SD Negeri di Kabupaten Malang Kekurangan Murid, Kalah Saing dengan MI
TIMES Malang/Kondisi salah satu ruang kelas sekolah dengan murid yang sedikit, SDN 3 Krebet. Dimana satu kelas paling banyak diisi oleh 10 orang. (FOTO: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

SD Negeri di Kabupaten Malang Kekurangan Murid, Kalah Saing dengan MI

Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Malang mengalami kekurangan murid.

TIMES Malang,Kamis 5 Februari 2026, 13:26 WIB
46.5K
A
Achmad Fikyansyah

MALANGFenomena sekolah dasar negeri yang kekurangan murid masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Malang. Salah satunya dialami SD Negeri 3 Krebet, Kecamatan Bululawang, yang saat ini hanya memiliki 43 siswa aktif dari kelas 1 hingga kelas 6.

Berdasarkan data sekolah, jumlah siswa tersebut terdiri dari kelas 1 sebanyak 10 siswa, kelas 2 delapan siswa, kelas 3 enam siswa, kelas 4 lima siswa, kelas 5 empat siswa, dan kelas 6 sepuluh siswa. Dengan jumlah murid tersebut, SDN 3 Krebet Bululawang didukung oleh delapan guru.

Kepala SDN 3 Krebet Bululawang, Lis Farihanah, mengatakan kondisi kekurangan murid ini bukan hal baru. Lis yang sekitar 1,5 tahun menjadi kepala sekolah dissna menyebut jumlah siswa di sekolah tersebut sudah tidak pernah menembus angka 100 dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Pernah 100 itu zaman dulu banget,” ujarnya.

Menurut Lis, salah satu faktor utama minimnya jumlah siswa adalah ketatnya persaingan antar lembaga pendidikan, khususnya dengan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di sekitar sekolah.

“Dalam radius kurang lebih satu kilometer, sekolah kami dikelilingi empat Madrasah Ibtidaiyah,” kata Lis.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dari sisi kualitas pendidikan, SDN 3 Krebet Bululawang tidak kalah bersaing. Hal tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari hasil seleksi masuk Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN).

“Kalau secara kompetisi kualitas sebenarnya kami tidak kalah. Terbukti saat seleksi penerimaan di MTs Negeri, kami selalu lolos. MI yang di sebelah malah tidak lolos,” ungkapnya.

Namun, Lis mengakui bahwa karakter masyarakat sekitar yang religius menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah negeri. Selain itu, strategi promosi MI yang lebih dekat dengan kegiatan keagamaan masyarakat turut memengaruhi pilihan orang tua.

“Kami kalah di karakter masyarakat yang agamis. Promosi MI juga lewat majelis rutin di masyarakat,” jelasnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pihak sekolah melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan memperkuat pembiasaan keagamaan di lingkungan sekolah.

“Pembiasaan pagi kami perbanyak kegiatan keagamaan selama tiga hari. Kemudian ada SPN, dan target kami juga sudah terlampaui,” ujarnya.

Lis menambahkan, kualitas guru juga menjadi kekuatan sekolah. Menurutnya, para pendidik di SDN 3 Krebet Bululawang memiliki kompetensi yang baik serta mampu berinovasi dalam proses pembelajaran.

“Guru-gurunya kompeten, kreatif, dan inovatif. Kami bangga dengan sekolah kami,” katanya.

Selain pembenahan internal, sekolah juga mulai mengoptimalkan media sosial sebagai sarana publikasi kegiatan dan promosi kepada masyarakat. “Publikasi kami lewat media sosial. Di kalangan masyarakat sekitar biasanya lewat WhatsApp, tapi kami juga aktif di Instagram dan TikTok. Setiap pembiasaan kegiatan kami upload di sana,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Achmad Fikyansyah
|
Editor:Tim Redaksi