Cerita Sekolah Rakyat di Malang Menjadi Ruang Aman Bagi Siswa
Sekolah Rakyat Malang tidak hanya membuka akses pendidikan gratis, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak-anak korban kemiskinan dan konflik keluarga
MALANG – Sekolah rakyat hadir untuk memudahkan akses pendidikan bagi anak-anak yang berada di lingkungan miskin ekstrem. Dengan melalui pendekatan pembiayaan penuh mulai dari biaya sekolah, asrama, makan, hingga fasilitas belajar mengajar yang disediakan oleh negara.
Lebih dari itu, realitas lapangan menunjukkan bahwa siswa di sekolah rakyat bukan hanya dari kalangan yang kurang secara finansial saja, tetapi mereka yang kurang akan kasih sayang di lingkungan tempat tinggalnya.
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Malang, Rahma Dwi Nor Wita mengungkapkan bahwa tak jarang siswanya menjadikan sekolah rakyat sebagai ruang aman bagi mereka. Mereka banyak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang disfungsional, menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), korban pelecehan, konflik orang tua, dan sebagainya.
Banyak anak di sekolah rakyat menyimpan lukanya masing-masing. Di depan guru dan teman-temannya, ia seakan menjadi anak yang ceria dan tanpa beban, padahal di dalam hatinya ia menyimpan luka masa lalu yang cukup dalam.
“Ada anak yang aktif dan sering membantu pekerjaan, tapi ketika di rumah ia dicap anak malas oleh orang tuanya, ini kan terjadi perbedaan karakter, ada apa di rumah sampai dia merasa tidak nyaman,” tutur perempuan yang kerap disapa Wita tersebut.
Wita juga menambahkan bahwa peran sekolah selain sebagai ruang pendidikan juga harus dapat menjadi jembatan permasalahan antara anak dengan orang tua. Sekolah harus menganalisa permasalahan setiap siswa secara mendalam melalui tim khusus, seperti guru BK, wali asuh, dan wali kelas.
“Ada juga case dimana anak ini susah bangun dan malas sekolah, ternyata setelah kami komunikasikan sama orang tua, dia stress karena mendengar kabar bahwa ibunya abis dipukul oleh ayahnya,” imbuhnya.
Menurut pengakuan Wita, menjelang libur sekolah beberapa anak bahkan izin untuk tidak pulang dan menetap di asrama. Hal tersebut tentunya dipicu oleh permasalahan rumah yang membuat mereka enggan dan takut untuk kembali.
Wita sangat mewajarkan apabila terdapat kenakalan-kenakalan kecil yang dilakukan oleh siswa. Karena baginya, itu adalah bagian dari proses yang akan membuat siswanya mengerti dan belajar dari kesalahan.
Kompleksitas latar belakang yang dialami oleh setiap siswa SRMA 22 Malang membuat Wita terenyuh dan merasa iba. Baginya, siswanya adalah sosok yang menginspirasi karena bisa bertahan dan kuat sejauh ini.
“Saya kalau di posisi mereka belum tentu bisa sekuat itu, mereka anak-anak yang hebat,” ujarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



