TIMES MALANG, MALANG – Dalam banyak film Hollywood, Amerika Serikat hampir selalu tampil sebagai pahlawan yang tak terkalahkan. Dari perang dingin hingga perang melawan teror, dari krisis Timur Tengah hingga konflik fiksi di planet antah-berantah, polanya relatif sama: Amerika datang, melihat ancaman, lalu menang. Narasi ini tidak hanya berulang, tetapi dibangun secara sistematis, rapi, dan emosional seolah kemenangan Amerika adalah hukum alam yang tidak perlu dipertanyakan.
Film bukan sekadar hiburan. Ia adalah medium ideologis yang sangat efektif. Melalui layar lebar, suatu bangsa dapat menanamkan cara pandang tertentu kepada dunia tanpa perlu pidato diplomatik atau perjanjian internasional.
Hollywood, sebagai industri budaya terbesar di dunia, telah lama menjadi perpanjangan tangan lunak (soft power) Amerika. Ia membentuk persepsi global tentang siapa yang baik, siapa yang jahat, siapa yang beradab, dan siapa yang pantas dicurigai.
Menariknya, musuh dalam film Amerika sering kali berasal dari spektrum yang relatif sama: kelompok Islam radikal, negara sosialis, organisasi kiri, atau kekuatan ekonomi yang dianggap mengganggu dominasi dolar dan korporasi Barat.
Mereka digambarkan seragam: brutal, irasional, antikemanusiaan, dan tidak bisa diajak dialog. Sebaliknya, Amerika selalu tampil rasional, modern, manusiawi, dan terpaksa menggunakan kekerasan “demi perdamaian”.
Narasi ini membangun logika moral yang berbahaya: bahwa kekerasan menjadi sah jika dilakukan oleh pihak yang mengklaim diri paling bermoral.
Dalam banyak film perang, misalnya, tentara Amerika digambarkan penuh empati, ragu menembak, dan menolong warga sipil. Namun ketika bom dijatuhkan, kamera jarang tinggal lama pada korban sipil.
Penderitaan biasanya disingkat, dilompati, atau dikaburkan. Yang ditonjolkan justru trauma tentara Amerika sendiri seolah penderitaan global harus diukur dari sudut pandang Washington.
Di sinilah konspirasi budaya itu bekerja, bukan dalam arti rahasia gelap penuh pertemuan bawah tanah, melainkan dalam bentuk konsensus industri: bahwa dunia harus dilihat dari perspektif Amerika.
Kelompok Islam, misalnya, sering direduksi menjadi simbol ancaman. Kompleksitas sosial, politik, kemiskinan, kolonialisme, atau konflik sejarah hampir tidak pernah menjadi latar yang utuh. Yang muncul hanya potongan wajah marah, teriakan fanatik, dan senjata otomatis. Akibatnya, penonton global perlahan menerima gagasan bahwa kekerasan di dunia Islam adalah watak, bukan akibat struktur ketidakadilan global.
Hal serupa terjadi pada ideologi kiri dan negara-negara yang menantang kapitalisme liberal. Mereka digambarkan gelap, tertutup, penuh intrik, dan haus kekuasaan. Amerika, sebaliknya, tampil sebagai pembawa demokrasi, meski dalam praktik geopolitik nyata sering mendukung rezim otoriter selama menguntungkan kepentingannya.
Film lalu bekerja seperti mesin pencuci memori kolektif: menghapus sejarah intervensi, kudeta, embargo, dan eksploitasi sumber daya, lalu menggantinya dengan kisah heroik yang sederhana dan emosional.
Masalahnya bukan sekadar bias. Masalahnya adalah dominasi narasi. Karena Hollywood menguasai distribusi global, versi Amerika tentang dunia menjadi referensi utama banyak masyarakat. Negara berkembang menonton konflik dunia melalui sudut kamera yang sama: kamera Amerika.
Akibatnya, simpati publik internasional sering mengalir ke arah yang telah ditentukan skenario. Ketika Amerika menyerang, itu disebut operasi perdamaian. Ketika negara lain melawan, itu disebut terorisme atau agresi. Inilah bentuk kolonialisme baru: kolonialisme imajinasi.
Amerika tidak lagi harus menguasai wilayah secara langsung. Cukup menguasai cerita, simbol, dan emosi global. Ketika pikiran publik dunia sudah percaya bahwa Amerika selalu benar, maka kritik terhadapnya terdengar seperti pembelaan terhadap kejahatan.
Tentu tidak semua film Amerika seperti ini. Ada sineas kritis, ada karya yang jujur, ada film yang membongkar trauma dan kesalahan negaranya sendiri. Namun secara industri, arus besarnya tetap sama: membangun mitos tentang bangsa yang selalu berada di sisi terang sejarah.
Padahal sejarah dunia jauh lebih rumit. Tidak ada negara yang steril dari kepentingan ekonomi, ambisi geopolitik, dan kekerasan struktural. Amerika bukan malaikat, tetapi negara dengan kekuatan besar yang, seperti kekuatan besar lain dalam sejarah, sering menempatkan kepentingannya di atas kemanusiaan universal.
Mengkritik film Amerika bukan berarti membenci Amerika. Ini justru upaya menyehatkan cara kita menonton dunia. Agar kita tidak menelan mentah-mentah cerita yang disajikan dengan efek visual megah dan musik heroik, tetapi miskin kejujuran historis.
Masyarakat global, termasuk kita di Indonesia, perlu belajar menonton secara kritis: bertanya siapa yang bercerita, siapa yang diuntungkan, siapa yang disenyapkan, dan siapa yang dikorbankan.
Sebab jika film terus menjadi alat legitimasi kekuasaan, maka perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di kepala manusia. Dan perang di kepala jauh lebih sulit diakhiri, karena ia dibungkus bukan dengan peluru, melainkan dengan cerita yang tampak indah dan masuk akal.
***
*) Oleh : Andriyady, SP., Penulis dan Pengamat Sosial Politik.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |