Tren Ngopi di Malang Diprediksi Bergeser, Mocktail dan Gaya Hidup Olahraga Menguat pada 2026
TIMES Malang/Ilustrasi kafe di Kota Malang. (Foto: Rizky/TIMES Indonesia)

Tren Ngopi di Malang Diprediksi Bergeser, Mocktail dan Gaya Hidup Olahraga Menguat pada 2026

Tren kopi di Kota Malang pada 2026 diprediksi bergeser ke kopi mocktail. Pergeseran ini dipengaruhi gaya hidup sehat dan meningkatnya tren olahraga di kalangan anak muda.

TIMES Malang,Senin 23 Maret 2026, 06:31 WIB
415
R
Rizky Kurniawan Pratama

MALANGTren konsumsi kopi di Kota Malang diperkirakan kembali mengalami pergeseran pada 2026. Jika beberapa tahun terakhir kopi susu dan kebiasaan ngopi pagi menjadi arus utama, tahun ini tren diprediksi mengarah pada kopi mocktail. Selain itu, gaya hidup olahraga juga mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

Pegiat kopi Kota Malang, Dana Helmi, mengatakan perubahan tren tersebut bukan hal baru dalam industri kopi. Menurutnya, perkembangan dunia kopi cenderung bersifat siklik atau berulang, hanya mengalami pembaruan pada cara penyajian dan pendekatan pasar.

“Tren kopi itu sebenarnya selalu berputar. Polanya sama, hanya cara penyajian dan pengembangannya yang terus diperbarui,” ujar Dana saat ditemui, Senin (9/3/2026) lalu.

Ia menjelaskan, dalam satu siklus tren, kopi biasanya bergerak melalui tiga fase utama. Fase pertama adalah kopi seduh manual atau manual brew, seperti kopi tubruk, kopi tiam, hingga V60. Fase kedua adalah kopi campuran atau mocktail, sedangkan fase ketiga merupakan kopi berbasis susu.

Saat ini, menurutnya, fase kopi susu mulai mengalami tekanan seiring perubahan gaya hidup generasi muda yang semakin mengarah pada pola hidup sehat dan aktivitas olahraga. Sementara itu, kopi manual brew juga tidak lagi menjadi primadona karena konsumen mulai mencari alternatif minuman lain.

“Sekarang banyak orang yang tetap bilang ‘ngopi’, tapi pesanannya justru teh atau matcha. Bahkan matcha sedang naik daun,” jelasnya.

Dana memprediksi pada 2026 tren produk kopi akan lebih condong pada kopi campuran atau mocktail. Prediksi tersebut muncul dari pengamatan terhadap riset industri, tren pemasok bahan baku, hingga perubahan perilaku konsumen dalam beberapa tahun terakhir.

Pendekatan mixology dalam industri kopi pun dinilai semakin berkembang. Produk kopi tidak lagi sekadar menonjolkan karakter biji kopi, tetapi juga kombinasi rasa yang lebih beragam.

“Sekarang kedai kopi mulai mengeksplorasi racikan rasa. Bukan hanya soal kopi, tetapi juga bahan seperti butterscotch, sea salt, hazelnut, sampai pistachio yang dikombinasikan dalam minuman,” terangnya.

Di sisi lain, kebiasaan ngopi pagi yang sebelumnya populer diperkirakan mulai berubah bentuk. Tren olahraga yang semakin kuat membuat sebagian konsumen mulai mempertimbangkan asupan minuman yang lebih ramah bagi tubuh.

Menurut Dana, aktivitas pagi hari yang kini populer di kalangan anak muda seperti morning party atau DJ pagi tidak selalu identik dengan konsumsi kopi.

“Pagi-pagi minum kopi kadang dianggap kurang nyaman untuk perut, jadi orang mulai memilih minuman lain,” ujarnya.

Perubahan tersebut membuka peluang bagi produk makanan dan minuman lain yang lebih selaras dengan gaya hidup sehat. Minuman berbasis buah, smoothie, hingga jus segar dinilai berpotensi semakin diminati di tengah tren olahraga.

“Bisa jadi konsumsi bergeser ke minuman sehat seperti smoothie atau jus. Bahkan ke depan mungkin ada inovasi yang menggabungkan jus dengan kopi,” katanya.

Meski demikian, Dana menilai tren kopi pada akhirnya akan terus berputar mengikuti pola lama. Setelah fase kopi mocktail dan gaya hidup olahraga menguat, bukan tidak mungkin tren kembali bergeser ke metode seduh manual atau bentuk lain.

“Sejak sekitar 2015 pola tren kopi sebenarnya berulang. Setelah satu fase jenuh, biasanya akan kembali ke fase sebelumnya dengan konsep yang diperbarui,” pungkasnya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Rizky Kurniawan Pratama
|
Editor:Imadudin Muhammad