TIMES MALANG, MALANG – Kawasan Pemandian Dewi Sri Pujon Kabupaten Malang mulai dinormalisasi hari ini, Jum'at (23/1/2026), setelah terdampak banjir luapan, pada Rabu, 21 Januari 2026 malam.
Akibat luapan air itu, dua kolam renang di kompleks Pemandian Dewi Sri tergenangi air kotor bercampur material banjir berupa lumpur, sampah, kayu dan rumpun bambu.
Selain itu, saluran drainase yang masih berada di kawasan Pemandian Dewi Sri mengalami kerusakan alias jebol, sepanjang 5 meter dan diameter lobang 50 sentimeter.
"Saat kejadian banjir, aliran sungai di belakang pemandian Dewi Sri meluap, karena debit aliran airnya terlalu besar. Tetapi sudah kita bersihkan, terutama yang paling terdampak di kolam anak-anak," terang Dirut Perumda Jasa Yasa, R. Djoni Sujatmiko, dikonfirmasi, Jum'at (23/1/2026) sore.

Pihaknya mentargetkan, normalisasi pembersihan selesai besok untuk semua fasilitas yang terdampak. Diperkirakan, kolam pemandian Dewi Sri sudah bisa dibuka untuk pengunjung Minggu atau Senin pekan depan.
"Lusa baru buka untuk kolam pemandian. Tetapi untuk kawasan pasar wisatanya tetap buka," terang Djoni.
Diberitakan sebelumnya, curah hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Kecamatan Pujon beberapa hari lalu telsh menyebabkan kenaikan debit air pada saluran drainase di Dusun Lebaksari Desa Ngroto Pujon.
Saluran drainase tersebut melintasi kawasan Pemandian Dewi Sri sebelum bermuara di Sungai Konto. Aliran air dengan material yang terbawa banjir luapan, kemudian menyebabkan jebolnya saluran drainase itu, karena tak kuat menahan gorong-gorong yang tersumbat sampah yang terbawa.
Selain menerjang pemandian Dewi Sri, satu warung sekaligus tempat tinggal milik Sutining, warga Dusun Lebaksari RT 30 RW 14, Desa Ngroto, juga terdampak banjir luapan.
Banjir luapan mengenai dinding warung dengan panjang 1,5 meter dan lebar 1,5 meter. Perabotan berupa peralatan dapur dan kulkas milik korban juga hanyut bersama material banjir.
Kepala UPT Pemandian Dewi Sri Pujon, Rudi Hartono menyampaikan, upaya pembersihan sudah mulai dilakukan keesokan harinya setelah terkena luapan air.

Menurutnya, tumpukan sampah dan material bercampur lumpur paling banyak masuk ke dalam kolam anak-anak.
Sedangkan, kondisi drainase atau gorong-gorong sendiri, menurutnya kondisinya sudah perlu perbaikan dan berusia lama. Sehingga, akan beresiko rusak atau jebol saat debit air besar.
"Kurang lebih 50 meter di saluran drainase ini memang butuh perbaikan. Sisanya, sudah pernah dilakukan rehab dan penguatan," terang Rudi.
Pemandian Dewi Sri Pujon diketahui peninggalan Belanda, yang sudah ada sejak tahun 1911 silam. Kemudian, menjadi aset Pemkab Malang yang pengelolaannya diserahkan ke Perumda Jasa Yasa sejak tahun 1973.
Saat ini, di wisata Dewi Sri potensinya tidak hanya kolam renang atau pemandian. Di kawasan ini, juga terdapat pasar wisata atau oleh-oleh, fasilitas rafting, serta untuk outbound dan camping. (*)
| Pewarta | : Khoirul Amin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |