Membaca Ulang Sejarah: Kota Malang Bukan Kota Banjir
TIMES Malang/DR Reza Hudiyanto saat menjelaskan rumah di pinggiran DAS Brantas Kota Malang yang sempat terkena banjir pada tahun 1924 (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

Membaca Ulang Sejarah: Kota Malang Bukan Kota Banjir

Wawancara eksklusif dengan sejarawan Dr. Reza Hudiyanto mengungkap fakta mengejutkan: Malang tidak mengenal banjir perkotaan sebelum 1950. Peta kolonial, urbanisasi, dan hilangnya jalur air kecil jadi biang kerok.

TIMES Malang,Rabu 18 Februari 2026, 18:07 WIB
1.9K
F
Faizal R Arief

MALANG 

Kota Malang, kota dingin di dataran tinggi, kini tak bisa lagi memungkiri kenyataan pahit: banjir telah menjadi langganan. Jalanan tergenang, arus deras menerjang permukiman, dan warga mulai pasrah. Namun, sebuah penelusuran historis mengungkap tabir yang selama ini tak banyak tersentuh. Bahwa secara ekologis dan perencanaan, kota Malang sejatinya bukanlah wilayah yang rawan banjir.

Lantas, di mana letak kesalahan interpretasi ini? Kapan sebenarnya banjir mulai tercatat dalam sejarah Kota Malang?

Untuk menjawabnya, TIMES Indonesia bersama sejarawan Universitas Negeri Malang, DR Reza Hudiyanto. Di ruang kerjanya, ia mengungkap bahwa data sejarah menunjukkan bahwa sejak 1890 hingga 1950, tidak pernah terjadi banjir di daratan Kota Malang. Berikut petikan wawancara lengkapnya:

article
Sejarawan Universitas Negeri Malang, DR Reza Hudiyanto (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

TIMES Indonesia: Pak Reza, kita ingin memulai dari dasar. Kami sering menemukan banyak warga yang menganggap banjir di Malang sudah terjadi sejak lama, bahkan mungkin sejak zaman dulu. Sebagai sejarawan yang meneliti Malang, bagaimana pandangan Anda?

Reza Hudiyanto: Ini pertanyaan kunci. Selama penelitian disertasi saya, saya mencermati berbagai dokumen, catatan kolonial, dan surat kabar lama. Saya belum pernah menemui catatan tentang banjir di wilayah daratan Kota Malang sebelum tahun 1950. Tidak ada.

TIMES Indonesia: Benar-benar tidak ada? Bahkan di era kolonial yang sudah cukup maju?

Reza Hudiyanto: Tidak ada. Saya ulangi: sebelum 1950, tidak ada catatan banjir di wilayah perkotaan Malang. Ada satu pengecualian, yang saya temukan dalam surat kabar berbahasa Belanda, Het Soerabaiasch Handelsblad, sekitar tahun 1924. Tapi itu bukan banjir kota.

TIMES Indonesia: Lalu banjir apa yang dimaksud dalam koran itu?

Reza Hudiyanto: Itu adalah banjir di daerah aliran Sungai Brantas. Tepatnya di rumah-rumah penduduk yang berada di tepi sungai. Diberitakan bahwa mebel-mebel warga hanyut terbawa arus. Jadi, itu adalah luapan Sungai Brantas, bukan banjir yang merendam permukiman di tengah kota seperti yang kita lihat sekarang. Itu adalah banjir DAS, bukan banjir perkotaan.

TIMES Indonesia: Berarti bisa dibilang, secara historis, Malang bukanlah kota yang akrab dengan banjir?

Reza Hudiyanto: Bukan. Malang itu dataran tinggi. Secara morfologi, ia sangat berbeda dengan kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Semarang, atau Surabaya yang sejak awal memang berada di mulut sungai dan dataran rendah. Banjir di kota-kota itu bisa dibilang adalah siklus alamiah. Tapi di Malang? Tidak.

Membaca Peta 1938, Bagaimana Wajah Kota Malang Doeleo?

