TIMES MALANG, MALANG – Kesempatan menjadi pemimpin sering datang seperti pintu yang terbuka sebentar: jika ragu, ia menutup; jika berani, ia mengantar pada tanggung jawab yang tak ringan. Dalam dunia politik dan kekuasaan, kepemimpinan bukan sekadar kursi empuk atau sorotan kamera, melainkan ujian watak.
Di titik inilah metafora singa menjadi relevan bukan semata karena keganasannya, tetapi karena keberaniannya berdiri paling depan ketika rimba bergolak.
Singa tidak memimpin dengan bisik-bisik di balik semak. Ia melangkah terbuka, memperlihatkan dirinya, menanggung risiko paling awal. Namun kekuatan singa bukan hanya pada taring, melainkan pada insting menjaga kawanan. Pemimpin sejati bukan predator bagi rakyatnya sendiri, melainkan penjaga wilayah agar yang lemah tidak menjadi santapan kekacauan.
Masalahnya, banyak pemimpin lahir dengan auman, tetapi miskin pendengaran. Suaranya keras, namun telinganya tertutup. Kekuasaan dijadikan tongkat pemukul, bukan tongkat penuntun.
Kebijakan dirancang seperti perang kilat: cepat, mengejutkan, namun sering mengorbankan yang tak sempat berlindung. Dalam situasi seperti ini, singa berubah menjadi makhluk buas yang lupa bahwa hutan hanya bisa lestari jika semua makhluk hidup di dalamnya diberi ruang bernapas.
Padahal, kesempatan memimpin adalah kesempatan langka untuk mengubah arah sejarah kecil manusia biasa. Dari ruang rapat yang sempit, nasib ribuan orang bisa berbelok; dari satu tanda tangan, hidup petani bisa membaik atau justru runtuh; dari satu pidato, harapan bisa tumbuh atau layu. Kekuasaan, seperti api, bisa menghangatkan atau membakar. Yang membedakan hanya karakter tangan yang memegangnya.
Pemimpin yang berjiwa singa seharusnya tahu kapan harus menerkam, kapan harus menahan diri. Ketegasan memang perlu, tetapi tanpa kebijaksanaan ia hanya menjadi kekerasan yang dilegalkan.
Keberanian memang penting, tetapi tanpa empati ia berubah menjadi kesombongan yang berisik. Dalam dunia kebijakan publik, keputusan yang “untung” bukan hanya yang menguntungkan angka statistik, tetapi yang membuat rakyat bisa tidur tanpa rasa takut pada hari esok.
Sejarah memberi kita banyak contoh tentang pemimpin yang menyangka dirinya singa, padahal hanya serigala berbaju kebesaran. Mereka berlari cepat mengejar kekuasaan, tetapi meninggalkan jejak luka di belakang.
Jalanan mungkin dibangun, gedung mungkin berdiri, tetapi hati rakyat runtuh seperti rumah tanpa tiang. Kekuasaan memang bisa memaksa taat, tetapi hanya keadilan yang membuat orang rela mengikuti.
Kepemimpinan sejati bukan soal seberapa keras suara memerintah, melainkan seberapa jauh telinga mau mendengar. Rakyat bukan rumput yang cukup diinjak agar rata, melainkan manusia dengan kecemasan, mimpi, dan perut yang harus diisi. Kebijakan yang baik lahir bukan dari menara gading, tetapi dari tanah yang diinjak bersama.
Menjadi pemimpin berarti bersedia menjadi sasaran kritik, seperti singa yang menerima cakaran ketika mempertahankan wilayah. Kritik bukan ancaman, melainkan alarm agar kekuasaan tidak mabuk oleh pujian. Sebab kekuasaan yang mabuk akan melihat rakyat sebagai angka, bukan sebagai wajah.
Di negeri ini, kita sering terpesona pada pemimpin yang tampak garang, seolah keganasan adalah bukti keberanian. Padahal keberanian sejati justru terlihat ketika seorang pemimpin mengakui salah, mengoreksi kebijakan, dan memilih berpihak pada yang kecil meski kehilangan tepuk tangan elite. Itulah keberanian yang sunyi, tetapi berumur panjang.
Kesempatan menjadi pemimpin seharusnya dibaca sebagai kesempatan menjadi pelayan dengan otoritas, bukan raja kecil dengan pasukan. Kekuatan singa seharusnya digunakan untuk membuka jalan, bukan menutup mulut; untuk melindungi, bukan menindas; untuk menata, bukan merampas.
Jika kekuasaan hanya dipakai untuk menguntungkan segelintir orang, maka singa akan dikenang sebagai monster. Tetapi jika kekuasaan dipakai untuk menegakkan keadilan, memperluas kesempatan, dan memanusiakan kebijakan, maka singa akan dikenang sebagai penjaga rimba peradaban.
Sejarah tidak mencatat seberapa lama seseorang berkuasa, tetapi untuk siapa kekuasaan itu digunakan. Di situlah pemimpin diuji: apakah ia singa yang menjaga kehidupan, atau hanya bayangan buas yang lewat meninggalkan ketakutan.
***
*) Oleh : Ferry Hamid, Peraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif ATI 2024 TIMES Indonesia.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |