Malang – Ekonomi, jika ditanya dengan jujur, sejatinya tidak pernah memiliki jenis kelamin. Ia tidak mengenal suara maskulin atau feminin, tidak membedakan tangan kasar buruh lelaki atau jemari halus perempuan. Ekonomi hanya mengenali kerja, nilai, produktivitas, dan keberlanjutan hidup.
Namun ironi muncul ketika sistem sosial dan kebijakan membuatnya seolah berpihak: lebih ramah pada satu jenis kelamin, lebih keras pada yang lain. Di titik inilah ekonomi berubah dari ruang kesejahteraan menjadi arena ketimpangan yang diwariskan turun-temurun.
Di pasar tradisional, di dapur-dapur produksi UMKM, di sawah, di pabrik rumahan, bahkan di ruang digital, perempuan bekerja tanpa banyak sorotan. Mereka berdagang, memproduksi, mengelola keuangan keluarga, sekaligus memikul beban domestik yang tak pernah masuk neraca PDB.
Kerja yang menopang ekonomi paling dasar ini sering disebut “tambahan”, seolah nafkah utama hanya lahir dari keringat laki-laki. Padahal, tanpa kerja perempuan, banyak rumah tangga akan runtuh sebelum akhir bulan.
Narasi ekonomi kita terlalu lama dibangun dari logika patriarkal: laki-laki bekerja, perempuan membantu; laki-laki produktif, perempuan pelengkap; laki-laki pencari nafkah, perempuan penjaga rumah. Padahal realitas hari ini jauh lebih kompleks.
Banyak perempuan menjadi tulang punggung keluarga, menghidupi anak-anaknya, bahkan menopang ekonomi desa dan kota. Namun sistem belum sepenuhnya berpihak. Upah masih timpang, akses modal masih berat sebelah, dan pengakuan sosial sering kali datang terlambat atau tidak sama sekali.
Ekonomi tak pernah bertanya siapa yang melahirkan dan siapa yang dilahirkan. Ia hanya mencatat siapa yang menghasilkan nilai. Tetapi kebijakan kerap menutup mata. Perempuan pekerja sering dipaksa memilih antara karier dan rahimnya sendiri. Cuti melahirkan dianggap beban, bukan investasi masa depan bangsa.
Jam kerja kaku tak mengenal realitas kerja ganda perempuan: bekerja di ruang publik dan bekerja tanpa upah di ruang domestik. Di sini ekonomi kehilangan nurani, karena ia dioperasikan tanpa keadilan.
Baca juga
Dalam dunia kerja modern, perempuan juga masih harus bekerja dua kali lebih keras untuk diakui setengahnya. Prestasi sering diragukan, keberhasilan dicurigai, dan kepemimpinan dipertanyakan.
Ketika perempuan tegas, ia disebut galak. Ketika ia lembut, ia dianggap lemah. Standar ganda ini membuat ekonomi seolah memiliki bias gender, padahal yang bias adalah cara kita membacanya.
Lebih jauh, ekonomi berbasis digital membuka peluang sekaligus jebakan baru. Platform digital memberi ruang luas bagi perempuan untuk berwirausaha dari rumah, mengelola bisnis, dan menciptakan nilai ekonomi tanpa harus meninggalkan peran domestik sepenuhnya.
Di saat yang sama, perlindungan sosial belum sepenuhnya hadir. Banyak perempuan pekerja digital hidup tanpa jaminan kesehatan, tanpa perlindungan kerja, dan tanpa kepastian masa depan. Ekonomi bergerak cepat, tetapi regulasi tertinggal jauh di belakang.
Jika ekonomi ingin adil, ia harus berangkat dari pengakuan bahwa kerja perawatan mengasuh anak, merawat orang tua, menjaga rumah adalah fondasi produktivitas nasional. Tanpa kerja ini, tenaga kerja tak akan lahir, tak akan sehat, dan tak akan berfungsi optimal. Mengabaikan kerja perawatan berarti membangun ekonomi di atas pasir, rapuh dan mudah runtuh. Sayangnya, kerja ini masih dianggap “kodrat”, bukan kontribusi.
Ekonomi yang sehat seharusnya tidak memaksa perempuan menjadi laki-laki untuk dianggap sukses, dan tidak memaksa laki-laki menanggalkan empati demi disebut produktif. Ia memberi ruang setara bagi setiap warga untuk berkembang sesuai kapasitasnya. Kesetaraan bukan berarti menyeragamkan, melainkan memastikan tak ada yang dipinggirkan hanya karena jenis kelaminnya.
Membangun ekonomi yang tak mengenal jenis kelamin berarti membangun sistem yang adil sejak dari pendidikan, akses modal, perlindungan kerja, hingga pengakuan sosial. Ini bukan soal perempuan melawan laki-laki, tetapi soal keadilan melawan ketimpangan. Soal akal sehat melawan warisan sistem yang usang. Soal masa depan melawan cara berpikir masa lalu.
Baca juga
Ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan atau grafik investasi. Ia adalah cerita tentang siapa yang dihargai dan siapa yang dilupakan. Selama masih ada kerja yang diremehkan hanya karena dilakukan oleh perempuan, selama itu pula ekonomi kita belum benar-benar merdeka. Sebab ekonomi yang adil bukan yang tumbuh paling cepat, melainkan yang tumbuh bersama tanpa menanyakan jenis kelamin tangan yang bekerja. (*)
***
*) Oleh : Jazuli, S.E. M.E., Pegiat dan Pelaku UMKM.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


