TIMES MALANG, MALANG – style="text-align:justify">Seminggu menjelang penutupan pengisian Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) untuk pendaftaran siswa eligible dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), sekolah dihadapkan pada momentum krusial. Pasalnya, pada tahun-tahun sebelumnya masih ditemukan sekolah yang lalai mengisi PDSS tepat waktu, sehingga banyak siswa harus kehilangan kesempatan mengikuti seleksi sejak awal.
Berdasarkan jadwal yang tertera pada portal resmi snpmb.id, batas akhir pengisian PDSS ditetapkan pada 2 Februari 2026.
SMAN 1 Malang memastikan proses pengisian PDSS berjalan sesuai prosedur dan tidak melewati tenggat waktu. Langkah ini menjadi strategi penting mengingat setiap tahunnya sekolah tersebut meloloskan banyak siswa ke perguruan tinggi melalui jalur SNBP.
Kepala SMAN 1 Malang, Dr. Basuki Agus, menuturkan bahwa sekolah telah menyiapkan seluruh tahapan secara matang dan berbasis data. Pada tahun 2026, SMAN 1 Malang memperoleh kuota SNBP sebesar 40 persen dari total 336 siswa kelas XII, sehingga terdapat 135 siswa yang dinyatakan eligible.
“Siswa eligible ini diseleksi berdasarkan prestasi akademik dari semester satu hingga semester lima. Nilai tersebut diakumulasi dan diranking secara paralel, sehingga siswa peringkat 1 sampai 135 dinyatakan memenuhi syarat,” jelasnya.
Dr. Basuki Agus, kepala sekolah SMA Negeri 1 Malang. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Selain itu, sekolah juga melibatkan wali murid guna memastikan proses berjalan lancar. Pihak sekolah melakukan sosialisasi terkait tugas dan peran masing-masing pihak dalam SNBP. Basuki menegaskan bahwa peran sekolah terbatas pada pengisian PDSS, sementara tahapan selanjutnya menjadi tanggung jawab siswa.
“Oleh karena itu, kami meminta wali murid ikut mengontrol dan memastikan anaknya benar-benar mendaftar,” ujarnya.
Sebagai bentuk pengawasan, setiap siswa yang telah mendaftar diwajibkan melapor dan menunjukkan bukti tangkapan layar pendaftaran. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh kuota dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kita harus memaksimalkan kuota pendaftaran agar tidak ada yang terbuang sia-sia,” tegas Basuki.
SMAN 1 Malang juga melakukan pemetaan jurusan dan perguruan tinggi tujuan siswa berdasarkan data akademik yang dimiliki sekolah, serta dilakukan secara adil dan proporsional. Evaluasi dari tahun sebelumnya turut menjadi dasar perbaikan sistem pemeringkatan.
Pada tahun lalu, pemetaan dilakukan per kelas, namun metode tersebut dinilai memiliki kelemahan karena perbedaan paket mata pelajaran antarkelas. Tahun ini, seluruh paket mata pelajaran disatukan dan diranking secara paralel.
“Sekarang apa pun paket mata pelajarannya, nilainya diranking bersama dari yang tertinggi sampai terendah,” ungkapnya.
Selain itu, sekolah juga menyusun timeline internal agar seluruh tahapan teknis dapat dipersiapkan dengan baik dan meminimalkan risiko keterlambatan maupun prosedur yang terlewat.
Menurut Basuki, keberhasilan SNBP membutuhkan peran semua pihak, mulai dari siswa, guru, hingga wali murid.
“Keterlambatan bisa terjadi karena sekolah kurang mengingatkan atau siswa yang mengabaikan. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama agar proses berjalan lancar,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Imadudin Muhammad |