TIMES MALANG, MALANG – Merah Putih selalu punya cara sunyi untuk memanggil. Ia tak berteriak, tak mengetuk pintu dengan kasar. Ia hanya berkibar pelan, sabar di tiang-tiang waktu, menunggu siapa pun yang hatinya masih mau menoleh.
Bagi anak-anak bangsa yang merantau jauh, bendera itu kerap hadir sebagai bayangan: dalam doa yang tertahan, dalam rindu yang tak selesai, dan dalam dilema antara pulang atau menetap.
Di berbagai belahan dunia, anak bangsa terdidik tumbuh dan berkiprah. Mereka belajar di kampus-kampus ternama, bekerja di laboratorium modern, meneliti di pusat riset mutakhir, dan mengabdi di institusi global.
Nama Indonesia kerap mereka bawa di kartu identitas, tetapi tanah air sering hanya hadir dalam cerita masa kecil dan lagu kebangsaan yang dinyanyikan lirih saat upacara diaspora.
Fenomena ini bukan semata soal migrasi intelektual. Ia adalah cermin dari relasi yang belum tuntas antara negara dan warganya. Di satu sisi, negara bangga melepas anak-anak terbaiknya menjelajah dunia. Di sisi lain, negara kerap gagap saat harus menyambut mereka pulang. Merah Putih melambai, tetapi jalan pulang tak selalu terbuka lebar.
Bagi banyak perantau terdidik, pulang bukan soal nasionalisme yang tipis atau tebal. Pulang adalah soal ekosistem. Apakah ilmu yang dibawa akan menemukan tanah subur, atau justru layu sebelum tumbuh? Apakah gagasan akan dirawat, atau ditenggelamkan oleh birokrasi yang berbelit dan mentalitas yang alergi pada perubahan?
Tak sedikit anak bangsa yang ingin pulang, tetapi terjebak pada realitas pahit: ruang kerja sempit, riset minim dukungan, dan meritokrasi yang sering kalah oleh kedekatan. Dalam situasi itu, Merah Putih seolah berdiri di persimpangan—antara simbol kebanggaan dan pengingat kegagalan struktural.
Namun, tak adil pula jika kerinduan ini hanya dibebankan pada negara. Anak bangsa yang merantau juga memikul tanggung jawab moral. Ilmu bukan sekadar tiket untuk hidup nyaman, tetapi amanah sosial. Di balik gelar dan prestasi, ada harapan kolektif bahwa pengetahuan akan kembali, entah dalam bentuk pulang fisik atau pulang gagasan.
Pulang hari ini tak selalu berarti kembali menetap. Dunia sudah terlalu cair untuk definisi tunggal tentang pengabdian. Ada yang pulang melalui kolaborasi riset, transfer teknologi, mentoring jarak jauh, hingga investasi sosial. Merah Putih tak hanya berkibar di halaman kantor pemerintahan, tetapi juga di ruang-ruang digital tempat anak bangsa berbagi pengetahuan lintas batas.
Namun tetap saja, ada panggilan yang tak tergantikan: membangun dari dalam. Negara membutuhkan lebih dari sekadar citra diaspora sukses. Ia membutuhkan tangan-tangan yang mau kotor, pikiran-pikiran yang berani berbeda, dan keberanian untuk mengubah sistem dari akar. Panggilan pulang adalah panggilan untuk bertarung, bukan untuk dimanja.
Teropong Merah Putih seharusnya tak hanya dipakai untuk memantau siapa yang pergi, tetapi juga untuk menyiapkan ruang bagi mereka yang ingin kembali. Negara perlu berhenti sekadar memuja angka kepulangan dan mulai membangun ekosistem keberlanjutan: riset yang dibiayai serius, birokrasi yang ramah inovasi, dan budaya kerja yang menghargai kompetensi.
Di titik inilah nasionalisme diuji. Bukan dalam pidato yang berapi-api, melainkan dalam kebijakan yang konsisten. Merah Putih bukan hanya simbol sejarah, tetapi komitmen masa depan. Ia bertanya dengan lembut namun tegas: apakah negeri ini siap berubah agar anak-anaknya mau kembali?
Bagi anak bangsa terdidik, panggilan pulang bukan romantisme kosong. Ia adalah dialog batin antara idealisme dan realitas. Pulang berarti siap kecewa, siap berjuang, dan siap berjalan lebih lambat. Tetapi justru di sanalah makna pengabdian menemukan bentuknya.
Negara boleh saja kalah cepat dari dunia dalam banyak hal. Tetapi jika ia mampu menghadirkan keadilan, kejujuran, dan ruang tumbuh yang sehat, maka Merah Putih tak perlu memanggil keras-keras. Anak bangsa akan pulang dengan sendirinya bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta.
Di bawah teropong Merah Putih, sejarah sedang menunggu. Ia ingin mencatat apakah bangsa ini hanya pandai melepas, atau juga mampu merangkul. Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa jauh anak bangsanya pergi, melainkan oleh seberapa bermakna mereka pulang.
***
*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |