https://malang.times.co.id/
Kopi TIMES

Pembiayaan Hybrid dan Arah Baru Hilirisasi Berkelanjutan

Rabu, 31 Desember 2025 - 18:04
Pembiayaan Hybrid dan Arah Baru Hilirisasi Berkelanjutan Hendi Subandi, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

TIMES MALANG, MALANGKeterbatasan Skema Pembiayaan Konvensional

Seiring meningkatnya ambisi hilirisasi, keterbatasan skema pembiayaan konvensional semakin nyata. Project finance, meskipun telah lama menjadi tulang punggung pembiayaan proyek padat modal, memiliki keterbatasan dalam menghadapi risiko jangka panjang yang kompleks.

Perbankan mensyaratkan kontrak offtake yang kuat, kepastian pasokan energi, serta struktur risiko yang ketat. Akibatnya, banyak proyek strategis yang secara makro-ekonomi penting justru tersendat karena tidak sepenuhnya bankable secara komersial.

Pembiayaan perbankan murni juga menghadapi keterbatasan dari sisi tenor dan appetite risiko. Proyek hilirisasi membutuhkan waktu pengembalian investasi yang panjang, sering kali melampaui horizon pembiayaan perbankan domestik. Sementara itu, pasar modal belum sepenuhnya dimanfaatkan pada tahap awal proyek karena tuntutan peringkat kredit dan transparansi yang tinggi.

Dalam konteks inilah, kebutuhan akan pendekatan pembiayaan yang lebih adaptif menjadi semakin mendesak. Tanpa inovasi, potensi investasi ratusan miliar dolar yang diproyeksikan hingga 2040 berisiko tidak terealisasi secara optimal.

Relevansi Skema Pembiayaan Hybrid

Skema pembiayaan hybrid muncul sebagai jawaban atas keterbatasan tersebut. Pendekatan ini mengombinasikan berbagai sumber dana—perbankan, ekuitas, dukungan fiskal pemerintah, pasar modal, serta instrumen pembiayaan alternatif—dalam satu struktur yang terintegrasi. Tujuan utamanya adalah membagi risiko secara lebih proporsional dan menurunkan cost of capital proyek.

Dalam praktiknya, pembiayaan hybrid memungkinkan proyek yang sebelumnya terlalu berisiko menjadi lebih layak dibiayai. Misalnya, pada proyek smelter aluminium yang sangat bergantung pada pasokan listrik, keterlibatan negara atau sovereign fund dapat menurunkan risiko kebijakan dan energi, sehingga bank lebih bersedia masuk. Pada sektor nikel dan baterai EV, kombinasi project finance, equity sponsor strategis, dan sustainable trade finance berbasis ESG dapat meningkatkan kredibilitas proyek di mata investor global.

Lebih dari itu, skema hybrid membuka ruang bagi investor jangka panjang yang tidak semata mengejar keuntungan cepat, tetapi stabilitas dan keberlanjutan. Dana pensiun, sovereign wealth fund, dan development finance institutions memiliki karakteristik yang cocok untuk proyek hilirisasi yang berjangka panjang.

ESG sebagai Pilar Kredibilitas Pembiayaan

Namun, pembiayaan hybrid bukan sekadar soal menggabungkan sumber dana. Kredibilitas proyek tetap menjadi kunci. Dalam beberapa tahun terakhir, prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi bagian integral dari penilaian risiko. Bagi investor dan lembaga keuangan, ESG bukan lagi isu tambahan, melainkan instrumen manajemen risiko.

Proyek hilirisasi yang mengabaikan aspek lingkungan, seperti pengelolaan limbah dan emisi karbon, akan menghadapi biaya pendanaan lebih mahal atau bahkan kehilangan akses ke pembiayaan tertentu. Sebaliknya, proyek yang mampu menunjukkan kepatuhan ESG dan roadmap transisi energi akan memperoleh keunggulan kompetitif berupa biaya modal yang lebih rendah dan akses ke sumber dana global.

Dalam konteks ini, ESG berfungsi sebagai mekanisme seleksi. Ia memaksa pengembang untuk meningkatkan tata kelola dan transparansi, sekaligus mendorong transformasi hilirisasi ke arah yang lebih berkelanjutan.

Peran Negara dan Kepastian Kebijakan

Peran negara tetap krusial dalam ekosistem pembiayaan hybrid. Penetapan proyek hilirisasi sebagai Program Strategis Nasional memberikan sinyal kebijakan yang penting bagi investor. Kepastian regulasi, insentif fiskal yang terukur, dan dukungan terhadap infrastruktur pendukung dapat menurunkan risiko non-ekonomi yang selama ini menjadi hambatan utama.

Namun, peran negara harus dirancang secara hati-hati agar tidak menciptakan ketergantungan berlebihan. Dukungan negara sebaiknya bersifat katalitik, bukan substitutif. Dalam hal ini, entitas seperti Danantara dapat berperan sebagai sovereign wealth partner atau institutional investor jangka panjang, tanpa harus terlibat langsung dalam pengelolaan operasional atau holding industri.

Menuju Hilirisasi yang Berkelanjutan

Pada akhirnya, hilirisasi adalah investasi masa depan. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh kemampuan negara dan pelaku usaha menata model pembiayaan yang adil, adaptif, dan berkelanjutan. Skema pembiayaan hybrid, jika didukung tata kelola yang kuat dan kepastian kebijakan, dapat menjadi fondasi penting bagi transformasi ekonomi nasional.

Lebih dari sekadar instrumen keuangan, pembiayaan hybrid mencerminkan cara pandang baru terhadap pembangunan: bahwa risiko harus dibagi, keberlanjutan harus diintegrasikan, dan nilai tambah harus diciptakan secara inklusif. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, pendekatan inilah yang memungkinkan hilirisasi Indonesia bergerak dari ambisi menuju realisasi yang berkelanjutan. (*)

* Oleh: Hendi Subandi, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : xxx
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.