https://malang.times.co.id/
Opini

Ketika Hiburan Tak Lagi Menghibur

Minggu, 11 Januari 2026 - 17:32
Ketika Hiburan Tak Lagi Menghibur Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

TIMES MALANG, MALANG – Raka menatap layar ponselnya seperti menatap akuarium yang airnya keruh. Jarinya terus menggeser video lucu, potongan podcast, potret liburan orang asing, iklan sepatu yang entah kenapa terasa sangat tahu ukuran kakinya. Semuanya lewat, tak satu pun benar-benar singgah. Dulu, layar kecil itu adalah pintu pelarian dari penat. Kini, ia seperti lorong panjang yang ujungnya selalu sama: hampa.

Raka tidak sedang sedih. Ia juga tidak bisa disebut bahagia. Perasaannya menggantung di tengah, seperti lagu yang berhenti sebelum reff. Ia tertawa pada meme, tapi tawanya tipis, cepat menguap. Ia menonton serial sampai larut, tapi bangun dengan kepala berat dan hati kosong. Hiburan digital, yang dulu menjanjikan kesenangan instan, perlahan berubah menjadi permen karet: manis di awal, hambar di kunyahan ke seratus.

Di titik inilah banyak orang terjebak. Kita hidup di zaman ketika hiburan berderet seperti toko 24 jam. Mau tertawa, tinggal klik. Mau lupa masalah, tinggal scroll. Mau merasa ditemani, tinggal nyalakan live streaming orang yang bahkan tidak tahu nama kita. Tapi justru karena terlalu mudah, rasa senang menjadi barang murah. Ia cepat habis, cepat diganti, cepat dilupakan.

Raka mulai sadar ada yang tidak beres ketika ia merasa lebih lelah setelah “bersantai”. Satu malam, ia menghabiskan tiga jam berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, lalu menutup ponsel dengan dada sesak. Bukan karena sedih, melainkan karena pikirannya seperti ruang tunggu yang tak pernah sepi. Iklan, suara, potongan hidup orang lain, semua menumpuk tanpa sempat dipilah.

Ia mencoba mencari nama untuk kelelahan itu, sampai akhirnya menemukan istilah yang terasa tepat: trap mental. Jebakan halus yang membuat seseorang terus mencari hiburan untuk mengusir penat, tetapi justru makin terperosok dalam penat yang baru. Seperti orang kehausan yang minum air laut, semakin diteguk, semakin kering tenggorokannya.

Masalahnya, hiburan digital tidak pernah benar-benar mengajak kita berhenti. Algoritma bekerja seperti penjudi licik, selalu menjanjikan kesenangan berikutnya di satu geser lagi. “Sedikit lagi,” bisiknya. “Video berikutnya lebih lucu.” “Postingan berikutnya lebih seru.” Dan kita, tanpa sadar, menjadi penambang waktu bagi mesin raksasa yang tidak pernah tidur.

Perlahan, otak kita dilatih untuk tidak betah pada sunyi. Diam terasa canggung. Menunggu terasa menyiksa. Membaca satu halaman buku terasa terlalu lambat dibanding menonton sepuluh video pendek dalam semenit. 

Padahal, jiwa manusia tidak tumbuh dari potongan-potongan, melainkan dari jeda, dari kebosanan yang memberi ruang berpikir, dari keheningan yang mengizinkan perasaan menemukan namanya sendiri.

Raka mulai mengingat masa kecilnya, ketika hiburan adalah bermain di halaman, memandangi langit sore, atau mengobrol tanpa harus memeriksa notifikasi. Ia tidak merasa hidupnya lebih miskin waktu itu. Justru sebaliknya, hari terasa panjang, tawa terasa penuh, dan lelah terasa jujur.

Ia lalu mencoba terapi paling sederhana: mematikan layar selama satu jam sehari. Hanya satu jam. Pada hari pertama, tangannya gatal seperti pecandu kafein yang dirampas kopinya. Ia mondar-mandir, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. 

Sepuluh menit terasa seperti satu jam. Tapi setelah lewat setengah jam, ada sesuatu yang aneh: pikirannya mulai melambat. Napasnya terasa lebih panjang. Ia mendengar suara jam dinding yang selama ini kalah oleh notifikasi.

Dari situ, Raka belajar bahwa terapi mental di era digital bukan selalu tentang pergi ke gunung atau mengikuti retret mahal. Kadang, ia sesederhana berani bosan. Berani tidak terhibur. Berani menatap dinding dan membiarkan pikiran merapikan dirinya sendiri.

Tentu, hiburan digital tidak sepenuhnya jahat. Ia seperti gula: berguna, menyenangkan, tetapi berbahaya jika menjadi menu utama. Ketika seluruh waktu luang diisi layar, kita kehilangan kesempatan berjumpa dengan diri sendiri. Kita tahu kehidupan banyak orang, tetapi asing dengan isi kepala kita sendiri.

Trap mental ini tidak berisik. Ia datang tanpa sirene, tanpa luka fisik, tanpa tangis dramatis. Ia datang sebagai kelelahan samar, sebagai kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai, sebagai perasaan datar yang sulit dijelaskan. Dan karena tidak berdarah, ia sering diabaikan.

Raka belum sepenuhnya lepas. Ia masih menonton, masih tertawa, masih terseret algoritma pada malam tertentu. Tapi kini ia tahu: hiburan seharusnya menjadi jeda, bukan rumah. Tempat singgah, bukan tempat tinggal.

Barangkali, di zaman ketika layar selalu menawarkan dunia, terapi paling berani adalah sesekali menutupnya, lalu kembali mendengarkan suara yang paling sering kita abaikan: suara hati sendiri.

***

*) Oleh : Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.