TIMES MALANG, MALANG – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat lagi gara-gara lontaran "intervensi" Presiden Donald Trump terhadap situasi unjukrasa di sebagian Republik Islam Iran.
Iran beberapa hari terakhir diguncang unjukrasa besar-besaran terkait situasi ekonominya.
Para pengunjuk rasa dan pasukan keamanan sempat bentrok di beberapa kota di Iran pada hari Kamis, dimana setidaknya tujuh orang sejauh ini dilaporkan tewas sejak kerusuhan itu meningkat.
Trump kemudian menulis di platform Truth Social miliknya dengan memperingatkan Iran, jika mereka "membunuh para pengunjukrasa secara brutal," Amerika Serikat "akan datang untuk menyelamatkan mereka".
Trump mengatakan, Amerika Serikat "siap siaga" dan akan campur tangan jika Iran melakukan kekerasan untuk menekan pengunjukrasa setelah ada hiperinflasi itu.
"Kami sudah siap tempur dan siap bergerak," tambah pemimpin Partai Republik AS itu.
Gara-gara itu, sejak Jumat (2/1/2026) kemarin para pejabat tinggi Iran dan Amerika Serikat kemudian saling ancam.
Ketegangan antara kedua negara itu terus terjadi setelah Amerika membom situs nuklir Iran pada bulan Juni 2025 lalu.
Unjukrasa di Iran itu sebagian dipicu oleh runtuhnya mata uang rial Iran.
"Kami siap dan siaga," tulis Trump, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Tak lama kemudian, mantan ketua parlemen Iran, Ali Larijani yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menuduh di platform media sosial Xnya, bahwa Israel dan AS sedang memicu demonstrasi tersebut.
Ali Larijani tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut, yang telah berulang kali dilontarkan oleh para pejabat Iran selama bertahun-tahun protes yang melanda negara itu.
"Trump harus tahu bahwa intervensi AS dalam masalah domestik akan menyebabkan kekacauan di seluruh kawasan dan kehancuran kepentingan AS," tulis Larijani di X, yang diblokir oleh pemerintah Iran.
"Rakyat AS harus tahu bahwa Trump memulai petualangan ini. Mereka harus menjaga tentara mereka sendiri," tulisnya kemudian.
Pernyataan Larijani kemungkinan merujuk pada jejak militer Amerika yang luas di kawasan tersebut. Pada bulan Juni, Iran menyerang Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar setelah AS tiba-tiba mengebom tiga situs nuklir saat Iran melakukan perang pembalasan terhadap Israel selama 12 hari setelah tiba-tiba juga diserang negara zionis itu.
Seorang penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris dewan selama bertahun-tahun, Ali Shamkhani juga memperingatkan bahwa “tangan intervensi apa pun yang terlalu dekat dengan keamanan Iran akan dipotong.”
"Rakyat Iran benar-benar tahu pengalaman 'diselamatkan' oleh Amerika: dari Irak dan Afghanistan hingga Gaza,” tambah mantan brigadir jenderal di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu di X.
Jika protes di Iran hari Sabtu ini terus berlangsung maka memasuki hari ketujuh dan merupakan yang terbesar di Iran sejak 2022 setelah demonstrasi nasional atas kematian Mahsa Amini yang ditahan polisi karena tidak mengenakan hijab, atau jilbab, sesuai keinginan pihak berwenang.
Demonstrasi terkait ekonomi kali ini pun belum seintens demonstrasi seputar kematian Amini.
Iran umumnya menuduh AS, Israel, dan "aktor-aktor pengacau" lainnya berada di balik setiap tindakan balasan terhadap rezim tersebut. Teheran secara resmi memblokir akses ke X untuk pengguna biasa pada tahun 2009.
Pemerintah sipil Iran di bawah Presiden reformis Masoud Pezeshkian sebenarnya telah memberi sinyal bahwa mereka ingin bernegosiasi dengan para pengunjukrasa.
Namun, Pezeshkian mengakui bahwa tidak banyak yang dapat ia lakukan karena rial Iran telah terdepresiasi dengan cepat, dengan $1 sekarang setara dengan sekitar 1,4 juta rial. Hal itulah yang kemudian menjadi pemicu awal protes.
Protes tersebut, yang berakar pada masalah ekonomi itu kemudian juga membuat para pengunjukrasa meneriakkan protes terhadap teokrasi Iran.
Beberapa bulan setelah perang, Iran mengatakan bahwa mereka tidak lagi memperkaya uranium di lokasi mana pun di negara itu, dan memberi sinyal kepada Barat bahwa mereka tetap terbuka untuk bernegosiasi mengenai program atomnya untuk meringankan sanksi.
Namun, pembicaraan tersebut belum terjadi karena Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memperingatkan Teheran agar tidak membangun kembali program atomnya.
Kini Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menciptakan ketegangan baru dengan melontarkan "intervensi" terhadap situasi unjukrasa di sebagian Republik Islam Iran dengan menyatakan bahwa AS siap tempur dan siap bergerak bila Iran terus membunuh para pengunjukrasa, dan sejauh ini sudah tujuh pengunjukrasa terbunuh.(*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Imadudin Muhammad |