https://malang.times.co.id/
Opini

Budaya yang Tersingkir di Tengah Hiruk Pikuk Tren

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:21
Budaya yang Tersingkir di Tengah Hiruk Pikuk Tren Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMES MALANG, MALANG – Kita hidup di zaman ketika sesuatu dianggap bernilai bukan karena maknanya, tetapi karena seberapa cepat ia viral. Apa yang ramai di media sosial seolah otomatis menjadi penting, sementara yang sunyi perlahan dianggap usang. Di titik inilah budaya lokal, tradisi, dan kearifan yang tumbuh pelan-pelan mulai terasing di tanahnya sendiri.

Hari ini, banyak anak muda lebih fasih menyebut istilah dari drama Korea atau slang TikTok daripada nama tarian daerahnya sendiri. Lebih hafal jadwal konser idol luar negeri dibanding kalender adat kampung halaman. Ini bukan semata soal selera, tetapi tentang arah kebudayaan yang sedang kita pilih: mengikuti arus tren global, atau menjaga akar sendiri agar tidak tercabut.

Budaya tren bekerja seperti ombak besar. Datang cepat, menggulung banyak hal, lalu pergi meninggalkan jejak tipis. Musik, gaya berpakaian, cara bicara, bahkan cara berpikir ikut diseragamkan. 

Dalam waktu singkat, dunia terasa semakin mirip satu sama lain. Kafe di Malang, Jakarta, atau Seoul tampak nyaris sama. Cara berpakaian remaja di desa mulai meniru pusat kota. Bahasa daerah diganti dengan campuran istilah asing agar terdengar “kekinian”.

Masalahnya, tren tidak pernah berjanji setia. Ia hanya singgah sebentar, lalu pindah ke hal lain. Sementara budaya lokal menuntut kesabaran, perawatan, dan pewarisan lintas generasi. Ketika perhatian publik lebih sibuk mengejar yang baru, tradisi yang lama kehilangan panggung, kehilangan penutur, bahkan kehilangan rasa percaya diri untuk tetap hidup.

Di banyak daerah, kesenian tradisional kini tampil bukan sebagai kebutuhan sosial, melainkan sebagai tontonan acara seremonial. Ia dipanggil saat festival, difoto, direkam, lalu dilupakan lagi. Anak-anak muda yang ingin belajar sering dianggap aneh, tidak modern, atau “kurang gaul”. Padahal, dari sanalah identitas kolektif seharusnya dirawat.

Ironisnya, ketika budaya lokal mulai sekarat, kita justru sibuk bangga jika unsur tradisi diangkat oleh pihak luar. Ketika batik dipakai desainer internasional, kita baru bertepuk tangan. Ketika lagu daerah di-remix musisi asing, kita merasa diakui. Seolah nilai budaya baru sah jika sudah mendapat stempel global.

Budaya tren juga menciptakan tekanan sosial baru. Orang didorong untuk selalu relevan, selalu mengikuti arus, selalu tampil sesuai selera pasar digital. Akibatnya, banyak yang menyembunyikan identitas lokalnya agar tidak terlihat “ketinggalan zaman”. Bahasa ibu ditinggalkan. Nama lokal diganti nama Barat. Cara berpakaian tradisional disimpan untuk acara resmi saja.

Di titik ini, keterasingan bukan lagi karena penjajahan fisik, melainkan karena standar selera yang dibentuk oleh algoritma. Platform digital menentukan apa yang layak ditonton, apa yang layak dibicarakan, dan apa yang dianggap keren. Budaya yang tidak cocok dengan logika viral pelan-pelan tersingkir ke pinggir layar.

Padahal, budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah cara sebuah masyarakat memahami hidup, mengelola konflik, menghormati alam, dan membangun relasi sosial. Ketika budaya lokal tergerus, yang hilang bukan hanya tarian atau pakaian adat, tetapi juga cara berpikir yang khas, nilai kebersamaan, dan kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman panjang.

Tentu, menolak tren sepenuhnya bukan solusi. Dunia memang bergerak, dan pertukaran budaya adalah hal wajar. Yang berbahaya adalah ketika kita hanya menjadi konsumen tren, tanpa kemampuan menyaring dan menegosiasikan identitas sendiri. Ketika semua yang datang dari luar dianggap lebih baik, sementara yang lahir dari tanah sendiri dipandang remeh.

Yang kita butuhkan bukan nostalgia berlebihan, tetapi keberanian untuk memberi ruang yang adil. Sekolah bisa mengenalkan budaya lokal bukan sebagai pelajaran hafalan, melainkan sebagai pengalaman hidup. Media bisa memberi panggung yang setara antara konten viral dan cerita akar rumput. Pemerintah daerah tidak cukup hanya menjadikan budaya sebagai dekorasi pariwisata, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Anak muda pun punya peran penting. Budaya tidak harus tampil kaku. Ia bisa beradaptasi, dikemas ulang, dipadukan dengan teknologi, tanpa kehilangan ruhnya. Tradisi bisa hidup berdampingan dengan inovasi, asal tidak diperlakukan sebagai barang museum.

Jika tidak, kita akan mewariskan generasi yang tahu segalanya tentang tren global, tetapi gagap saat ditanya tentang asal-usulnya sendiri. Generasi yang fasih meniru, tetapi kehilangan cerita tentang siapa dirinya.

Budaya seharusnya menjadi rumah, bukan kenangan yang dipajang di lemari. Dan tren, seharusnya hanya menjadi tamu, bukan tuan rumah yang mengusir pemiliknya sendiri.

***

*) Oleh : Dr. Kukuh Santoso, M.Pd, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.