Wujud Toleransi, Gereja Katedral Ijen Malang Tiadakan Misa Saat Gelaran Mujahadah Kubro 1 Abad NU
Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ijen), Kota Malang, menunjukkan sikap toleransi antar umat beragama dengan menyesuaikan jadwal misa selama pelaksanaan Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 7–8 Februari 2026.
MALANG – Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ijen), Kota Malang, menunjukkan sikap toleransi antar umat beragama dengan menyesuaikan jadwal misa selama pelaksanaan Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 7–8 Februari 2026.
Romo Paroki Gereja Katedral Ijen, Romo Petrus Prihatin mengatakan, kebijakan tersebut diambil setelah adanya koordinasi intensif dengan Pemkot Malang melalui pihak kecamatan, terkait penutupan sejumlah ruas jalan di kawasan Ijen.

“Pemkot Malang melalui camat datang ke sini dan berdiskusi dengan kami. Mereka menyampaikan permohonan kerja sama dan toleransi karena ada 12 ruas jalan yang ditutup, termasuk kawasan Ijen,” ujar Romo Petrus, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, secara teknis misa sebenarnya tetap bisa dilaksanakan. Namun, dampak penutupan jalan membuat akses umat menjadi terbatas, terutama terkait jarak parkir dan keharusan berjalan kaki cukup jauh menuju gereja.
“Kalau misa tetap digelar, risikonya umat harus parkir jauh dan jalan kaki jauh. Setelah koordinasi dengan camat, kami juga berdiskusi dengan pengurus gereja dan para uskup untuk meminta pertimbangan,” ungkapnya.
Hasilnya, Gereja Katedral Ijen memutuskan untuk mendukung penuh pelaksanaan Mujahadah Kubro 1 Abad NU dengan meniadakan sebagian besar jadwal misa. Dari biasanya enam kali misa akhir pekan, hanya dua misa yang tetap dilaksanakan, yakni pada Minggu sore dan malam.
“Kami putuskan misa tetap ada, tapi hanya Minggu sore pukul 16.30 WIB dan 18.30 WIB. Karena pada jam itu kegiatan sudah selesai dan kondisi lalu lintas mulai normal,” jelasnya.
Dengan kebijakan tersebut, misa Sabtu pagi dan sore, serta Minggu pagi dan siang, ditiadakan. Pihak gereja juga telah menyampaikan pengumuman kepada umat melalui misa pada akhir pekan sebelumnya, serta disebarluaskan melalui grup-grup umat menggunakan flyer resmi.
“Respon umat sangat baik, mereka menerima keputusan ini. Inilah wujud toleransi yang nyata,” imbuhnya.
Ia juga mengimbau umat yang ingin mengikuti misa pada waktu yang ditiadakan untuk beribadah di gereja lain yang tidak terdampak penutupan jalan, seperti Gereja Tidar, Langsep, Landungsari, maupun Sengkaling.
Selain penyesuaian jadwal ibadah, Gereja Katedral Ijen juga memberikan dukungan fasilitas bagi jemaah Mujahadah Kubro. Area samping gereja akan dibuka sebagai lokasi transit dan tempat istirahat, lengkap dengan fasilitas toilet.
“Bagian samping gereja kami buka untuk transit dan istirahat jemaah. Toilet kami sediakan, ada empat unit. Yang ditutup hanya bagian dalam gereja karena memang tidak ada kegiatan ibadah,” pungkasnya.
Kebijakan tersebut tertuang dalam pengumuman resmi Paroki Gereja Katedral Ijen sehubungan dengan peringatan Harlah ke-100 NU dan penutupan sejumlah ruas jalan di sekitarnya pada 7–8 Februari 2026.
Adapun 12 ruas jalan yang ditutup, diantaranya Jalan Besar ljen, Jalan Retawu, Jalan Wilis, Jalan Pahlawan Trip, Jalan Semeru, Jalan Lawu, Jalan Welirang, Jalan Merapi, Jalan Taman Slamet, Jalan Sumbing, Jalan Guntur dan Jalan Buring.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




