunya adalah kegiatan hidroponik yang sempat dikembangkan oleh para siswa.
“Kita pernah bikin hidroponik. Anak-anak bikin sendiri medianya dari paralon. Padinya sampai tumbuh dan panen. Tapi karena murid makin banyak, akhirnya dibongkar untuk kelas,” ungkap Evy.
Meski serba terbatas, SLB Al Fir Ma’unah tetap berupaya memberikan layanan maksimal kepada siswanya. Sejak berdiri, sekolah ini menyediakan makan dan minum gratis setiap hari bagi seluruh siswa dan guru.
“Dari awal berdiri 2019 sampai sekarang, kita itu ngasih makan ke anak-anak setiap hari. Anak-anak nggak pernah bekal nasi atau kue. Sarapan dan makan siang disediakan semua, tanpa biaya,” kata Evy.
Ia mengakui, banyak siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, bahkan dari panti asuhan, sehingga tidak memungkinkan untuk menarik iuran tetap.
“Anak-anak ini bayarnya seikhlasnya, semampunya keluarganya. Ada yang gratis. Jadi kita tidak bisa menghitung pemasukan tiap bulan,” ujarnya.
Untuk menutupi kekurangan dana operasional, pihak sekolah mengandalkan bantuan dari yayasan. Sementara itu, rencana pembangunan gedung sekolah sendiri masih menghadapi berbagai kendala, meski lahan sebenarnya sudah tersedia.
“Lahan ada, bangunnya yang belum mampu,” katanya.
Lahan seluas 618 meter persegi yang dimiliki sekolah sempat direncanakan untuk pembangunan gedung SLB di Dusun Gading Kembar. Namun, rencana tersebut terhambat karena kurangnya dukungan warga sekitar.
“Kita sudah bangun tembok 16 meter, tapi warga tidak support. Kita disuruh beli jalan masuk. Jalan setapak itu tidak boleh ditutup, padahal enggak mungkin sekolah terbelah,” jelasnya.
Saat ini, lahan tersebut akhirnya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan siswa.
“Tanah itu sekarang untuk pertanian anak-anak. Nanam singkong, panen, dijual, dibuat tape. Semua anak-anak yang nyangkul, nanam, mupuk, panen, sampai jual,” tutur Evy.
Ke depan, Evy berharap ada pihak yang tergerak untuk membantu pembangunan gedung SLB yang layak. Menurutnya, kebutuhan dana pembangunan gedung sekolah minimal mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau aturan memang Rp1,2 miliar, tapi kalau Rp600 juta itu saya kira sudah cukup. Saya ingin ada pemerhati yang membantu kami membangunkan,” katanya.
Ia juga menyimpan harapan besar untuk mengembangkan sekolah berbasis keterampilan dan pertanian, bahkan membangun asrama bagi siswa.
“Saya kepingin ada asrama, karena banyak permintaan dari luar. Tapi kami belum mampu,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |