TIMES MALANG, MALANG – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang terus memperkuat posisinya sebagai kampus vokasi unggulan di bidang pertanian dan peternakan. Melalui Program Studi Agribisnis Peternakan, Polbangtan Malang menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Nasional Penyusunan Kurikulum Kewirausahaan berbasis Outcome Based Education (OBE) yang berlangsung di Ruang Sidang Utama, Kampus I Polbangtan Malang, Jumat (29/08/2025).
Diskusi publik ini melibatkan beragam pemangku kepentingan, mulai dari pejabat Kementerian Pertanian, akademisi lintas perguruan tinggi, asosiasi profesi, lembaga riset, pelaku industri peternakan nasional, perbankan, hingga perwakilan alumni. Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk menghimpun gagasan dan masukan guna memastikan kurikulum yang dirancang benar-benar sesuai dengan dinamika dunia kerja dan tantangan industri agribisnis di era global.
Visi Besar 2030
Sejak berdiri pada 2018, Program Studi Agribisnis Peternakan Polbangtan Malang telah memancang visi ambisius: mencetak lulusan agribisnis ternak pedaging yang kompeten, unggul, dan berdaya saing global pada tahun 2030.
Untuk mencapai target itu, kurikulum tidak hanya dirancang agar lulusan siap menjadi tenaga profesional, tetapi juga diarahkan untuk melahirkan wirausahawan tangguh di sektor agribisnis.
Melalui konsep Kurikulum Tridaya Agribisnis, mahasiswa diperkenalkan pada sinergi antara industry, government, dan business. Proses pembelajaran disusun bertahap: dari pengenalan dasar peternakan dan kewirausahaan di tahun pertama, praktik Teaching Factory bersama mitra industri di tahun kedua, pembentukan start-up di tahun ketiga, hingga menjadi business owner yang siap menghadapi pasar pada tahun keempat.
Kebijakan Nasional dan Tantangan Global
Dalam paparannya, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng., menekankan bahwa peternakan merupakan pilar penting pembangunan bangsa. Selain menjamin ketersediaan protein hewani bergizi, sektor ini juga menjadi motor penggerak ekonomi pedesaan, menjaga plasma nutfah, dan membuka peluang kerja baru.
Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan besar: meningkatnya kebutuhan protein hewani, keterbatasan lahan, ancaman penyakit hewan, hingga isu perubahan iklim.
“Pendidikan tinggi peternakan harus mampu mencetak generasi yang adaptif, inovatif, dan kompetitif. Peternakan tidak semata-mata soal produksi, melainkan menyangkut kualitas generasi bangsa dan keberlanjutan ekosistem,” tegasnya.
Kolaborasi Multi Pihak
FGD ini turut dihadiri perwakilan perusahaan besar seperti PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed, PT Greenfields Indonesia, hingga koperasi dan peternak rakyat. Masukan dari dunia industri diyakini sangat penting agar kurikulum tidak hanya ideal di atas kertas, tetapi benar-benar aplikatif di lapangan.
Direktur Polbangtan Malang, Dr. Setya Budhi Udrayana, S.Pt., M.Si., menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun pendidikan vokasi peternakan.
“Kami ingin lulusan Polbangtan Malang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan industri, masyarakat, bahkan menjadi penggerak ekonomi baru. Pendidikan tidak boleh berjalan sendiri, melainkan sejalan dengan arah kebijakan nasional dan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Menuju Kampus Berdaya Saing Global
Melalui pendekatan OBE, Polbangtan Malang memastikan capaian pembelajaran mahasiswa meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional yang terukur.
Dengan demikian, lulusan tidak hanya siap bekerja di sektor publik maupun swasta, tetapi juga memiliki kapasitas menjadi pengusaha mandiri yang berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja.
Diskusi publik ini akan menghasilkan draft kurikulum baru Program Studi Agribisnis Peternakan yang nantinya diperkuat dengan penandatanganan MoU bersama mitra strategis. (*)
Pewarta | : Rochmat Shobirin |
Editor | : Ferry Agusta Satrio |