Lebaran Tanpa Baju Baru? Sekarang Banyak yang Bangga Pakaian 'Second'
Gak perlu belanja baju baru, opor pakai ayam kampung tetangga, mudik pakai motor listrik. Begini cara anak muda bikin Lebaran lebih ramah lingkungan.
MALANG – Lebaran identik banget sama yang namanya baju baru. Jujur, siapa di sini yang dari minggu-minggu sebelumnya sudah sibuk stalking baju buat dipakai pas salat Id? Atau minimal, sudah menyiapkan baju terbaik biar pas foto keluarga keliatan kece?
Tapi pernah mikir gak, baju baru yang kita beli tiap tahun itu ujungnya ke mana? Ada yang jadi baju setahun sekali, terus nyempil di lemari, dan akhirnya lupa. Belum lagi opor yang masaknya banyak banget, sisanya kebuang. Terus mudik, asyik di jalan, tapi polusi di mana-mana.
Nah, sekarang mulai muncul tren baru dari anak-anak muda Muslim. Mereka bikin gerakan Lebaran yang lebih ramah lingkungan. Bukan karena pelit atau gak punya duit, tapi karena mereka sadar bahwa bumi kita juga perlu "Lebaran", butuh napas baru setelah setahun digempur sampah dan polusi.
"Baju Baru? Lihat Saja di Lemari"
Coba buka lemari kamu. Yakin, pasti ada baju yang cuma kepakai sekali terus gak pernah disentuh lagi. Nah, komunitas yang namanya Bersalingsilang punya solusi seru: tukar baju!
Di grup Telegram mereka, udah ada lebih dari 7.000 orang lho. Mereka rutin ngadain acara tukar baju di berbagai kota. Udah lebih dari 20 kali acara, dan puluhan ribu baju berhasil berpindah tangan. Bayangin, baju yang nganggur di lemari kamu, bisa jadi baju Lebaran favorit buat orang lain.
Pendirinya, Cynthia S. Lestari, 19 Maret 2025 tahun lalu cerita gini, "Bertukar pakaian itu jadi salah satu opsi yang seru dan solutif buat manfaatin pakaian yang gak terpakai di lemari."
Seru kan?
Ada juga gerakan namanya "Slow Ramadhan". Tahun 2025 lalu, mereka ngajak orang buat "belanja baju Lebaran di lemari sendiri". Maksudnya? Ya buka lagi lemari, pasti ada baju bagus yang kelupaan. Atau bisa juga pinjem punya kakak, adik, atau sepupu. Asal bersih dan rapi, kenapa enggak?
"Sebenernya gak ada yang mewajibkan kita buat selalu pake baju baru di hari Lebaran. Yang ada adalah menggunakan baju yang terbaik, baju yang bersih, dan bebas dari najis," imbuh Cynthia.
Terus kalau baju kesayangan bolong atau agak rusak gimana?
Tenang, ada Studio Mulih di Kedoya, Jakarta Barat. Tempat ini khusus nerima reparasi pakaian. Didirikan Beverly Tandjung dan Suzzane Sarah Simanjuntak tahun 2024.
Beverly cerita pengalamannya: "Memperbaiki pakaian kadang lebih susah daripada bikin baju baru. Makanya, biaya perbaikan kadang bisa lebih mahal dari harga beli baru. Tapi ada beberapa orang yang rela bayar lebih karena mungkin ada nilai sentimental."
Reparasi baju atau celana kesayangan, tak harus ke Studio Mulih. Di setiap kota pasti ada yang tukang yang paten banget untuk reparasi baju kita.
Kan bagi sebagian orang, baju itu bukan cuma kain. Tapi ada cerita dan kenangan dibaliknya.
Masak Opor Pakai Ayam Tetangga? Bisa Dong!
Sekarang soal makanan.
Setiap Lebaran, opor, rendang, dan ketupat bertebaran di mana-mana. Tapi pernah kepikiran gak, bahan-bahannya dari mana? Terigu impor, beras impor, ayam dari peternakan besar, kelapa dari luar pulau.
Nah, Hening Parlan dari GreenFaith Indonesia ngasih wejangan pas diskusi di Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026 lalu. "Ramadhan sering kali justru diwarnai perilaku berlebihan saat berbuka. Padahal, puasa ngajak kita kembali ke fitrah—hidup sederhana, seimbang, dan gak berlebihan,"katanya
Makanya mulai muncul gerakan pangan lokal. Artinya, kita beli bahan makanan dari tetangga sendiri, dari petani sekitar, dari pasar tradisional. Selain lebih segar, juga bantu ekonomi warga lokal.
