Pakar Psikologi UB Ingatkan Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Generasi Muda
TIMES Malang/Media sosial juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan mental. (FOTO: Freepik)

Pakar Psikologi UB Ingatkan Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Generasi Muda

Pakar psikologi Universitas Brawijaya mengingatkan bahwa media sosial dapat memicu tekanan sosial pada generasi muda.

TIMES Malang,Senin 16 Maret 2026, 17:15 WIB
181
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGPerkembangan media sosial di era digital membawa berbagai kemudahan dalam berbagi informasi dan berinteraksi. Namun di sisi lain, penggunaan media sosial juga berpotensi memunculkan tekanan sosial yang dapat berdampak pada kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda.

Melalui media sosial, setiap orang dapat menampilkan berbagai pencapaian dalam kehidupannya, mulai dari karier, pendidikan, hingga gaya hidup. Tanpa disadari, kondisi tersebut dapat membentuk standar sosial baru di masyarakat yang kerap memicu perbandingan antarindividu.

Pakar Psikologi dari Universitas Brawijaya, Yuliezar Perwira Dara, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa respons seseorang terhadap pencapaian orang lain di media sosial bisa berbeda-beda. Sebagian orang menjadikannya sebagai motivasi, tetapi tidak sedikit pula yang justru merasa tertekan.

“Ada orang yang melihat pencapaian orang lain sebagai motivasi. Tetapi ada juga yang merasa belum mencapai hal tersebut, sehingga mulai membandingkan dirinya dengan orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan membandingkan diri tersebut dapat memicu penurunan rasa percaya diri hingga menimbulkan kecemasan, terutama jika seseorang terlalu sering mengakses media sosial.

“Semakin sering seseorang terpapar media sosial, potensi munculnya perasaan cemas karena perbandingan sosial juga bisa meningkat,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa generasi muda sebaiknya tidak menjadikan media sosial sebagai tolok ukur keberhasilan hidup. Pasalnya, konten yang ditampilkan di media sosial umumnya hanya memperlihatkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang.

“Kita harus sadar bahwa yang ditampilkan di media sosial biasanya hanya highlight atau bagian terbaik saja,” tambahnya.

Untuk menjaga kesehatan mental, ia menyarankan generasi muda agar lebih fokus pada proses pengembangan diri atau self growth. Perbandingan yang sehat sebaiknya dilakukan dengan diri sendiri di masa lalu, bukan dengan pencapaian orang lain.

Selain itu, memiliki lingkungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung juga menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan mental di tengah arus informasi digital yang semakin cepat.

Pada akhirnya, untuk menghadapi dampak tersebut diperlukan pula regulasi emosi yang baik serta kemampuan untuk berdamai dengan diri sendiri. Hal ini penting karena media sosial berada di luar kendali individu dan tidak selalu dapat disesuaikan dengan harapan pribadi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Imadudin Muhammad