TIMES Indonesia: Anda menyebut Peta Malang 1938. Bisa jelaskan apa yang membedakan Malang dulu dan sekarang jika dilihat dari peta itu?

Reza Hudiyanto: (dia menunjukkan peta di laptopnya) Silakan lihat. Ini peta Malang tahun 1938. Hal pertama yang langsung terlihat adalah luas kota yang masih jauh dari sekarang. Warna hijau di peta ini menunjukkan vegetasi. Lihat di pinggiran, semuanya hijau. Bahkan di tengah-tengah perumahan yang ditandai warna cokelat, masih banyak titik-titik hijau di sana-sini.

TIMES Indonesia: Artinya, ruang terbuka hijaunya masih sangat luas?

Reza Hudiyanto: Tepat. Prinsip morfologi kota yang paling berpengaruh terhadap banjir adalah land use atau penggunaan lahan. Semakin banyak lahan terbangun, semakin sedikit resapan air. Di Malang tahun 1938, meskipun sudah ada pembangunan, proporsi ruang hijau masih sangat dominan. Ini salah satu faktor utama mengapa air hujan bisa terserap dengan baik.

TIMES Indonesia: Selain ruang hijau, apa lagi yang membedakan?

Reza Hudiyanto: Kepadatan penduduk. Tahun 1890, ketika Malang belum resmi menjadi kotapraja, penduduknya hanya 12.000 jiwa. Tahun 1905 naik jadi 29.584. Tahun 1920 menjadi 43.000. Tahun 1930 melonjak jadi 86.000, dua kali lipat dalam 10 tahun. Itu pun masih jauh dari angka setelah kemerdekaan.

TIMES Indonesia: Berapa angka setelah 1950?

Reza Hudiyanto: Tahun 1950, penduduk Malang mencapai 235.000 jiwa. Bayangkan, dalam 20 tahun, jumlah penduduk naik hampir tiga kali lipat. Tandon Betek, infrastruktur air minum peninggalan Belanda, dirancang hanya untuk melayani 30.000 jiwa. Dengan 235.000 jiwa, ia harus bekerja berapa kali lipat? Ini menunjukkan tekanan luar biasa terhadap infrastruktur dan lingkungan.

TIMES Indonesia: Jadi, pertambahan penduduk yang eksplosif ini menjadi titik balik?

Reza Hudiyanto: Menurut saya, ya. Urbanisasi besar-besaran setelah kemerdekaan menciptakan kebutuhan ruang yang sangat tinggi. Manusia butuh rumah. Lahan-lahan pertanian di pinggiran kota mulai dikonversi menjadi permukiman. Dan di situlah masalah dimulai.

Saat Sawah Berubah dan Fungsi Air Bergeser

TIMES Indonesia: Bisa jelaskan mekanismenya? Mengapa konversi sawah jadi perumahan bisa menyebabkan banjir?

Reza Hudiyanto: Ini soal perubahan fungsi ruang dan fungsi air. Di masa lalu, sungai dan saluran irigasi adalah apa yang saya sebut "halaman muka". Masyarakat memanfaatkannya untuk mandi, mencuci, mengambil air. Ada tapak-tapak kuno di sungai kecil kawasan Bareng yang kami duga sebagai tempat aktivitas pengambilan air zaman dulu. Air adalah sumber kehidupan yang diambil manfaatnya.

TIMES Indonesia: Lalu setelah sawah berubah jadi perumahan?

Reza Hudiyanto: Sawah itu berfungsi sebagai penampung air alami. Ketika hujan turun, air akan mengalir ke sawah dan meresap ke tanah. Irigasi dan sungai kecil memasok air ke sawah. Nah, ketika sawah ditimbun menjadi perumahan, air itu tidak lagi punya tempat untuk ditampung.

TIMES Indonesia: Ke mana airnya pergi?

