TIMES MALANG, MALANG – Malam itu, Jakarta tidak sekadar sibuk dengan hiruk-pikuk demonstrasi buruh dan mahasiswa. Malam itu, di sebuah ruas jalan Penjernihan I, Pejompongan, sejarah mencatat, Affan Kurniawan.
Ia seorang pengemudi ojek online, yang sejatinya hanya ingin pulang membawa rezeki untuk keluarga. Tak pernah terbayang, ia justru pulang dalam keadaan terbujur kaku, setelah tubuhnya dilindas roda besi kendaraan taktis Brimob.
Video itu sudah kita saksikan bersama. Mobil rantis hitam legam itu melaju, menabrak, berhenti sejenak, lalu kembali menggiling tubuh ringkih yang terkapar. Teriakan massa tak mampu menghentikan roda besi. Dalam hitungan menit, Affan menjadi korban baru dari wajah kekerasan aparat di republik ini.
Affan yang Tak Pernah Ikut Demo
Affan bukan aktivis. Ia bukan pula mahasiswa yang berorasi di depan DPR. Ia adalah bagian dari kita, rakyat kecil yang hidup dari order demi order. Siang ia bekerja sebagai satpam, malam ia menjemput rezeki sebagai driver ojol.
Malam itu, ia sedang menjalankan tugas: mengantarkan pesanan makanan. Namun nasib membawanya bertemu dengan kericuhan yang berujung maut.
Keluarga dan rekan sesama driver mengenalnya sebagai pemuda baik, pekerja keras, yang tak pernah banyak bicara tentang politik. Ironisnya, justru politiklah yang merenggut nyawanya.
Hari itu, demo buruh dan mahasiswa sudah memanas sejak siang. Tuntutan klasik hapus outsourcing, tolak upah murah membawa ribuan massa memenuhi jalan di sekitar kompleks DPR/MPR.
Menjelang malam, aparat mulai kehilangan kendali. Gas air mata dan water cannon ditembakkan, suasana berubah jadi kepanikan. Di tengah kabut gas, orang berlarian, motor berserakan, dan di sanalah rantis Brimob melaju tanpa ampun.
Affan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tapi benarkah semua salah hanya perkara tempat dan waktu? Bukankah ada kebijakan, ada kendali, ada manusia di balik setir kendaraan taktis itu?
Gelombang Amarah
Kabar kematiannya menyulut api kemarahan. Dalam hitungan jam, nama Affan menggema di media sosial. Tagar #AffanKurniawan, #TragediPejompongan, dan #RIPIndonesianDemocracy menjadi trending.
Data Drone Emprit menyebut lebih dari sejuta unggahan menyuarakan duka dan protes. Rakyat merasa ada yang lebih besar dari sekadar kecelakaan: ada luka, ada pengkhianatan terhadap amanat “melindungi segenap bangsa”.
Pagi harinya, ribuan driver ojol memenuhi jalanan Jakarta. Konvoi panjang mengiringi jenazah Affan dari Menteng menuju TPU Karet Bivak. Klakson motor bersahutan, bukan untuk riuh, melainkan sebagai tanda duka dan penghormatan.
Dari atas jembatan penyeberangan, warga melambaikan tangan, beberapa menitikkan air mata. Hari itu Jakarta menjadi saksi solidaritas yang langka.
Suara Negara
Kapolri akhirnya muncul, menyampaikan permintaan maaf. Tujuh anggota Brimob yang mengoperasikan rantis malam itu diperiksa Propam. Presiden pun angkat bicara, meminta investigasi menyeluruh.
Kata-kata penyesalan diucapkan, tapi bagi banyak orang, semua itu terasa telat. Nyawa Affan tak bisa kembali, luka masyarakat tak bisa sembuh hanya dengan ucapan maaf.
Di ruang publik, kepercayaan terkikis. Pertanyaan menyeruak: apakah kasus ini akan tuntas, atau akan masuk ke daftar panjang tragedi tanpa keadilan?
Demokrasi yang Rapuh
Tragedi Affan Kurniawan bukan sekadar kecelakaan lalu lintas dalam kericuhan. Ia mencerminkan relasi kuasa yang timpang antara negara dan rakyat. Aparat keamanan, yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjelma ancaman.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam dua dekade terakhir, berbagai catatan Komnas HAM menunjukkan pola yang sama: kekerasan aparat dalam menghadapi demonstrasi.
Secara sosiologis, peristiwa ini menegaskan bahwa demokrasi Indonesia masih rapuh. Demokrasi tidak hanya bicara tentang pemilu yang rutin, tetapi juga tentang penghormatan terhadap hak asasi manusia, termasuk hak untuk hidup. Ketika aparat gagal mengendalikan diri dan menjadikan rakyat kecil sebagai korban, maka demokrasi kehilangan makna substansialnya.
Kematian Affan juga memperlihatkan bagaimana masyarakat sipil kini lebih peka dan responsif melalui media sosial. Dalam hitungan jam, publik mengorganisir solidaritas, mengawal narasi, dan menekan pemerintah untuk bertindak.
Di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa negara sering tertinggal dalam merespons aspirasi rakyat. Publik bergerak cepat, sementara negara lamban.
Ada dimensi lain yang juga penting: ketidakadilan struktural. Affan adalah representasi kaum pekerja urban yang hidup dalam tekanan ekonomi. Bekerja ganda, siang jadi satpam, malam jadi driver ojol, hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kehidupan semacam ini adalah potret nyata jutaan rakyat Indonesia. Maka, ketika Affan tewas, rasa kehilangan itu menjadi kolektif, sebab publik melihat dirinya di dalam sosok Affan.
Luka Demokrasi
Tragedi Affan Kurniawan adalah potret buram demokrasi kita. Di negeri yang katanya menjunjung tinggi hak asasi, seorang anak muda yang tak tahu menahu soal politik justru jadi korban politik. Demokrasi seharusnya melindungi suara rakyat, bukan membungkam dengan gas air mata atau melindas dengan roda besi.
Affan kini telah tiada. Namun namanya hidup sebagai simbol perlawanan. Sebagai pengingat bahwa demokrasi kita masih rapuh, aparat masih sering kehilangan kendali, dan rakyat kecil selalu jadi korban.
Mungkin hari ini kita mengucapkan, “Selamat jalan, Affan.” Tapi esok, kita punya tanggung jawab lebih besar: memastikan tragedi seperti ini tak lagi terulang.
Negara harus belajar bahwa nyawa rakyat bukan angka, bukan statistik, melainkan cerita. Cerita yang tak boleh berakhir di bawah roda kendaraan taktis.
Karena pada akhirnya, demokrasi bukan sekadar soal siapa berkuasa, tetapi soal siapa yang berani menjaga agar rakyat kecil seperti Affan tidak lagi mati sia-sia.
***
*) Oleh : Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainor Rahman |
Editor | : Hainorrahman |