Gus Kikin: Mujahadah Kubro 1 Abad NU Jadi Titik Konsolidasi Warga Nahdliyin Jawa Timur
Mujahadah Kubro 1 Abad NU dimaknai sebagai momentum konsolidasi dan penguatan ukhuwah warga Nahdliyin Jawa Timur di tengah dinamika internal organisasi menjelang peringatan satu abad NU.
MALANG – Mujahadah Kubro 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi dan kebersamaan warga Nahdliyin, khususnya di Jawa Timur. Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pemersatu di tengah berbagai dinamika yang sempat mengiringi perjalanan menuju peringatan satu abad NU.
Gus Kikin mengakui bahwa dinamika internal merupakan hal yang tidak terpisahkan dari perjalanan organisasi besar seperti NU. Namun demikian, ia menegaskan soliditas NU di Jawa Timur tetap terjaga dari tingkat wilayah hingga akar rumput.
“Satu abad NU ini momentum yang sangat monumental. Memang ada dinamika, tapi khusus Jawa Timur kita solid. Ada 45 PCNU dan ke bawah semuanya solid,” ujar Gus Kikin, Kamis (5/2/2026).
Soliditas tersebut, lanjutnya, justru melahirkan inisiatif untuk berkumpul dan menggelar Mujahadah Kubro sebagai sarana refleksi dan perayaan perjalanan NU selama satu abad. Dalam prosesnya, sejumlah agenda PBNU yang juga digelar di Malang akhirnya disatukan dalam satu rangkaian kegiatan.
“Awalnya ada ide untuk berkumpul di sini merayakan satu abad NU. Kebetulan PBNU juga punya agenda di Malang, lalu kita satukan,” jelasnya.
Menurut Gus Kikin, penyatuan agenda tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memiliki makna simbolik sebagai upaya mempererat ukhuwah warga NU. Ia menilai, kebersamaan warga NU di Kota Malang menjadi fondasi penting bagi terbangunnya persatuan yang lebih luas.
“Mudah-mudahan ini bisa menyatukan semuanya, dilandasi kebersamaan masyarakat Malang. Ini menjadi bekal NU untuk terus menyatu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Mujahadah Kubro menjadi medium pemersatu warga NU Jawa Timur, yang sejak lama dikenal memiliki tradisi kuat dalam menjaga persaudaraan dan keguyuban.
“Paling tidak ini menyatukan NU di Jawa Timur. Tradisi NU sejak dulu memang menjaga persatuan dan persaudaraan,” tegasnya.
Gus Kikin juga menilai, dinamika yang muncul justru membuat peringatan Harlah 1 Abad NU semakin bermakna. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperdalam ukhuwah, yang dalam tradisi NU memiliki makna lebih luas daripada sekadar persatuan formal.
“Ini yang menarik. NU sejak dulu membangun persatuan dan ukhuwah. Ukhuwah itu lebih dalam daripada sekadar persatuan,” tuturnya.
Terkait kehadiran pimpinan pusat NU, Gus Kikin menyampaikan bahwa jajaran Rais Aam dan Ketua Umum PBNU diharapkan hadir dalam rangkaian kegiatan Mujahadah Kubro, meski teknis kedatangan menyesuaikan agenda masing-masing.
“Saya tidak tahu datang bersama atau sendiri-sendiri, tapi insyaallah semuanya hadir,” ucapnya.
Selain itu, PWNU dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan turut hadir, bersama sejumlah pejabat tinggi negara, menteri, hingga Presiden RI Prabowo Subianto. Momentum ini juga dimanfaatkan PBNU untuk menggelar rapat koordinasi nasional sebagai bagian dari konsolidasi organisasi.
“PBNU sekalian rapat koordinasi. Semua dimanfaatkan untuk berkumpul,” imbuhnya.
Saat ditanya mengenai islah, Gus Kikin menegaskan bahwa semangat kebersamaan telah menjadi watak dasar NU.
“Kita berkumpul bersama. Masak masih tidak islah. Ini orang-orang yang mestinya paling akrab dan guyub. Itu yang ingin kita tegaskan,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