Reza Hudiyanto: Di sinilah pergeserannya. Sungai yang tadinya menjadi "halaman muka", yang kita ambil airnya setiap hari, berubah menjadi "halaman belakang". Artinya, air dari atap rumah, dari halaman yang dipaving, dari selokan-selokan, semuanya dibuang ke sungai. Sungai yang tadinya mendapat pasokan air, kini kebanjiran kiriman air dari permukiman. Debit air meningkat drastis. Ketika daya tampung tidak memadai, luapan tak terhindarkan.

TIMES Indonesia: Jadi sungai itu seperti kebanjiran tugas?

Reza Hudiyanto: (dia tertawa) Bisa dibilang begitu. Dia yang dulu memberi ke manusia, sekarang diberi oleh manusia, bahkan dalam jumlah berlebihan. Ini yang saya sebut sebagai hilangnya keseimbangan ekologis.

Belajar dari Sistem Kolonial Belanda

TIMES Indonesia: Kita sering mendengar bahwa Belanda membangun Malang dengan konsep Garden City atau kota taman. Apa benar?

Reza Hudiyanto: Benar. Malang dibangun dengan konsep kota taman. Ini bukan soal mengagungkan kolonial, tapi kita bisa mengambil pelajaran dari pendekatan mereka. Setidaknya ada tiga hal yang mereka terapkan secara disiplin.

TIMES Indonesia: Apa saja?

Reza Hudiyanto: Pertama, pemilihan vegetasi. Di berbagai sudut kota, mereka menanam pohon-pohon berakar kuat seperti asam jawa (orang banyak menyebutnya tamarin) dan mahoni. Pohon-pohon ini mampu menahan air dan menguatkan struktur tanah. Coba lihat, pohon asem itu akarnya kuat, menahan airnya juga kuat.

TIMES Indonesia: Kedua?

Reza Hudiyanto: Sistem drainase atau riolering. Dalam setiap proyek pekerjaan umum, dulu namanya BOW, Burgerlijke Openbare Werken, selalu ada bagian khusus untuk assainering (pembuangan air limbah) dan riolering (saluran air hujan). Riol itu ada standarnya, tidak boleh terlalu kecil. Ada hierarkinya: tersier, sekunder, primer. Dan semuanya dibangun dengan perhitungan matang.

TIMES Indonesia: Dan yang ketiga?

Reza Hudiyanto: Lahan hijau di setiap ruang publik. Ini yang paling penting. Tiap kompleks perumahan harus punya taman. Ada Taman Merbabu, Taman Arjuno, Taman Celaket . Bahkan di sepanjang jalan utama, mereka buat boulevard dengan taman di tengahnya. Jalan Ijen contohnya.

TIMES Indonesia: Boulevard itu fungsinya apa?

Reza Hudiyanto: Menyerap air. Bayangkan, di tengah jalan ada taman, di kanan kirinya ada gorong-gorong dalam. Air hujan yang jatuh di jalan tidak langsung mengalir ke sungai, tapi meresap dulu ke taman atau masuk ke riol. Ini sistem yang terintegrasi.

TIMES Indonesia: Anda sempat menyebut makam sebagai benteng terakhir ruang terbuka hijau. Maksudnya?

Reza Hudiyanto: (sambil tertawa kecil) Ironis, bukan? Di tengah gencarnya pembangunan, makam adalah satu-satunya ruang terbuka hijau yang tidak bisa dikonversi menjadi bangunan. Tapi masalahnya, makam modern sekarang pakai kijing, lantai semen. Air tidak bisa meresap. Makam tradisional yang hanya berupa gundukan tanah dan batu justru lebih ekologis. Jadi, untung ada makam, tapi sayang desainnya tidak ramah air.

Peta Jalur Air yang Terlupakan

TIMES Indonesia: Anda menyebut sesuatu yang menarik: kita terlalu fokus pada peta jalan darat, tapi lupa pada peta jalan air. Bisa jelaskan?

Reza Hudiyanto: Ini krusial. Selama ini, perencanaan kota kita berpatok pada peta jalan, peta permukiman. Kita tahu di mana letak Jalan Ijen, Jalan Semeru, Jalan Kawi. Tapi kita tidak pernah membaca peta air: di mana sungai-sungai kecil, di mana saluran irigasi tadah hujan, di mana kali-kali alami yang sudah ada sebelum kota ini dibangun.

