https://malang.times.co.id/
Opini

Nalar yang Tumbuh dari Ruang Inklusif Kampus

Rabu, 14 Januari 2026 - 22:19
Nalar yang Tumbuh dari Ruang Inklusif Kampus Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Kampus bukan sekadar deretan gedung, ruang kelas, atau jadwal kuliah yang padat. Ia adalah ruang sosial tempat nalar dilatih, sikap dibentuk, dan cara memandang dunia dipertajam. Namun, nalar tidak tumbuh di ruang yang kaku dan seragam. Ia justru berkembang ketika perbedaan diberi tempat, ketika suara minor didengar, dan ketika gagasan diuji tanpa rasa takut. Di sanalah ruang inklusif menemukan maknanya.

Nalar pikir yang sehat tidak lahir dari ketundukan membuta, melainkan dari keberanian bertanya. Mahasiswa yang terbiasa berada dalam ruang dialog akan lebih mudah membedakan antara argumen dan opini kosong, antara kritik dan caci maki, antara keyakinan dan fanatisme. Inklusivitas menjadi pupuknya: keberagaman latar belakang, sudut pandang, tradisi berpikir, hingga pengalaman hidup.

Di kampus yang inklusif, perbedaan tidak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bahan belajar. Mahasiswa dari desa, kota, pesantren, sekolah umum, keluarga mapan, maupun ekonomi pas-pasan duduk di bangku yang sama. Mereka membawa cara berpikir yang berbeda. Dari perjumpaan itulah nalar dilatih untuk tidak tergesa-gesa menghakimi.

Ruang inklusif mengajarkan satu hal penting: kebenaran jarang tunggal. Ia sering lahir dari dialog panjang, dari adu argumen yang jujur, dari kesediaan untuk merevisi pendapat sendiri. Di sinilah kampus berbeda dengan ruang propaganda atau ruang gema media sosial, tempat orang hanya mendengar suara yang sejalan dengan pikirannya.

Sayangnya, tidak semua kampus benar-benar menjadi rumah bagi inklusivitas. Ada yang masih memelihara budaya senioritas berlebihan, membungkam kritik, atau memandang perbedaan sebagai gangguan stabilitas. Padahal, stabilitas tanpa kebebasan berpikir hanya akan melahirkan generasi penurut, bukan pemikir.

Nalar yang tumbuh dalam ruang sempit cenderung rapuh. Ia mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah merasa paling benar. Sebaliknya, nalar yang ditempa dalam ruang terbuka akan lebih lentur. Ia tidak panik ketika dikritik, tidak runtuh ketika berbeda, dan tidak merasa terancam oleh keberagaman.

Kampus inklusif bukan berarti tanpa konflik. Justru konflik intelektual adalah tanda kehidupan akademik yang sehat. Perdebatan tentang politik, agama, ekonomi, gender, atau kebijakan publik adalah hal wajar selama berlangsung dengan adab dan argumentasi. Dari situ mahasiswa belajar bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan.

Di ruang seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar mata kuliah, tetapi juga belajar menjadi warga demokratis. Mereka belajar mendengarkan sebelum menyimpulkan, memahami sebelum menilai, dan berdiskusi sebelum memutuskan.

Inklusivitas juga berarti memberi ruang bagi mereka yang sering terpinggirkan: mahasiswa difabel, kelompok minoritas, atau mereka yang tidak vokal. Ketika kampus menyediakan akses, fasilitas, dan rasa aman bagi semua, pesan yang disampaikan jelas: setiap manusia layak dihargai, bukan karena latar belakangnya, tetapi karena kemanusiaannya.

Dari sinilah nalar etik tumbuh berdampingan dengan nalar logis.

Mahasiswa yang terbiasa hidup dalam ruang inklusif akan membawa sikap itu ke masyarakat. Mereka tidak mudah terpancing hoaks, tidak gemar melabeli orang dengan istilah kasar, dan tidak melihat perbedaan sebagai ancaman eksistensial. Mereka lebih memilih berdialog daripada berteriak.

Di tengah iklim publik yang semakin bising, penuh polarisasi, dan miskin empati, lulusan kampus seharusnya menjadi penyejuk. Bukan karena gelarnya, tetapi karena cara berpikirnya.

Kampus memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan itu. Bukan hanya melalui kurikulum, tetapi melalui kultur: bagaimana dosen memperlakukan mahasiswa, bagaimana organisasi mahasiswa berdiskusi, bagaimana kebijakan kampus merespons kritik, dan bagaimana perbedaan disikapi sehari-hari.

Ruang inklusif tidak lahir dari slogan di spanduk orientasi mahasiswa. Ia tumbuh dari praktik kecil: dosen yang mau dikritik, pimpinan yang bersedia mendengar, mahasiswa yang berani berbeda tanpa merendahkan, serta kebijakan yang adil bagi semua.

Ketika kampus gagal menyediakan ruang inklusif, ia bukan hanya gagal mencetak sarjana, tetapi juga gagal menumbuhkan manusia berpikir. Ia mungkin menghasilkan lulusan yang pintar secara teknis, tetapi miskin kebijaksanaan sosial.

Sebaliknya, kampus yang berhasil merawat inklusivitas akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga dewasa. Mereka mampu berdiri teguh pada prinsip, tanpa harus menginjak prinsip orang lain.

Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau besarnya anggaran pendidikan, tetapi oleh kualitas nalar warganya. Dan nalar yang kuat hampir selalu berakar dari satu hal sederhana: ruang aman untuk berbeda.

Jika kampus ingin tetap relevan sebagai pusat peradaban, ia harus terus menjadi rumah bagi keberagaman pikiran. Sebab dari ruang yang inklusif itulah tumbuh nalar yang tidak mudah dibeli, tidak mudah diprovokasi, dan tidak mudah diperalat oleh kepentingan sesaat.

***

*) Oleh : Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.