Cerita Petugas Kesehatan Muhammadiyah Ikut Mengawal Jamaah Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang
TIMES Malang/Relawan kesehatan dari Klinik Muhammadiyah Blimbing yang bertugas memantau kesehatan jamaah Mujahadah Kubro Peringatan 100 Tahun NU di Masjid Jenderal Ahmad Yani Kota Malang. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

Cerita Petugas Kesehatan Muhammadiyah Ikut Mengawal Jamaah Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang

Petugas kesehatan Muhammadiyah dukung Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang, simbol persatuan lintas organisasi Islam dan pelayanan medis bagi jamaah.

TIMES Malang,Sabtu 7 Februari 2026, 19:20 WIB
25K
A
Achmad Fikyansyah

MALANGSuasana kebersamaan lintas organisasi keagamaan terasa kuat dalam pelaksanaan Mujahadah Kubro Peringatan 100 Tahun Nahdlatul Ulama (NU) di Malang. Tak hanya melibatkan unsur pemerintah dan relawan NU, kegiatan ini juga didukung oleh petugas kesehatan dari Muhammadiyah yang turut diterjunkan sebagai pemantau kesehatan jamaah.

Salah satunya adalah Sumiati, petugas kesehatan dari Klinik Muhammadiyah Blimbing, yang jadi relawan kesehatan dan bertugas di Masjid Jenderal Ahmad Yani. Ia menjalankan tugas bersama rekannya, Rona, sejak siang hingga malam hari.

“Kita di sini mulai jam satu siang sampai jam sembilan malam,” ujar Sumiati saat ditemui di lokasi, Sabtu (7/2/2026).

Sumiati menjelaskan, peran tim kesehatan Muhammadiyah difokuskan pada pelayanan medis dasar bagi jamaah yang mengalami keluhan kesehatan selama kegiatan berlangsung.

“Kita dari tim kesehatan, kalau ada pasien dengan keluhan, kita tangani pengobatan. Kalau ada yang perlu rawat luka atau keluhan lain, ya kita tangani semampunya di pos kesehatan,” katanya.

Untuk menunjang pelayanan tersebut, tim kesehatan telah menyiapkan berbagai jenis obat-obatan yang umum dibutuhkan jamaah.

“Kita bawa obat-obatan seperti obat lambung, pusing, demam, anti-hipertensi, vitamin, anti nyeri, dan lainnya,” jelasnya.

Lebih dari sekadar tugas medis, keterlibatan petugas kesehatan Muhammadiyah dalam kegiatan NU ini juga menjadi simbol kuatnya persatuan antarorganisasi Islam di Malang.

“Alhamdulillah, biasanya kalau ada kegiatan NU kita jarang berpartisipasi. Tapi tahun ini Muhammadiyah dan NU bisa bersatu. Sebagai warga Kota Malang dan warga Muhammadiyah, saya merasa senang. Jadi sudah tidak soal organisasi lagi,” ungkap Sumiati.

Ia pun berharap, semangat kebersamaan ini dapat terus terjaga di berbagai kegiatan keagamaan ke depan.

“Harapannya bisa lebih solid dan bersatu. Jadi kalau nanti ada acara besar Muhammadiyah, Banser juga bisa ikut serta membantu pengamanan,” pungkasnya.

Keterlibatan lintas organisasi ini menjadi potret harmonis kehidupan beragama di Malang, sekaligus memperkuat pesan persatuan dalam momentum peringatan 100 Tahun NU. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Achmad Fikyansyah
|
Editor:Tim Redaksi