Puji Sumedi dari Yayasan KEHATI menambakan, "Ketika kita milih pangan lokal, kita gak cuma ngurangin emisi dari distribusi jarak jauh, tapi juga berpihak pada produsen lokal serta menjaga keberlanjutan budaya pangan."
Jadi pas Lebaran, coba deh cari ayam kampung dari peternak dekat rumah. Beli sayur dari ibu-ibu PKK. Beli ketupat dari tetangga yang jualan. Rasanya? Mungkin lebih sedep karena ada cerita di baliknya.
Mudik Asyik Tanpa Bikin Bumi Panas
Nah, yang ini mungkin tantangan terbesar: mudik. Gimana caranya mudik tapi tetap ramah lingkungan?
Pertama, buat yang punya motor listrik atau mobil listrik, sekarang makin gampang. Stasiun pengisian daya udah banyak di jalan tol Trans Jawa sampai Sumatera. Mobil listrik kayak BYD Seal bisa jalan 650 km sekali cas, lho. Dari Jakarta ke Semarang bisa sekali jalan.
Tapi Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengingatkan juga soal pemudik motor. Minggu, 1 Maret 2026 lalu, dia bilang di Semarang, "Sekitar 70 persen masyarakat yang punya kendaraan roda empat lebih milih jalan tol. Sementara jalan nasional bakal lebih banyak dipenuhi kendaraan roda dua."
Makanya pemerintah perbaiki jalan nasional, perkuat tanggul, dan sistem drainase. Targetnya H-10 Lebaran semua kelar. Jadi yang mudik pake motor tetep aman dan nyaman.
Buat yang mau lebih ekstrem, naik kereta atau bus bisa jadi pilihan. Lebih hemat energi dan kita bisa baca-baca atau tidur selama perjalanan. Gak capek nyetir, gak bikin polusi.
'Aisyiyah dan Muhammadiyah Juga Ikutan
Gak cuma anak muda, organisasi besar kayak Muhammadiyah dan 'Aisyiyah juga bergerak.
PP Muhammadiyah malah luncurin program Green Ramadhan 1447 H. Ada pengelolaan sampah, Edu Forest, sampai aplikasi GreenMu.App. "Menjaga lingkungan bukan sekadar isu teknis, tapi bagian dari tanggung jawab keimanan," kata Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Djihadul Mubarok, 18 Februari 2026.
Sementara 'Aisyiyah lewat Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ngajak warganya buat gak berlebihan nyediain takjil, hindari plastik sekali pakai, bawa wadah sendiri, sampai hemat air wudhu.
Ketua LLHPB PP 'Aisyiyah, Rahmawati Husein, kasih fakta menarik: "Sampah selama Ramadhan biasanya meningkat 20 persen."
Makanya puasa harus jadi momen buat ningkatin "kesalehan ekologis". Istilah keren buat orang yang saleh secara agama, tapi juga peduli sama lingkungan.
Lebaran Itu Kembali ke Fitrah
Yang seru dari semua gerakan ini, mereka gak maksa. Gak ada yang nyuruh "kamu harus begini, harus begitu". Mereka coba kasih pilihan: "Hey, ada cara lain lho buat nikmatin Lebaran. Tanpa ngerusak bumi."
Dan ternyata, banyak yang tertarik. Anak muda sekarang lebih bangga pamer baju "preloved" di Instagram. Warung takjil mulai banyak yang pake daun pisang instead of plastik. Di grup keluarga, mulai ada diskusi "naik apa tahun ini biar irit dan gak macet".
Pada akhirnya, Idul Fitri itu artinya "kembali ke fitrah". Fitrah manusia sebagai penjaga bumi. Bukan cuma nahan lapar dan haus, tapi juga nahan diri dari boros, dari konsumtif, dari ngerusak lingkungan.
Jadi tahun ini, mau coba yang mana dulu? Tukar baju sama sepupu? Beli opor bahan lokal? Atau mudik naik kereta biar gak capek? Yang penting, niat baiknya ada. Karena Lebaran yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa berbagi kebahagiaan—sama manusia, sama bumi.
Selamat mencoba dan selamat Lebaran...
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

