https://malang.times.co.id/
Berita

Terungkap, Gajala Wabah Kongo yang Menewaskan 50 Orang, Haus dan Menangis Terus Menerus.

Kamis, 27 Februari 2025 - 09:49
Terungkap, Gajala Wabah Kongo yang Menewaskan 50 Orang, Haus dan Menangis Terus Menerus. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO memperingatkan, tindakan mendesak diperlukan untuk mempercepat investigasi laboratorium. (FOTO: Daily Mail/Getty Image)

TIMES MALANG, JAKARTA – Hingga hari ini sudah 413 orang terinfeksi virus misterius di Republik Demokratik Kongo (DRC), Afrika, dan telah menewaskan 50 orang sebelumnya dalam hitungan jam dengan gejala mulai rasa haus yang hebat, menangis terus menerus hingga pendarahan baik keluar maupun di dalam tubuhnya.

Gejala mengerikan di DRC  yang telah terungkap itu menyebabkan kekhawatiran yang meningkat atas wabah virus misterius baru di Kongo itu.

Wabah ini telah menyebabkan lebih dari 50 orang di DRC telah meninggal dunia, dimana sebagian besar pasien meninggal dunia dalam waktu 48 jam setelah gejala muncul.

Kini, seperti dilansir Daily Mail, menurut catatan pihak kesehatan DRC sebanyak 413 orang dilaporkan telah terinfeksi.

Kasus pertama wabah ini  dilaporkan di kota Boloko pada 21 Januari 2025 lalu, dimana tiga anak di bawah usia lima tahun dilaporkan jatuh sakit setelah memakan bangkai kelelawar.

Dalam sebuah pernyataan, pejabat di negara itu mengatakan, patars pasien itu menderita penyakit seperti pendarahan dengan gejala demam dan muntah, tetapi kemudian mengalami pendarahan dalam yang parah.

Dalam laporan departemen kesehatan setempat, para pejabat menambahkan bahwa tiga kasus pertama, pada anak-anak di bawah usia lima tahun yang dilaporkan memakan kelelawar mati itu juga menderita diare dan kelelahan.

Pasien melaporkan gejala nyeri di leher dan persendian, berkeringat, dan sesak napas.

Pada mereka yang berusia di bawah 59 tahun, rasa haus yang hebat dan pada anak-anak. Juga dilaporkan tangisan yang terus-menerus.

Pejabat setempat menggambarkan wabah itu sebagai 'sangat mengkhawatirkan', sementara para dokter juga menegaskan wabah itu sangat mengkhawatirkan dan sangat penting bagi seluruh dunia.

Tidak jelas apa yang melatarbelakangi wabah ini, dimana para pasien itu hasil tesnya justru negatif untuk demam berdarah seperti Ebola dan virus Marburg .

Tapi sekitar setengah dari para pasien itu dinyatakan positif malaria, mirip dengan wabah terpisah di negara itu yang dilaporkan akhir tahun lalu.  Banyak pasien juga dilaporkan menderita kekurangan gizi.

Seorang imunolog di Universitas Birmingham, Inggris, Dr Zania Stamataki mengatakan  gejala yang ditunjukkan para pasien pada infeksi kali ini berbeda dengan infeksi mengkhawatirkan yang disebabkan oleh malaria parah di DRC pada akhir tahun lalu.

"Waktu dari timbulnya gejala hingga kematian adalah 48 jam. Ini sangat mengkhawatirkan," tegasnya.

Kekhawatiran meningkat karena virus misterius baru ini telah menewaskan 50 orang, dan  dianggap sebagai 'ancaman serius bagi kesehatan masyarakat'.

"Kami tahu bahwa hasil tes pasien negatif terhadap virus demam berdarah seperti Marburg dan Ebola. Patogen penyebab demam berdarah lainnya sedang diselidiki," tambah Zania Stamataki

Tidak jelas pula bagaimana penyakit ini menyebar, meskipun dokter mengatakan bahwa pada kasus-kasus sebelumnya, penyakit hemoragik menyebar melalui kontak dengan cairan dari pasien.

Baik Marburg maupun Ebola  virus hemoragik lainnya tidak menyebar melalui udara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pihaknya juga sedang menyelidiki kemungkinan bahwa wabah itu disebabkan oleh agen beracun, bukan virus atau bakteri. 

Para ilmuwan khawatir bahwa lebih banyak pasien akan teridentifikasi dalam wabah tersebut dalam beberapa hari mendatang.

Marburg sendiri memiliki tingkat kematian hingga 88 persen. Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk mengobati virus tersebut.

WHO  memperingatkan, tindakan mendesak diperlukan untuk mempercepat investigasi laboratorium, meningkatkan manajemen kasus dan kapasitas isolasi, serta memperkuat pengawasan dan komunikasi risiko.

"Lokasi yang terpencil dan infrastruktur perawatan kesehatan yang lemah meningkatkan risiko penyebaran lebih lanjut, sehingga memerlukan intervensi tingkat tinggi segera untuk menahan wabah tersebut," kata WHO.

Seorang peneliti senior kesehatan global di Universitas Southampton di Inggris, Dr Michael Head mengatakan, ada banyak sekali ketidakpastian tentang wabah ini.

"Wabah seperti ini akan terjadi berkali-kali di seluruh dunia dan biasanya bisa dikendalikan dengan relatif cepat," kata dia.

"Namun di sini sangat memprihatinkan bahwa kami memiliki ratusan kasus dan lebih dari 50 kematian, dengan gejala seperti demam berdarah yang dilaporkan secara luas di antara kasus-kasus tersebut," ujarnya.

Ia menambahkan, tes tidak pernah 100 persen akurat, dan kemungkinan besar dengan peningkatan pengujian, akan memiliki patogen yang terkonfirmasi dalam beberapa sampel tersebut.

Kurangnya infrastruktur perawatan kesehatan di DRC membuat respons kesehatan masyarakat menjadi lebih rumit.

Tetapi, negara tersebut baru saja mengalami wabah mpox dan Ebola, sehingga mereka berpengalaman dalam menangani epidemi penyakit menular.

Para ahli telah lama memperingatkan tentang penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia melalui lokasi seperti pasar basah, tempat hewan liar dimakandan menyebutnya sebagai tempat berkembang biak yang ideal bagi patogen.

Hingga saat ini Republik Demokratik Kongo (DRC), Afrika telah mencatat 413 orang telah terinfeksi wabah baru yang menegaskan 50 orang dalam hitungan jam dengan gejala haus yang hebat, menangis terus menerus hingga pendarahan luar dalam. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.