TIMES MALANG, MALANG – Di tengah ramainya wacana pendidikan nasional, sekolah dasar sering kali luput dari sorotan. Padahal, di ruang kelas sederhana itulah fondasi masa depan sebuah kota diletakkan.
Di Malang, kota yang dikenal sebagai kota pendidikan, ratusan SD berdiri dengan wajah yang beragam: ada yang modern dan penuh fasilitas, ada pula yang berjuang dengan ruang kelas sempit, perpustakaan seadanya, dan guru yang harus merangkap banyak peran.
Sekolah dasar bukan sekadar tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ia adalah ruang pertama anak mengenal disiplin, empati, kerja sama, dan rasa percaya diri. Cara kita memperlakukan SD hari ini akan menentukan karakter generasi Malang 15 atau 20 tahun ke depan.
Masalahnya, tidak semua SD di Malang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh. Di beberapa wilayah pinggiran kota, masih ditemukan sekolah dengan bangunan tua, halaman sempit, dan akses teknologi yang terbatas.
Sementara di pusat kota, sebagian SD sudah mulai berbicara tentang smart classroom dan pembelajaran digital. Kesenjangan ini pelan-pelan menciptakan jurang awal dalam kualitas pendidikan.
Namun, harapan tidak pernah benar-benar padam. Di banyak sekolah, kita menemukan guru-guru yang mengajar bukan hanya dengan kurikulum, tetapi dengan hati. Mereka membeli spidol dengan uang sendiri, membuat alat peraga sederhana dari kardus bekas, dan menyemangati murid yang datang tanpa sarapan. Mereka adalah pahlawan yang jarang masuk berita, tetapi paling setia menjaga api pendidikan tetap menyala.
Perbaikan sekolah dasar tidak harus selalu dimulai dari proyek besar atau anggaran raksasa. Kadang, perubahan lahir dari hal-hal kecil namun konsisten. Ruang kelas yang bersih dan terang, perpustakaan yang hidup meski bukunya terbatas, halaman sekolah yang ditanami pohon, serta budaya saling menghargai antara guru, siswa, dan orang tua.
Malang memiliki modal sosial yang kuat untuk itu. Banyak kampus, komunitas literasi, relawan pendidikan, hingga alumni sekolah yang sukses di berbagai bidang. Jika semua potensi ini disatukan, SD tidak lagi berjalan sendiri. Sekolah bisa menjadi pusat kolaborasi, bukan hanya institusi formal yang berdiri kaku di balik pagar.
Pemerintah daerah tentu memegang peran penting. Bukan hanya dalam membangun gedung, tetapi memastikan pemerataan kualitas guru, pelatihan berkelanjutan, serta sistem pendampingan bagi sekolah yang tertinggal. Investasi pendidikan dasar seharusnya tidak dilihat sebagai beban anggaran, tetapi sebagai tabungan peradaban.
Di sisi lain, orang tua juga bukan sekadar “pengantar dan penjemput anak”. Mereka adalah mitra utama sekolah. Anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah yang menghargai belajar akan lebih mudah berkembang.
Membacakan cerita sebelum tidur, menanyakan pengalaman di sekolah, atau sekadar mendengarkan keluh kesah anak adalah bentuk pendidikan yang tak tercantum di rapor, tetapi sangat menentukan.
Sekolah dasar yang baik bukan yang mencetak anak paling cepat menghafal, tetapi yang membuat anak berani bertanya, tidak takut salah, dan merasa aman menjadi dirinya sendiri. Di usia itulah rasa ingin tahu harus dirawat, bukan dipatahkan oleh hukuman atau ejekan. SD seharusnya menjadi tempat anak jatuh cinta pada belajar, bukan tempat pertama mereka merasa gagal.
Malang, dengan sejarah panjangnya sebagai kota pelajar, punya tanggung jawab moral untuk memastikan setiap anak mendapatkan awal yang layak. Kota ini tidak hanya membutuhkan gedung tinggi dan destinasi wisata, tetapi generasi yang tumbuh dengan akal sehat, empati, dan keberanian bermimpi.
Bayangkan jika setiap SD di Malang menjadi ruang yang ramah, kreatif, dan penuh harapan. Ruang di mana anak-anak datang bukan dengan rasa takut, tetapi dengan mata berbinar. Ruang di mana guru dihargai, orang tua dilibatkan, dan lingkungan sekitar ikut menjaga.
Perbaikan sekolah dasar memang bukan pekerjaan semalam. Ia membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerja bersama. Tetapi di sanalah letak keindahannya. Kita tidak sedang membangun gedung, melainkan membentuk manusia.
Dan ketika suatu hari nanti Malang dikenal bukan hanya sebagai kota wisata atau kota kuliner, tetapi sebagai kota yang melahirkan generasi jujur, cerdas, dan peduli, kita akan tahu: semua itu berawal dari ruang-ruang kelas kecil di sekolah dasar yang pernah kita rawat bersama.
***
*) Oleh : Jefry Hadi, Guru Pendidikan Agama Islam SDN Polehan 2, Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |