Bahaya Gas N₂O di Balik Whipped Cream, Pakar UMM Malang: Sensasi Euforia yang Mengancam Nyawa
TIMES Malang/Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI.,(Foto: UMM Malang)

Bahaya Gas N₂O di Balik Whipped Cream, Pakar UMM Malang: Sensasi Euforia yang Mengancam Nyawa

Gas dinitrogen oksida (N₂O) yang kerap disalahgunakan dari whipped cream berisiko memicu hipoksia, gangguan saraf, hingga kematian mendadak. Dokter anestesi UMM menjelaskan bahayanya.

TIMES Malang,Kamis 5 Februari 2026, 12:21 WIB
53.7K
I
Imadudin Muhammad

MALANGPenggunaan gas dinitrogen oksida (N₂O) di luar kepentingan medis dan kuliner menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap sepele. Dalam dunia kedokteran, gas ini merupakan bagian dari praktik anestesi dengan pengawasan ketat. Namun belakangan, N₂O justru disalahgunakan untuk mendapatkan sensasi euforia sesaat, terutama melalui inhalasi gas dari tabung whipped cream.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa N₂O dikenal sebagai gas tertawa karena kemampuannya memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh. Efek tersebut menimbulkan rasa nyaman, rileks, dan euforia ringan, yang kerap membuat penggunanya merasa aman.

“Padahal sensasi itu justru menutupi risiko fisiologis yang sangat berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif kepada Tim Humas UMM, 2 Februari lalu.

Sebagai dokter anestesi dan terapi intensif di Rumah Sakit UMM, ia menegaskan bahwa dalam praktik medis, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen dan anestesi lain dalam dosis terukur, serta diberikan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien.

Masalah serius muncul ketika N₂O dihirup murni tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan tenaga medis. Sifat N₂O yang mudah berdifusi membuat gas ini cepat memenuhi paru-paru. Saat pemakaian dihentikan, N₂O dapat kembali menumpuk di paru sehingga menghambat masuknya oksigen ke aliran darah.

“Akibatnya terjadi penurunan kadar oksigen secara drastis atau desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini bisa memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi,” jelasnya.

Selain risiko akut, dr. Shonif juga mengingatkan adanya dampak jangka panjang akibat paparan N₂O berulang. Gas ini dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko menyebabkan nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan yang muncul secara perlahan.

Fenomena penyalahgunaan N₂O menunjukkan masih lemahnya literasi kesehatan publik. Gas yang dipersepsikan legal dan aman ini kerap digunakan tanpa pemahaman ilmiah yang memadai, terlebih ketika informasi yang beredar di media sosial minim narasi risiko.

Dr. Shonif menegaskan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit—terutama lebih dari empat menit—dapat berakibat fatal. Oleh karena itu, penggunaan N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat.

Fenomena whip pink pun menjadi peringatan serius bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Imadudin Muhammad
|
Editor:Tim Redaksi