Dilema Janji Pendidikan

Dilema Janji Pendidikan

Pendidikan bukan soal gedung megah atau kurikulum berganti-ganti. Pendidikan adalah soal keberpihakan: apakah kita berpihak pada manusia, atau pada sistem yang memudahkan kekuasaan.

TIMESINDONESIA/Hainor Rahman
TIMES Malang,1 Februari 2026, 09:16 WIB
2K
H
Hainor Rahman

MalangPendidikan selalu dipuja sebagai jalan keselamatan bangsa. Ia dielu-elukan dalam pidato, dicetak tebal dalam undang-undang, dan dijadikan jargon di setiap pergantian kekuasaan. Namun di ruang-ruang kelas, pendidikan sering kali terasa seperti ritual rutin yang kehilangan ruh. 

Anak-anak datang membawa mimpi, pulang membawa hafalan. Guru datang membawa idealisme, pulang membawa beban administrasi. Di antara itu semua, kita bertanya pelan-pelan: apakah pendidikan benar-benar sedang mencerdaskan, atau justru sedang menjinakkan?

Sejak lama, pendidikan dipersempit maknanya menjadi urusan nilai, peringkat, dan kelulusan. Raport menjadi kitab suci baru, ujian menjadi penentu nasib, dan ijazah menjelma tiket sosial. 

Kita lupa bahwa pendidikan sejatinya bukan tentang siapa paling cepat menghafal, melainkan siapa paling berani berpikir. Bukan tentang jawaban yang benar, tetapi tentang pertanyaan yang jujur.

Di banyak ruang kelas, murid diajarkan untuk patuh sebelum diajarkan untuk paham. Duduk rapi, diam, dengarkan, catat, ulangi. Sistem ini melahirkan generasi yang lihai mengikuti perintah, tetapi gagap ketika diminta mengambil keputusan. 

Kita pandai meluluskan siswa, tetapi sering gagal melahirkan manusia merdeka. Padahal pendidikan, jika ditarik ke akar katanya, adalah proses memanusiakan manusia.

Guru dalam sistem ini sering terjebak dalam paradoks. Di satu sisi, mereka dituntut menjadi pendidik yang inspiratif, di sisi lain dibebani tumpukan laporan yang mematikan kreativitas. 

Energi habis untuk mengisi format, bukan membentuk watak. Padahal guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan penjaga akal sehat. Ia bukan mesin kurikulum, tetapi penyalur nilai.

Pendidikan yang sehat seharusnya mengajarkan keberanian berpikir, bukan ketakutan berpendapat. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Murid yang kritis dianggap pembangkang, mahasiswa yang bersuara dicap berisik. 

Sekolah dan kampus berubah menjadi ruang steril yang alergi terhadap perbedaan pandangan. Di sinilah pendidikan pelan-pelan kehilangan nyawanya, karena ilmu yang tidak boleh dipertanyakan akan berubah menjadi dogma.

Lebih ironis lagi, pendidikan sering diperlakukan seperti pabrik tenaga kerja. Anak didik diarahkan untuk “siap pakai”, bukan “siap hidup”. Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan pasar, bukan kebutuhan kemanusiaan. Akibatnya, lahirlah generasi yang cakap secara teknis tetapi rapuh secara moral. Pintar berhitung, tetapi bingung bersikap. Pandai bicara, tetapi miskin empati.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang belajar tentang keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu tidak cukup diajarkan lewat buku teks, tetapi harus dihidupkan dalam praktik. Mustahil mengajarkan anti-korupsi jika lingkungan sekolah membiarkan ketidakjujuran kecil. Mustahil menanamkan keadilan jika suara murid selalu dibungkam atas nama ketertiban.

Di sinilah pendidikan seharusnya bersifat membebaskan, seperti yang pernah diimpikan banyak pemikir besar. Pendidikan yang membangunkan kesadaran, bukan membius nalar. 

Pendidikan yang melatih keberanian berkata “tidak” pada ketidakadilan, sekaligus keberanian berkata “ya” pada kebenaran. Pendidikan yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi melahirkan warga negara.

Kita juga perlu jujur mengakui bahwa pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu membawa nilai. Pertanyaannya: nilai siapa yang sedang diajarkan? Apakah pendidikan sedang membela kepentingan publik, atau sekadar melayani kekuasaan? Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk menciptakan kepatuhan tanpa kesadaran, maka ia berubah menjadi alat penjinakan yang halus, rapi, dan sistematis.

Namun harapan belum sepenuhnya padam. Di banyak sudut, masih ada guru yang mengajar dengan hati, sekolah yang merawat nurani, dan ruang belajar yang memerdekakan. 

Mereka mungkin tidak viral, tidak populer, tetapi merekalah lilin-lilin kecil yang menjaga pendidikan tetap bernyala. Dari merekalah kita belajar bahwa pendidikan sejati sering lahir dari keberanian melawan arus.

Pendidikan bukan proyek lima tahunan, melainkan kerja lintas generasi. Hasilnya tidak selalu langsung terlihat, tetapi dampaknya menentukan arah bangsa. Jika hari ini pendidikan kita membiasakan ketakutan, maka besok kita akan memanen kepatuhan buta. Tetapi jika hari ini pendidikan kita menanamkan keberanian berpikir dan kejujuran bersikap, maka di masa depan kita akan memiliki warga yang matang secara moral dan intelektual.

Pendidikan bukan soal gedung megah atau kurikulum berganti-ganti. Pendidikan adalah soal keberpihakan: apakah kita berpihak pada manusia, atau pada sistem yang memudahkan kekuasaan. Selama pendidikan masih berani berdiri di sisi kemanusiaan, harapan tentang masa depan bangsa tidak akan pernah benar-benar padam. (*)

***

*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Tim Redaksi