TIMES Indonesia: Dan sungai-sungai kecil itu penting?

Reza Hudiyanto: Sangat penting. Kontributor utama banjir di Malang saat ini justru sungai-sungai kecil dan saluran irigasi itu. Bukan Sungai Brantas. Coba ingat banjir di Jalan Soekarno-Hatta, di Galunggung, di Sigura-Gura. Itu bukan luapan Brantas.

TIMES Indonesia: Lalu dari mana?

Reza Hudiyanto: Dari sungai kecil di kawasan Galunggung. Dari bekas saluran irigasi di Sumbersari. Dulu, di kanan-kiri kampus UIN Sumbersari itu adalah sawah. Ada saluran irigasi yang airnya deras sekali. Pintu-pintu airnya masih ada sampai sekarang, tapi tertutup warung-warung kuliner. Akhirnya, air yang seharusnya mengalir ke sawah, dibelokkan ke kali kecil antara kampung Sumbersari dan kampung seberang makam.

TIMES Indonesia: Jadi alih fungsi lahan juga memutus jalur air?

Reza Hudiyanto: Tepat. Jalur-jalur air kecil itu adalah jaringan hidup. Mereka punya tugas mengalirkan air ke sawah. Ketika sawah hilang, mereka kehilangan tujuan. Tapi air tetap harus mengalir. Kalau tidak diakomodasi, dia akan mencari jalan sendiri. Dan seringkali jalannya adalah permukiman warga.

TIMES Indonesia: Ini yang Anda sebut sebagai "jalan air" yang juga harus dihormati?

Reza Hudiyanto: Ibaratnya begini: air itu punya jalan. Dia punya hak lintas. Kalau Anda membangun rumah di jalannya air, ya risiko diterjang adalah konsekuensinya. Sama seperti orang yang membangun rumah di tengah jalur gajah di Taman Nasional Way Kambas. Gajah itu punya jalur migrasi. Kalau jalurnya tertutup rumah, ya rumah itu yang kena.

Karakter Banjir Kota Malang, Mengapa Cepat Surut Tapi Berbahaya

TIMES Indonesia: Salah satu keunikan banjir Malang adalah cepat surutnya. Biasanya hanya 1-2 jam. Apa penjelasannya?

Reza Hudiyanto: Itu karena kemiringan tanah Malang. Malang berada di dataran tinggi dengan kontur yang relatif miring ke selatan. Air tidak menggenang lama seperti di Jakarta atau Surabaya yang merupakan dataran rendah bekas rawa. Di sana, banjir bisa berhari-hari karena airnya terperangkap.

TIMES Indonesia: Tapi Anda juga menyebut banjir Malang berbahaya. Apa maksudnya?

Reza Hudiyanto: Karena arusnya deras. Karakter banjir Malang adalah banjir bandang skala kecil, bukan banjir genangan. Air datang tiba-tiba dari hulu, dengan kecepatan tinggi, lalu surut. Ini sangat berbahaya karena bisa menyeret orang, terutama anak-anak. Pernah kejadian, anak kecil terseret Kali Metro dan jasadnya ditemukan sampai di Kepanjen. Itu contoh nyata bahaya banjir arus deras.

TIMES Indonesia: Selain menyeret orang, apa dampak lainnya?

Reza Hudiyanto: Merusak aspal. Arus deras itu seperti menyemprot tanah dengan selang bertekanan tinggi. Lapisan aspal bisa terkelupas, jalanan berlubang. Kerusakan infrastruktur itu tidak terlihat langsung, tapi biaya perbaikannya besar.

TIMES Indonesia: Jadi, banjir Malang itu bukan soal lama, tapi soal daya rusak?

Reza Hudiyanto: Betul. Kita tidak bisa membandingkan dengan banjir Jakarta yang merendam rumah sampai atap. Tapi kita juga tidak bisa meremehkan karena arus deras bisa merenggut nyawa dalam hitungan detik.

Malang bukan Kota Banjir

TIMES Indonesia: Setelah semua penjelasan ini, apa kesimpulan Anda tentang banjir Malang?

Reza Hudiyanto: Kesimpulan saya tegas: Malang bukanlah kota banjir. Secara historis, ekologis, dan morfologis, Malang tidak dirancang untuk banjir. Banjir yang terjadi sekarang adalah hasil dari intervensi manusia yang salah.

TIMES Indonesia: Maksudnya?

Reza Hudiyanto: Salah satunya karena urbanisasi tanpa kendali. Kedua, alih fungsi lahan yang masif dari sawah dan ruang hijau menjadi permukiman dan ruko. Ketiga, hilangnya jaringan-jaringan air kecil yang tidak lagi dirawat atau bahkan ditimbun. Keempat, perencanaan kota yang lebih fokus pada jalan darat daripada jalan air.

TIMES Indonesia: Apakah ada data yang mendukung bahwa sebelum 1950 tidak ada banjir?

Reza Hudiyanto: Saya hanya meneliti sampai 1950 untuk disertasi saya. Tapi data Pemkot Malang tahun 1969 juga tidak mencatat banjir signifikan. Saya kira, sampai tahun 1980-an pun, banjir belum menjadi masalah serius. Baru setelah itu, ketika pembangunan perumahan meluas ke pinggiran, masalah mulai muncul.

TIMES Indonesia: Jadi, siapa yang paling bertanggung jawab?

Reza Hudiyanto: Ini tanggung jawab kolektif. Pemerintah harus tegas dalam penegakan aturan tata ruang. Jangan sampai lahan hijau yang seharusnya menjadi kawasan resap air, seperti Taman Beatrix yang sekarang jadi Taman Indrokilo, dikonversi. Pengembang harus taat pada aturan. Masyarakat juga harus sadar bahwa membangun rumah di bantaran sungai itu risiko sendiri.

TIMES Indonesia: Terakhir, apa yang harus dilakukan agar Malang tidak semakin parah?

Reza Hudiyanto: Kembalikan fungsi-fungsi ekologis. Rawat sungai-sungai kecil. Jangan jadikan mereka tempat pembuangan. Buka kembali jalur-jalur air yang tertutup. Perbanyak ruang terbuka hijau. Dan yang paling penting, baca peta air. Hormati hak-hak alam. Karena pada akhirnya, alam akan mengambil jalannya sendiri. Kalau kita tidak mau belajar dari sejarah, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama.

TIMES Indonesia: Pesan untuk warga Kota Malang?

Reza Hudiyanto: Malang ini kota yang indah, sejuk, dan secara historis bersih dari bencana. Jangan sampai kita yang merusaknya sendiri. Ingat, air itu punya jalan. Anda bangun rumah di jalannya air, yo nek keterak yo risiko dewe. Selamatkan Malang sebelum air tak lagi mau bertamu, tapi memaksa masuk dengan cara yang merusak.

Di akhir wawancara, Reza Hudiyanto kembali membentangkan peta 1938. Dengan jarinya, ia menelusuri garis-garis tipis yang mungkin tak terlihat oleh mata awam: jejak-jejak sungai kecil yang dulu menjadi urat nadi kehidupan. Sebagian kini telah hilang, ditimbun beton, atau berubah menjadi selokan kumuh. Tapi air tak pernah benar-benar pergi. Ia terus mencari jalannya.

Pertanyaan besar yang kini menggantung bukan lagi "kapan musim hujan tiba?", melainkan "mampukah para perencana kota dan warganya kembali membaca dan menghormati peta jalur air yang telah ada jauh sebelum kota ini berdiri?"

Sebab, seperti kata Reza, "Air itu punya jalan. Anda bangun rumah di jalannya air, yo nek keterak yo risiko dewe."

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Faizal R Arief
|
Editor:Faizal R Arief