Sering Terjadi Akibat Gadget dan AC, Dokter RSI Unisma Malang Jelaskan Penyebab Mata Kering
Dokter RSI Unisma jelaskan penyebab mata kering. (FOTO: Freepik)

Sering Terjadi Akibat Gadget dan AC, Dokter RSI Unisma Malang Jelaskan Penyebab Mata Kering

Dokter RSI Unisma Malang menjelaskan penyebab mata kering atau Dry Eye Disease yang sering dipicu penggunaan gadget dan paparan AC.

TIMES Malang,Jumat 20 Maret 2026, 13:25 WIB
128
M
Miranda Lailatul Fitria (MG)

MALANGKeluhan mata kering semakin sering dialami masyarakat seiring meningkatnya penggunaan gadget dan paparan pendingin ruangan. Kondisi yang kerap dianggap sepele ini sebenarnya dapat menjadi tanda awal gangguan kesehatan mata yang dikenal sebagai Dry Eye Disease.

Dokter spesialis mata RSI Unisma Malang, Ahmad Thohir, menjelaskan bahwa mata kering terjadi ketika permukaan mata tidak mendapatkan pelumasan yang cukup dari air mata.

Menurutnya, paparan pendingin ruangan atau AC dalam waktu lama menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemui. Udara kering dari AC dapat mempercepat penguapan air mata sehingga mata terasa kering, sepet, atau seperti ada benda asing.

Selain faktor lingkungan, penggunaan perangkat digital juga berperan besar dalam memicu mata kering. Saat seseorang menatap layar komputer atau ponsel terlalu lama, frekuensi berkedip biasanya menurun drastis.

“Dalam kondisi normal, manusia berkedip sekitar 20 kali per menit. Namun saat fokus menatap layar gadget, frekuensinya bisa turun menjadi sekitar lima hingga tujuh kali per menit,” jelasnya.

Padahal, berkedip berfungsi menyebarkan air mata ke seluruh permukaan mata agar tetap lembap. Jika frekuensi berkedip berkurang, permukaan mata akan lebih cepat mengalami kekeringan.

Dokter Thohir menambahkan, air mata memiliki tiga lapisan penting, yakni lapisan minyak di bagian luar yang berfungsi mencegah penguapan, lapisan air di bagian tengah, serta lapisan mukus yang membantu air mata menempel pada kornea. Jika lapisan tersebut terganggu, kestabilan air mata akan menurun sehingga mata lebih mudah kering.

Gejala mata kering dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mata terasa perih, sepet, sensasi seperti ada benda asing, hingga penglihatan yang terkadang jelas dan terkadang kabur. Mata juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap angin atau paparan AC.

Ia mengingatkan agar keluhan tersebut tidak diabaikan. Jika gejala mata kering berlangsung lebih dari dua minggu atau sering kambuh meskipun sudah menggunakan obat tetes mata, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa kelompok juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami mata kering, seperti perempuan, penderita penyakit autoimun, pasien yang pernah menjalani operasi katarak, serta pekerja yang harus menatap layar komputer lebih dari enam jam per hari.

Untuk mencegah keluhan mata kering, Dokter Thohir menyarankan masyarakat memberi waktu istirahat pada mata secara berkala, terutama bagi pengguna komputer. Salah satu cara sederhana adalah dengan mengalihkan pandangan ke objek yang lebih jauh selama beberapa saat.

Pada kasus ringan, dokter biasanya memberikan obat tetes mata pelumas atau artificial tears untuk membantu menjaga kelembapan permukaan mata.

Selain itu, menjaga pola hidup sehat juga penting untuk mendukung kesehatan mata. Konsumsi sayur dan buah yang cukup serta makanan yang mengandung vitamin A, karoten, lutein, dan retinol dapat membantu menjaga fungsi penglihatan secara umum.

“Yang paling penting adalah menjaga pola hidup sehat serta mengurangi faktor-faktor yang dapat memicu penguapan air mata secara berlebihan,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Miranda Lailatul Fitria (MG)
|
Editor:Imadudin Muhammad