https://malang.times.co.id/
Opini

Empati yang Tersesat di Era Digital

Sabtu, 10 Januari 2026 - 15:44
Empati yang Tersesat di Era Digital Jazuli, S.E. M.E., Pegiat dan Pelaku UMKM.

TIMES MALANG, MALANG – Ruang digital hari ini tampak seperti alun-alun raksasa yang tak pernah tidur. Ia ramai, penuh suara, dipadati wajah dan opini, dibanjiri tawa, amarah, juga air mata yang diketik. Namun di balik keramaian itu, ada keheningan lain yang tumbuh diam-diam: sunyi dalam relasi, kering dalam empati, dan rapuh dalam rasa kemanusiaan. Kita saling menyapa lewat layar, tetapi sering gagal benar-benar saling menyentuh sebagai manusia.

Media sosial menjanjikan kedekatan, tetapi sering kali hanya memberi ilusi tentang kebersamaan. Kita tahu kabar orang lain lebih cepat daripada tetangga sendiri, hafal drama selebritas ketimbang derita orang di sebelah rumah, dan lebih sigap merespons notifikasi daripada tangis yang nyata. Dunia digital membentuk generasi yang cepat bereaksi, tetapi lambat memahami; gemar berkomentar, tetapi jarang mendengar; rajin menilai, namun malas merasakan.

Dalam ruang seperti ini, kata “sosial” mengalami penyusutan makna. Ia tidak lagi sepenuhnya berarti perjumpaan, kelekatan, dan kepedulian, melainkan sekadar koneksi. Kita terhubung, tetapi tidak selalu terikat. Kita saling melihat, tetapi jarang benar-benar memandang. Bahkan duka pun kini sering hanya menjadi konten: ditangisi dengan emoji, dibagikan dengan caption, lalu tenggelam oleh unggahan berikutnya.

Masalahnya bukan semata teknologi, melainkan cara manusia menyerahkan dirinya pada logika mesin. Algoritma tidak mengenal iba. Ia hanya menghitung klik, durasi tonton, dan potensi viral. Konten yang paling memancing emosi marah, takut, benci akan lebih diutamakan daripada yang menumbuhkan pengertian. Perlahan, empati kalah oleh sensasi, dialog dikalahkan oleh debat, dan kebijaksanaan digeser oleh kecepatan.

Akibatnya, ruang digital sering menjelma seperti pasar malam emosi: bising, gemerlap, tetapi dangkal. Di sana, tragedi bisa menjadi hiburan, konflik menjadi tontonan, dan penderitaan menjadi angka statistik. Kita men-scroll kabar bencana sambil menunggu kopi dingin, membaca berita kemiskinan di sela tawa video lucu, dan membicarakan kematian seolah itu sekadar jeda iklan.

Lebih menyedihkan lagi, keberanian manusia tumbuh justru ketika jarak memanjang. Di balik anonimitas akun dan kaca layar, kata-kata menjadi tajam tanpa rasa bersalah. Ujaran kebencian mudah dilontarkan, fitnah diproduksi massal, dan penghinaan disebar tanpa perlu melihat mata korban. Empati, yang biasanya lahir dari perjumpaan langsung, kehilangan tanah untuk tumbuh.

Padahal, empati bukan sekadar perasaan lembut. Ia adalah fondasi peradaban. Dari empatilah lahir keadilan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Tanpa empati, hukum berubah menjadi alat kuasa, politik menjadi arena tipu daya, dan agama menjadi panggung klaim kebenaran. Ketika empati melemah, yang tersisa hanyalah kerumunan individu yang sibuk membela dirinya sendiri.

Ironisnya, semakin canggih teknologi komunikasi, semakin sering manusia gagal berkomunikasi secara manusiawi. Kita pandai merangkai kalimat, tetapi gagap memahami perasaan. Kita lihai membangun citra, tetapi kikuk memeluk luka orang lain. Dunia digital mengajarkan cara tampil, bukan cara hadir.

Tentu tidak adil menyalahkan internet sepenuhnya. Ruang digital juga menyimpan potensi kebaikan: solidaritas daring, penggalangan dana kemanusiaan, pendidikan terbuka, dan dakwah nilai-nilai kemanusiaan. Namun potensi itu hanya akan hidup jika manusia tetap menjadi pengendali, bukan sekadar pengguna yang pasrah pada arus.

Karena itu, yang mendesak hari ini bukan sekadar literasi digital, melainkan literasi empati. Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum menghakimi, membaca dengan hati sebelum membalas, dan memahami bahwa di balik setiap akun ada manusia dengan ketakutan, harapan, dan luka yang nyata. Empati digital bukan utopia; ia bisa dilatih, dirawat, dan dipraktikkan.

Kita perlu kembali mengingat bahwa menjadi “sosial” bukan soal seberapa banyak pengikut, melainkan seberapa dalam kepedulian. Bukan seberapa cepat mengetik komentar, tetapi seberapa tulus mendengar cerita. Bukan seberapa sering muncul di linimasa, tetapi seberapa bermakna hadir dalam kehidupan orang lain.

Jika tidak, ruang digital hanya akan melahirkan generasi yang ramai di permukaan, tetapi sepi di batin; dekat secara teknologi, namun jauh secara kemanusiaan. Kita akan memiliki dunia yang penuh suara, tetapi miskin makna. Penuh koneksi, tetapi kehilangan kehangatan.

Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi jembatan atau jurang adalah cara manusia menggunakannya. Jika empati terus tersesat di tengah algoritma, maka yang hilang bukan sekadar sopan santun digital, melainkan inti dari menjadi manusia itu sendiri. (*)

***

*) Oleh : Jazuli, S.E. M.E., Pegiat dan Pelaku UMKM. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.