Gig Economy Kian Diminati Generasi Muda
TIMES Malang/Dekan Fakultas Vokasi UB, M. Kholid Mawardi, S.sos., M.AB., Ph.D ketika memberikan sambutan dalam acara Diseminasi KKN FVUB (5/2/2026).

Gig Economy Kian Diminati Generasi Muda

Tren gig economy dan freelance meningkat pesat di kalangan generasi muda Kota Malang. Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya menyiapkan kurikulum adaptif untuk menjawab tantangan dunia kerja fleksibel berbasis teknologi

TIMES Malang,Kamis 5 Februari 2026, 16:00 WIB
13.6K
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGGig economy atau pasar kerja berbasis proyek jangka pendek kian menjadi pilihan utama generasi muda. Fleksibilitas waktu, kebebasan memilih proyek, serta peluang mengerjakan lebih dari satu pekerjaan sekaligus menjadikan sistem kerja freelance semakin relevan dengan gaya hidup anak muda masa kini.

Model kerja ini dinilai selaras dengan upaya menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Di sisi lain, perusahaan juga memiliki keleluasaan karena tidak dibebani kewajiban ketenagakerjaan penuh sebagaimana pekerja tetap.

Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, menegaskan bahwa tren gig dan freelance economy terus mengalami lonjakan signifikan, khususnya di kawasan Asia.

“Berdasarkan data, terdapat lebih dari 150 juta gig worker yang ada di Asia,” ujarnya dalam orasi ilmiah pada acara Majelis Wali Amanat Dies Natalis Universitas Brawijaya beberapa waktu lalu.

Fenomena tersebut juga tercermin di Kota Malang. Sejumlah praktisi dan pengamat ekonomi digital menyebut Malang sebagai salah satu daerah penghasil freelancer terbesar di Indonesia.

Praktisi digital Theo Derick bahkan pernah mengungkapkan dalam sebuah podcast nasional bahwa ekosistem digital, biaya hidup relatif terjangkau, serta banyaknya institusi pendidikan menjadi faktor pendorong tingginya jumlah pekerja lepas di kota tersebut.

Dekan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (FV UB), M. Kholid Mawardi, S.Sos., M.AB., PhD, menilai perkembangan gig economy merupakan dampak langsung dari kemajuan teknologi. Namun, ia menekankan bahwa menjadi pekerja lepas tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis.

“Selain hard skill dan soft skill, personal branding yang kuat menjadi kunci utama agar freelancer mampu bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Menurut Kholid, Fakultas Vokasi UB telah menyesuaikan kurikulum pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan industri dan dunia kerja masa kini. Mahasiswa didorong untuk kreatif, adaptif, serta memiliki sense of crisis dalam menghadapi dinamika pasar kerja digital.

Dalam aspek personal branding, FV UB juga memberikan pembelajaran khusus yang tidak hanya berorientasi pada individu, tetapi juga pada pengembangan bisnis dan jasa profesional. Hal ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang ingin terjun ke dunia freelance maupun wirausaha digital.

Tak kalah penting, FV UB turut menanamkan skill entrepreneurship kepada mahasiswa. Kemampuan ini dinilai mampu membentuk karakter berani mengambil risiko, tangguh dalam mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

“Mereka kami bekali dengan skill entrepreneurship agar adaptif dan kreatif mengikuti perkembangan zaman, termasuk menghadapi gig economy,” kata Kholid di sela acara Diseminasi KKN FV UB, Rabu (5/2/2026).

Tak hanya itu, FVUB juga menyiapkan strategi-strategi khusus bagi mahasiswa untuk siap mengikuti perkembangan zaman. Saat ini, pembelajaran mereka difokuskan 30 persen teori dan 70 persen praktik lapangan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Tim Redaksi