https://malang.times.co.id/
Opini

Guru Pemberi Jas

Minggu, 25 Januari 2026 - 17:26
Guru Pemberi Jas Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

TIMES MALANG, MALANG – Di antara hiruk-pikuk dunia yang memuja gelar dan jabatan, ada satu profesi yang sering berdiri di pinggir panggung, tetapi sesungguhnya menulis seluruh naskah pertunjukan: guru.

Ia jarang disorot kamera, namanya jarang terpampang di baliho, tetapi jejaknya berjalan jauh di belakang setiap pemimpin, pengusaha, hakim, dokter, bahkan politisi yang pandai berdebat di layar kaca. Guru adalah pemberi jas bukan jas kain yang dipakai di acara resmi, melainkan jas tak kasatmata bernama arah hidup.

Jas itu tidak dijahit di butik, tidak diukur dengan pita meteran, dan tidak dibeli dengan kartu kredit. Ia dirajut dari kesabaran, disulam dengan ketelatenan, dan dikancingkan dengan ketulusan. 

Guru memakaikan jas itu diam-diam, sering tanpa ucapan terima kasih, bahkan kadang tanpa disadari oleh yang mengenakannya. Namun kelak, jas itulah yang membuat seseorang pantas berdiri di podium, layak duduk di kursi keputusan, dan mampu berjalan tanpa tersesat di hutan kehidupan.

Seorang murid datang ke sekolah seperti kertas kosong yang mudah kusut oleh hujan zaman. Guru tidak hanya mengajarkan cara menulis, tetapi juga bagaimana agar kertas itu tidak sobek ketika dilipat oleh keadaan. Ia mengajari huruf, tetapi lebih dari itu, ia mengajarkan makna. Ia menurunkan rumus, tetapi sekaligus menanamkan nurani. Ia membetulkan jawaban, sambil diam-diam membetulkan arah.

Tak sedikit pemimpin lahir bukan dari keluarga berpengaruh, melainkan dari bangku kayu yang catnya mengelupas. Dari kelas yang atapnya bocor. Dari guru yang gajinya sering lebih tipis dari buku absen. Namun dari mulut guru itulah keluar kalimat sederhana yang mengubah takdir: “Kamu bisa.” Dua kata yang lebih kuat dari seribu seminar motivasi.

Guru adalah penunjuk jalan di persimpangan sunyi. Saat murid bingung memilih, dunia menawarkan seribu pintu: kekuasaan, uang, popularitas, atau sekadar aman. Guru tidak memaksa masuk ke salah satu pintu, tetapi menyalakan lampu agar murid melihat mana jalan yang berujung terang dan mana yang berakhir jurang. Ia bukan sopir kehidupan, melainkan penunjuk rambu.

Di zaman ketika sukses sering diukur dari saldo dan jumlah pengikut media sosial, guru datang membawa ukuran yang lebih sunyi: karakter. Ia mengajarkan bahwa kepandaian tanpa kejujuran hanya akan melahirkan pencuri berdasi. 

Bahwa kecerdasan tanpa empati hanya menciptakan mesin hidup yang dingin. Guru menanamkan rem di kaki ambisi, agar murid tidak menabrak manusia lain demi sampai lebih dulu.

Ironisnya, di negeri yang bangga mencetak pejabat, guru sering lupa dicatat sebagai pencetaknya. Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa sebuah gelar yang terdengar mulia, tetapi sekaligus menyedihkan. Seolah pengabdian memang harus dibayar dengan kesederhanaan yang panjang, dan pengaruh besar harus diterima dengan nasib kecil.

Padahal, di setiap jas kebesaran yang dipakai pejabat, ada benang guru yang tersembunyi. Di setiap pidato pemimpin, ada kosakata yang pernah diajarkan di papan tulis. Di setiap keputusan penting, ada logika yang dulu diasah lewat soal-soal sederhana. Guru tidak berdiri di tengah sorotan, tetapi bayangannya memanjang ke mana-mana.

Guru pemberi jas tidak memilih muridnya akan menjadi apa. Ia hanya memastikan siapa pun kelak, tetap menjadi manusia. Ia tidak mencetak keseragaman, tetapi menumbuhkan keberanian menjadi diri sendiri. 

Di kelas kecil itu, ia merawat benih yang kelak tumbuh menjadi pohon sebagian menjulang tinggi, sebagian berbuah rindang, sebagian hanya cukup menjadi peneduh keluarga. Semuanya bermakna.

Di tengah zaman yang gemar mempercepat segalanya, guru adalah penjaga proses. Ia tahu bahwa manusia tidak bisa dipanggang seperti roti instan. Karakter perlu waktu, kesalahan perlu ruang, dan kedewasaan tidak bisa diunduh seperti aplikasi. Guru sabar menunggu muridnya matang, meski dunia sering mendesak agar semua cepat jadi.

Maka jika hari ini kita melihat pemimpin yang berjalan tegak, pejabat yang bersuara tenang, atau warga yang memilih jujur meski sulit, jangan lupa: mungkin mereka sedang mengenakan jas yang dijahit puluhan tahun lalu oleh seorang guru yang namanya tidak kita kenal.

Guru tidak meminta dikenang, tetapi pantas diingat. Ia tidak mengejar tepuk tangan, tetapi menanam masa depan. Ia bukan pemilik panggung, tetapi perancang jalan. Dan selama masih ada guru yang setia memberi jas arah hidup, bangsa ini betapapun terseok tidak akan benar-benar telanjang di hadapan masa depan. (*)

***

*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.