TIMES MALANG, MALANG – Kelanjutan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Malang pada 2026 masih abu-abu atau belum ada kejelasan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang hingga kini masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait realisasi program tersebut.
Plh Kepala DLH Kota Malang, Raymond Gamaliel Hatigoran Matondang mengatakan, PSEL merupakan program pengolahan sampah yang diinisiasi pemerintah pusat dan diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia.
“Masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat. PSEL ini adalah salah satu model pengolahan sampah yang dilakukan pemerintah pusat di berbagai daerah Indonesia,” ujar Raymond, Rabu (21/1/2026).
Raymond mengungkapkan, untuk mendukung operasional PSEL dibutuhkan pasokan sampah minimal 1.500 ton per hari. Sementara produksi sampah di Kota Malang saat ini baru mencapai sekitar 500 ton per hari.
“Dengan kondisi sampah yang masuk ke TPA masih 500 ton, Kota Malang masih memerlukan aglomerasi dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu,” ungkapnya.
Menurut Raymond, Pemerintah Kabupaten Malang dan Kota Batu telah menyatakan kesepakatan untuk memasok sampah ke Kota Malang, khususnya ke TPA Supit Urang. Skema aglomerasi antarwilayah tersebut pun telah disetujui.
Namun, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah penyiapan lahan serta sarana dan prasarana pendukung yang membutuhkan anggaran besar. Salah satunya pembangunan jalan dan jembatan baru untuk menunjang distribusi sampah dari daerah sekitar.
“Saat ini jalur pengiriman hanya lewat Rawisari, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun. Ini perlu ada jalan baru atau jembatan baru,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini jumlah truk pengangkut sampah yang melintas mencapai 150 hingga 180 ritase per hari. Jika volume sampah meningkat hingga 1.500 ton per hari, jumlah tersebut diperkirakan bisa meningkat dua kali lipat atau bahkan lebih.
Selain PSEL, DLH Kota Malang juga menyiapkan alternatif lain dalam pengolahan sampah. Beberapa opsi yang dipertimbangkan antara lain Petasol maupun teknologi yang menghasilkan batu bara sintetis.
“Namun untuk opsi tersebut saat ini masih dalam tahap Feasibility Study,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Rizky Kurniawan Pratama |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |