https://malang.times.co.id/
Berita

Menjaga NU Lewat Menulis Sejarah: Pesan Fauzan Alfas untuk Generasi Muda

Senin, 26 Januari 2026 - 06:15
Menjaga NU Lewat Menulis Sejarah: Pesan Fauzan Alfas untuk Generasi Muda Fauzan Alfas saat menjadi narasumber di Forum Pemuda Nahdliyyin Malang Minggu (25/1/2026). (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia).

TIMES MALANG, MALANG – Upaya menjaga Nahdlatul Ulama (NU) agar tetap berpijak pada akar sejarahnya menjadi salah satu sorotan dalam Diskusi Publik “Refleksi Satu Abad NU: Quo Vadis Generasi Muda NU?” yang digelar Forum Pemuda Nahdliyyin Malang Raya di Mifeeng Kopi Tiam, Kota Malang, Minggu malam (25/1/2026).

Dalam forum tersebut, penulis buku Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU, Fauzan Alfas, memaparkan pentingnya dokumentasi sejarah sebagai bagian dari ikhtiar merawat identitas dan arah gerak NU di tengah perubahan zaman.

Diskusi yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB itu berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme. Puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, aktivis kepemudaan, jurnalis, hingga kader muda NU memenuhi ruang diskusi. Beberapa di antaranya tampak mencatat, merekam, dan aktif mengajukan pertanyaan kepada para narasumber.

Fauzan membuka paparannya dengan mengisahkan proses panjang penulisan buku yang mengulas perjalanan NU sejak masa awal berdiri hingga memasuki satu abad usia organisasi.

Forum-Pemuda-Nahdliyyin-Malang.jpg

Ia menjelaskan, dalam penelusuran sejarah tersebut, dirinya menemukan banyak fakta tentang lembaga-lembaga pendidikan, sosial, dan keagamaan yang pada mulanya dirintis oleh tokoh-tokoh NU, namun dalam perkembangannya tidak lagi secara formal berada di bawah struktur NU.

“Banyak lembaga besar hari ini yang orang lupa, dulunya lahir dari rahim NU. Begitu juga dengan banyak pondok pesantren yang sejak awal didirikan oleh kiai-kiai NU,” ujar Fauzan di hadapan peserta diskusi.

Temuan itu, menurutnya, menunjukkan betapa luas dan dalamnya jejak NU dalam membangun peradaban sosial-keagamaan di Indonesia. Tidak hanya dalam urusan dakwah dan pendidikan, tetapi juga dalam pembentukan jaringan sosial masyarakat, penguatan ekonomi umat, hingga kontribusi dalam perjuangan kebangsaan.

Namun, di balik kerja dokumentasi sejarah tersebut, Fauzan mengaku pernah menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman. Ia menyebut, setelah buku-buku sejarah NU yang ia tulis diterbitkan dalam beberapa jilid, justru muncul keraguan dari sebagian pihak terhadap latar belakang ke-NU-annya.

“Ada yang mempertanyakan, saya ini NU atau bukan. Padahal yang saya tulis adalah fakta sejarah, berdasarkan dokumen dan kesaksian banyak pihak,” katanya.

Meski demikian, Fauzan menegaskan bahwa kritik dan keraguan tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus menulis dan mengarsipkan perjalanan NU. 

Baginya, menulis sejarah bukan soal identitas pribadi, melainkan tanggung jawab intelektual untuk menjaga ingatan kolektif organisasi.

Ia menilai, generasi muda NU hari ini hidup di tengah arus informasi yang cepat, tetapi sering kali minim referensi mendalam tentang sejarah organisasinya sendiri.

“Kalau generasi mudanya tidak mengenal sejarah NU, maka mereka akan mudah tercerabut dari nilai-nilai dasar yang dulu diperjuangkan para pendiri,” ujarnya.

Fauzan menekankan bahwa memahami sejarah bukan berarti terjebak romantisme masa lalu, melainkan menjadikannya pijakan untuk melangkah ke depan dengan lebih sadar arah.

Menurutnya, NU lahir dari konteks sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang kompleks. Para muassis tidak hanya memikirkan soal ritual keagamaan, tetapi juga tentang kedaulatan bangsa, kemandirian umat, dan keberlanjutan tradisi pesantren.

“Sejarah NU itu bukan cerita kiai dan santri saja. Di dalamnya ada cerita tentang ekonomi umat, tentang perlawanan terhadap penjajahan, tentang membangun lembaga, dan menjaga tradisi,” katanya.

Ia juga mengaitkan pentingnya penulisan sejarah dengan agenda regenerasi yang kini banyak dibicarakan di tubuh NU. Menurut Fauzan, regenerasi tidak akan kokoh jika tidak disertai pemahaman yang utuh tentang akar perjuangan organisasi.

“Anak muda NU harus tahu, mereka melanjutkan apa. Bukan hanya meneruskan struktur, tapi juga nilai dan visi besar yang diwariskan,” ujarnya.

Dalam suasana diskusi yang cair, beberapa peserta tampak mengangguk ketika Fauzan menyebut bahwa menulis sejarah adalah salah satu bentuk jihad intelektual di era modern.

Di sela-sela paparannya, Fauzan juga mengapresiasi forum diskusi yang digagas anak muda NU Malang Raya. Ia menilai kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan tradisi berpikir kritis dengan semangat kebersamaan khas nahdliyyin.

Diskusi publik tersebut merupakan bagian dari rangkaian refleksi menjelang puncak peringatan satu abad NU kalender Masehi yang akan dipusatkan di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada 7–8 Februari 2026, dengan agenda utama Mujahadah Kubra yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Menutup pemaparannya, Fauzan kembali menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi kompas moral bagi generasi penerus.

“Kalau NU ingin tetap besar dan relevan, maka generasi mudanya harus berani membaca, menulis, dan merawat sejarahnya sendiri,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.