https://malang.times.co.id/
Opini

Neraca Dagang Penikmat Diskon

Jumat, 09 Januari 2026 - 23:27
Neraca Dagang Penikmat Diskon Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

TIMES MALANG, MALANG – Setiap musim diskon tiba, pusat perbelanjaan menjelma panggung perayaan. Spanduk bertuliskan sale bergantungan seperti janji kebahagiaan instan. Notifikasi gawai berdentang, dompet digital berdenyut, dan jari-jari kita bergerak lebih cepat daripada nalar. 

Di balik riuh belanja murah itu, ada satu laporan sunyi yang jarang dibaca publik awam: neraca dagang. Ia tidak berisik, tidak penuh warna, tetapi justru di sanalah wajah ekonomi kita sesungguhnya tercermin.

Indonesia hari ini perlahan berubah menjadi bangsa penikmat diskon. Kita merayakan harga murah tanpa bertanya dari mana barang itu datang dan ke mana uang itu pergi. Kita merasa menang saat membeli produk impor dengan potongan besar, padahal dalam diam, neraca dagang kita sedang bekerja keras menutup luka defisit. Diskon memberi sensasi menang sesaat, tetapi sering kali menyisakan kekalahan struktural yang panjang.

Dalam logika ekonomi, neraca dagang adalah cermin keseimbangan: antara apa yang kita jual ke dunia dan apa yang kita beli dari luar. Namun dalam praktik keseharian, cermin itu kerap retak oleh perilaku konsumsi. 

Kita lebih gemar menjadi pembeli daripada produsen, lebih bangga memamerkan barang impor daripada menguatkan produk sendiri. Diskon membuat kita lupa bahwa setiap barang murah dari luar negeri adalah suara yang pelan tapi konsisten menggerus daya saing industri dalam negeri.

Fenomena ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari budaya konsumsi yang dibentuk bertahun-tahun. Globalisasi pasar, kemudahan logistik, dan algoritma promosi digital menjadikan produk asing terasa lebih dekat daripada hasil karya tetangga sendiri. 

Negara-negara produsen besar mengirim barang seperti air bah, sementara kita menyambutnya dengan karpet merah bernama promo. Neraca dagang pun mencatatnya dengan jujur, meski tak pernah dipedulikan.

Ironisnya, kita sering menyalahkan pemerintah setiap kali neraca dagang tertekan. Padahal, kebijakan negara hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya adalah pilihan jutaan konsumen setiap hari. 

Diskon bukan sekadar strategi dagang, ia adalah candu ekonomi. Ia membuat kita merasa cerdas berbelanja, padahal sering kali kita sedang menggadaikan kemandirian ekonomi secara kolektif.

Di sinilah paradoks itu bekerja. Kita mengeluh lapangan kerja sempit, tetapi membeli produk yang diproduksi jauh di negeri lain. Kita resah industri lokal gulung tikar, tetapi lebih setia pada merek asing yang memberi potongan harga. Neraca dagang mencatat semua itu tanpa emosi, seperti bendahara yang telaten, meski tahu uang kas perlahan menipis.

Padahal, diskon tidak selalu salah. Masalahnya bukan pada potongan harga, melainkan pada absennya kesadaran ekonomi. Diskon menjadi masalah ketika ia mematikan nalar kritis. Kita lupa bertanya: apakah barang ini punya substitusi lokal? Apakah harga murah ini sebanding dengan dampak jangka panjangnya? Apakah kita sedang membantu ekonomi sendiri atau justru memperlebar ketergantungan?

Negara-negara dengan neraca dagang kuat umumnya memiliki kesadaran kolektif yang matang. Konsumen mereka tidak sekadar membeli murah, tetapi membeli dengan pertimbangan strategis. 

Produk lokal dilindungi bukan hanya oleh tarif, tetapi oleh loyalitas warganya. Di Indonesia, kesadaran ini masih rapuh. Kita ingin ekonomi kuat, tetapi enggan bersabar membangun industri sendiri.

Di sisi lain, industri nasional juga tidak boleh berlindung di balik nasionalisme kosong. Produk lokal harus hadir dengan kualitas, inovasi, dan harga yang masuk akal. Tidak adil menuntut konsumen setia jika produsen enggan berbenah. Neraca dagang yang sehat lahir dari simbiosis: kebijakan negara yang cerdas, industri yang kompetitif, dan konsumen yang sadar.

Masalahnya, budaya diskon sering kali menenggelamkan diskusi itu. Kita sibuk menghitung potongan, lupa menghitung dampak. Kita berburu murah hari ini, tanpa menyadari bahwa harga sesungguhnya bisa dibayar esok hari dalam bentuk pengangguran, industri mati, dan ketergantungan impor yang kian dalam.

Neraca dagang sejatinya bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi. Ia adalah potret pilihan hidup kita sebagai bangsa. Apakah kita ingin menjadi pasar besar yang pasif, atau produsen yang berdaulat? Apakah kita puas menjadi penikmat diskon abadi, atau berani membayar harga wajar demi kemandirian ekonomi?

Mungkin sudah saatnya kita belajar menahan jari sebelum menekan tombol checkout. Diskon memang menggoda, tetapi kedaulatan ekonomi menuntut kedewasaan. Tidak semua yang murah itu baik, dan tidak semua yang mahal itu buruk. Neraca dagang mengajarkan satu hal sederhana: keseimbangan tidak lahir dari kerakusan, melainkan dari kesadaran.

Jika kita terus mabuk diskon tanpa arah, jangan salahkan siapa pun ketika neraca dagang terus goyah. Sebab di balik setiap angka defisit, ada jutaan keputusan kecil yang kita buat sadar atau tidak setiap kali tergoda oleh harga murah.

***

*) Oleh : Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.