https://malang.times.co.id/
Opini

Bahagia Bersama Ramadan

Minggu, 25 Januari 2026 - 19:23
Bahagia Bersama Ramadan Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMES MALANG, MALANG – Ramadan selalu datang seperti tamu lama yang tak pernah lupa alamat. Ia mengetuk pintu hati dengan tangan yang lembut, membawa koper berisi rindu, sabar, dan janji-janji perbaikan diri.

Di tengah bising dunia yang dipenuhi notifikasi, cicilan, dan kemacetan pikiran, bulan ini hadir seperti tombol “pause” yang memberi kita kesempatan menarik napas panjang, lalu mengingat kembali siapa diri kita sebenarnya.

Menjelang Ramadan, suasana berubah pelan-pelan. Warung mulai menata jadwal sahur, masjid memeriksa pengeras suara, dan grup keluarga mendadak ramai seperti pasar tiban. Kalender bukan sekadar penanda hari, melainkan alarm batin bahwa sebentar lagi jiwa akan diajak diet dari amarah, iri, dan keserakahan. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi menata ulang rak-rak hati yang selama setahun berantakan oleh ambisi dan kecewa.

Bahagia bersama Ramadan bukan berarti hidup tiba-tiba bebas masalah. Harga kebutuhan tetap naik, pekerjaan tetap menumpuk, dan berita buruk masih lalu-lalang seperti iklan tak diundang. Namun, Ramadan mengajari kita cara tertawa di tengah keterbatasan, seperti lilin kecil yang tak mengusir gelap, tapi cukup memberi cahaya agar kita tidak tersandung oleh diri sendiri. Bahagianya sederhana: berbuka dengan teh hangat, tertawa bersama keluarga, atau sekadar berhasil menahan diri dari membalas pesan yang menyakitkan.

Di bulan ini, meja makan berubah menjadi meja perundingan batin. Kita berdamai dengan perut, bernegosiasi dengan ego, dan menandatangani kontrak damai dengan kesabaran. Setiap azan magrib terdengar seperti pengumuman kemenangan kecil: kita masih mampu mengalahkan diri sendiri, musuh paling licik yang sering bersembunyi di balik dalih logis.

Ramadan juga memendarkan kebahagiaan kolektif. Orang-orang yang jarang tersenyum mendadak ringan wajahnya. Tetangga yang biasanya sekadar anggukan kini berbagi takjil seperti berbagi kabar baik. 

Masjid bukan hanya rumah ibadah, tetapi ruang tamu sosial tempat doa bertabrakan dengan tawa anak-anak. Bahkan jalanan sore hari yang macet pun terasa seperti parade kesabaran nasional, di mana semua orang berlomba pulang membawa harap.

Di sisi lain, Ramadan menelanjangi kita dengan cara yang santun. Ia membuka cermin besar di ruang hati: siapa kita ketika lapar, ketika lelah, ketika tidak dilihat kamera. Apakah kita tetap ramah, atau berubah menjadi api kecil yang mudah menyulut pertengkaran? Dari situ, kebahagiaan tumbuh bukan dari kesempurnaan, melainkan dari kesadaran bahwa kita masih perlu belajar menjadi manusia yang lebih utuh.

Bahagia bersama Ramadan juga berarti berdamai dengan masa lalu. Tahun lalu mungkin kita melewati bulan ini dengan setengah hati: salat bolong-bolong, emosi mudah bocor, dan doa sekadar formalitas. Namun Ramadan selalu pemaaf, seperti ibu yang membuka pintu meski anaknya pulang larut dengan wajah berantakan. Ia tidak menghakimi, hanya menawarkan kesempatan baru: mulai lagi, pelan-pelan.

Bagi yang hidup pas-pasan, Ramadan adalah sekolah keikhlasan tingkat lanjut. Mereka berbuka dengan lauk sederhana, tetapi doa mereka sering lebih kenyang daripada meja-meja mewah. Di sana kita belajar bahwa bahagia tidak selalu berbentuk hidangan mahal, melainkan rasa cukup yang lahir dari hati yang tidak iri. Di sudut-sudut kota, tangan-tangan kecil menadah takjil, dan dari situ kita diingatkan bahwa berbagi adalah bahasa paling fasih untuk menyebut kebahagiaan.

Ramadan juga menertawakan kesombongan kita secara halus. Di hadapan rasa lapar, jabatan menjadi ringan, popularitas kehilangan suara, dan kekuasaan hanya tinggal kartu nama. 

Semua kembali setara: manusia yang menunggu matahari tenggelam sambil menahan ego agar tidak ikut berbuka lebih dulu. Di situ, bahagia terasa demokratis, tidak memilih rekening atau pangkat.

Menyambut Ramadan seharusnya seperti menyiapkan rumah untuk tamu istimewa. Membersihkan niat, merapikan jadwal ibadah, dan menyingkirkan debu dendam yang lama bersarang. Tidak perlu mewah, cukup jujur. Karena Ramadan tidak mencari manusia sempurna, hanya manusia yang mau mencoba menjadi lebih baik, meski tertatih.

Ketika bulan ini benar-benar tiba, semoga kita tidak hanya rajin menyalakan lampu masjid, tetapi juga lampu empati. Tidak hanya sibuk menghitung pahala, tetapi juga mengurangi luka sesama. Sebab kebahagiaan Ramadan bukan hanya tentang hubungan vertikal yang khusyuk, tetapi juga hubungan horizontal yang hangat.

Bahagia bersama Ramadan adalah tentang pulang. Pulang dari hiruk-pikuk dunia menuju sunyi yang menenangkan. Pulang dari kebiasaan menyalahkan orang lain menuju keberanian mengoreksi diri. Pulang menjadi manusia yang lebih sabar, lebih ringan memaafkan, dan lebih pelit menyakiti.

Jika setelah Ramadan kita sedikit lebih ramah, sedikit lebih jujur, dan sedikit lebih peduli, maka kebahagiaan itu tidak akan berakhir saat takbir dikumandangkan. Ia akan tinggal sebagai kebiasaan baru: hidup dengan hati yang tidak selalu kenyang, tetapi selalu cukup.

 

***

*) Oleh : Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.