https://malang.times.co.id/
Berita

Dr. Moh Muzakki: Reorientasi dan Regenerasi Kunci NU Tetap Relevan di Abad Kedua

Minggu, 25 Januari 2026 - 23:38
Dr. Moh Muzakki: Reorientasi dan Regenerasi Kunci NU Tetap Relevan di Abad Kedua Dr. Moh. Muzakki saat menjadi narasumber di Forum Pemuda Nahdliyyin Malang Raya, Minggu (25/1/2026). (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia).

TIMES MALANG, MALANG – Di tengah diskusi publik Forum Pemuda Nahdliyyin Malang Raya, suara reflektif datang dari Dr. Moh. Muzakki, pengamat sosial politik Universitas Brawijaya. Bagi akademisi yang lama mengamati dinamika organisasi keagamaan itu, satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama bukan hanya tentang kebesaran sejarah, melainkan tentang keberanian menata ulang arah gerakan.

Ia mengawali pandangannya dengan nada personal. Ada kerinduan yang ia rasakan ketika melihat forum-forum diskusi anak muda NU kembali hidup.

“Saya rindu forum semacam ini. Dulu NU sangat produktif dengan diskusi dan perdebatan gagasan,” ujarnya di hadapan peserta diskusi, Minggu (25/1/2026).

Menurut Muzakki, forum diskusi publik ini menjadi ruang penting untuk melihat NU dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya sebagai organisasi struktural, tetapi sebagai gerakan yang dibentuk oleh kiprah tokoh-tokohnya, oleh gagasan, dan oleh keberanian mengambil sikap dalam berbagai fase sejarah.

Dari sana, ia menegaskan tiga agenda besar yang perlu terus diperjuangkan NU ke depan: reorientasi, refleksi ulang arah gerakan, dan regenerasi kepemimpinan.

Dalam perspektif ekonomi politik, Muzakki menilai NU adalah organisasi dengan potensi yang nyaris tak tertandingi di Indonesia. Jaringan lembaganya luas, basis massanya besar, dan pengaruh sosialnya merata hingga ke pelosok desa.

“Kalau kita lihat, hampir tidak ada sektor yang tidak disentuh NU. Lembaga apa yang tidak ada di NU?” katanya.

Ia mengingatkan, kekuatan itu bukan sesuatu yang baru lahir hari ini. Sejak awal berdiri, NU telah menunjukkan kemampuannya memainkan peran penting dalam sejarah bangsa. 

Diskusi-Publik-Refleksi-Satu-Abad-NU-c.jpg

Resolusi Jihad telah menjadi bukti bagaimana NU masuk ke ruang politik kebangsaan, sementara di sektor ekonomi lahir gerakan para pedagang atau tujjar yang menggerakkan ekonomi umat dari bawah.

Besarnya potensi itu, menurut Muzakki, harus dikelola dengan arah yang jelas. Reorientasi menjadi kata kunci agar NU tidak kehilangan identitas dasarnya sebagai organisasi keagamaan yang berpihak pada umat.

Salah satu contoh yang ia soroti adalah potensi akademik warga NU. Ia mengutip hasil riset Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang yang menemukan bahwa jumlah intelektual NU kini telah melampaui jumlah intelektual Muhammadiyah.

“Hari ini profesor NU banyak, doktor NU banyak,” ujarnya.

Bagi Muzakki, angka itu bukan sekadar statistik, melainkan modal besar untuk menyiapkan generasi pemimpin NU yang tidak hanya kuat secara kultural, tetapi juga matang secara intelektual.

Ia melihat NU sebagai gerakan kerakyatan dengan basis sosial yang jelas: pesantren sebagai pusat kultural, pedagang sebagai kekuatan ekonomi, dan masyarakat desa sebagai fondasi sosial-politik.

Di situlah, menurutnya, potensi akademik harus menemukan relevansinya, yakni untuk memperkuat amaliyah NU yang berakar pada kepentingan rakyat kecil.

Muzakki kemudian mengurai posisi NU dalam tiga ruang politik sekaligus: politik kerakyatan, politik kebangsaan, dan politik kekuasaan.

Pada masa kepemimpinan Gus Dur, ketiganya pernah bertemu dalam satu momentum besar. NU tampil sebagai kekuatan rakyat, masuk ke pusat kekuasaan, namun tetap membawa semangat kebangsaan.

“Itu semua saya konstruksikan dalam semangat politik kebangsaan,” katanya.

Namun ia menegaskan satu garis batas yang tidak boleh kabur: politik di NU harus tetap menjadi alat, bukan tujuan.

“Saya tidak paham kalau ada sahabat NU menjadikan politik sebagai tujuan. Politik itu instrumen,” tegasnya.

Selain potensi politik dan akademik, Muzakki juga menyoroti potensi demografi NU yang sangat besar. Sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif, didominasi generasi Z dan milenial. Dan mayoritas dari mereka, menurutnya, adalah bagian dari keluarga besar NU.

Potensi ini, katanya, harus terus dibicarakan dan dipikirkan secara serius, karena akan menentukan wajah NU puluhan tahun ke depan. “Inilah yang harus kita diskusikan terus-menerus,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan pentingnya reorientasi gerakan NU agar arah langkah organisasi, kader, dan struktur berada dalam satu tarikan napas.

Dalam konteks itu, Muzakki juga menyinggung perubahan orientasi NU di tingkat pusat, termasuk keterlibatan dalam pengelolaan sektor pertambangan. Ia menyebut, dalam sejarah kepemimpinan NU sejak era Mbah Hasyim Asy’ari, tidak pernah ada mandat untuk mengelola tambang.

“Ini bentuk reorientasi besar,” katanya singkat.

Soal regenerasi, Muzakki berbicara dengan nada lebih kritis. Ia menilai NU tidak bisa menggantungkan harapan hanya pada pendidikan formal untuk melahirkan kader masa depan. Disrupsi teknologi berbasis internet telah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, dan berorganisasi.

Perubahan itu turut menggeser orientasi anak muda NU, dari dunia informal dan nonformal ke sektor formal seperti birokrasi dan institusi negara.

Ia tidak mempersoalkan diaspora kader ke berbagai bidang, karena NU memang rumah besar. Namun, ia mengingatkan adanya gejala “kemacetan generasi”, ketika kader muda sulit naik karena struktur masih dipenuhi senior.

“Antriannya panjang,” ujarnya.

Fenomena itu, menurut Muzakki, terjadi karena besarnya sumber daya manusia NU, sehingga kader-kadernya tersebar dan dikelola di berbagai tempat.

Karena itu, regenerasi tidak boleh dibiarkan berjalan alami tanpa arah, melainkan harus didorong secara sadar dan sistematis.

Di akhir pernyataannya, Muzakki kembali menegaskan pesan pokoknya: NU boleh besar secara jumlah, luas secara jaringan, dan kuat secara politik, tetapi hanya akan tetap bermakna jika mampu menjaga orientasi gerakan dan memberi ruang bagi generasi baru untuk tumbuh. (*)

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.