Menyeruput Sejarah di POP Mason 52 Malang, Rumah Freemason yang Kini Jadi House of Tea
Berbeda dengan kedai minuman pada umumnya, POP Mason 52 menghadirkan pengalaman minum teh yang lebih mendalam melalui tradisi Gong Fu Cha, sebuah ritual penyeduhan teh khas Tiongkok.
MALANG – Di tengah deretan bangunan tua kawasan Jalan Aris Munandar, Kota Malang, berdiri sebuah rumah berarsitektur kolonial yang menyimpan cerita panjang. Bangunan yang kini dikenal sebagai POP Mason 52 ini dahulu merupakan rumah atau loge milik kelompok intelektual Eropa bernama Freemason yang telah hadir di Malang sejak akhir abad ke-19.
Kini, rumah bersejarah yang berdiri sejak 1914 tersebut bertransformasi menjadi ruang minum teh, ruang berbagi cerita, sekaligus ruang budaya yang mempertemukan masa lalu dengan gaya hidup anak muda masa kini.
POP Mason 52 sendiri merupakan gabungan dari POP (Pieces of Peace) dan nama lokasi bangunan Mason 52. Pieces of Peace didirikan pada Januari 2021 di tengah pandemi dengan harapan sederhana: menghadirkan kedamaian melalui secangkir teh.
Jejak Freemason di Malang
Freemason atau Freemasonry adalah sebuah perkumpulan persaudaraan internasional yang muncul di Eropa pada abad ke-18. Anggotanya umumnya berasal dari kalangan intelektual, bangsawan, hingga kaum profesional yang memiliki minat pada filsafat, pendidikan, dan pemikiran modern. Organisasi ini dikenal menekankan nilai persaudaraan, moralitas, pengembangan diri, serta kegiatan filantropi seperti pendidikan dan yayasan sosial.
Dalam praktiknya, Freemason juga memiliki berbagai simbol, ritual pertemuan, serta ruang pertemuan khusus yang disebut loge. Di berbagai kota pada masa kolonial, loge ini sering menjadi tempat diskusi, pertemuan intelektual, dan pusat kegiatan sosial.
Sedikit orang mengetahui bahwa Malang pernah menjadi salah satu pusat kegiatan Freemason di Hindia Belanda. Lingkaran Freemason di kota ini tercatat sudah ada sejak 1899, dengan anggota sekitar dua puluh orang pada awal berdirinya.
Pada masa itu mereka belum memiliki gedung tetap. Pertemuan awal dilakukan di rumah sewaan di kawasan Kayutangan, kemudian sempat berpindah ke Talun hingga sekitar tahun 1913. Barulah pada 11 April 1914, mereka membangun loge resmi di kawasan Klodjen Kidul yang kini menjadi POP Mason 52.
Tak hanya sebagai tempat berkumpul, gedung tersebut juga berfungsi sebagai pusat pengetahuan. Sejak 1902, Freemason di Malang bahkan telah memiliki perpustakaan umum dengan koleksi sekitar 4.000 buku yang terbuka untuk publik.
Ruang Kolonial yang Masih Terjaga

Ruang lantai dua POP Mason 52 yang masih mempertahankan lantai hitam putih khas bangunan lama, dahulu menjadi tempat berkumpul anggota Freemason. (Foto: Lusia Dian Finnadi/TIMES Indonesia)
Secara arsitektur, bangunan ini masih mempertahankan bentuk aslinya dengan dua lantai. Lantai atas dulunya menjadi ruang pertemuan para kolega dari Belanda dan Prancis.
Salah satu detail menarik ada pada lantai hitam putih yang masih dipertahankan hingga kini. Menurut Septian, pola tersebut memiliki makna simbolik.
“Hitam melambangkan keberanian, sedangkan putih melambangkan kesucian,” jelasnya.
Saat ini lantai dua lebih sering dibiarkan kosong dan sesekali digunakan untuk bazar, pameran, maupun kegiatan komunitas. Ruang ini juga menjadi cara POP Mason 52 memperkenalkan budaya minum teh kepada generasi muda melalui berbagai acara.
Tradisi Gong Fu Cha: Minum Teh sebagai Ritual

Proses penyeduhan teh dengan tradisi Gong Fu Cha di POP Mason 52 Malang yang menekankan ritual dan ketelitian dalam menikmati teh. (Foto: Lusia Dian Finnadi/TIMES Indonesia)
Berbeda dengan kedai minuman pada umumnya, POP Mason 52 menghadirkan pengalaman minum teh yang lebih mendalam melalui tradisi Gong Fu Cha, sebuah ritual penyeduhan teh khas Tiongkok.
Dalam tradisi ini, minum teh bukan sekadar minum, tetapi juga proses yang penuh perhatian.
Prosesnya dimulai dari pencucian peralatan teh untuk menghilangkan debu. Setelah itu dilakukan pencucian daun teh dengan menyiram air panas sebentar lalu langsung dibuang. Barulah masuk ke tahap seduhan pertama yang siap dinikmati.
Peralatan yang digunakan pun khas, salah satunya chapan, yaitu baki kayu khusus untuk menyeduh teh.
“Kalau teapot sering dipakai membuat teh, lama-lama akan semakin mengkilap dan bagus,” ujar Septian.
Menurutnya, ritual ini membuat orang lebih menikmati waktu. Pengunjung bisa duduk lama, berbincang, dan mendiskusikan banyak hal, termasuk sejarah bangunan ini.
“Kalau ada orang main ke sini, mereka bisa minum teh lama sambil ngobrol sejarah. Bukan hanya mabar atau main game,” tambahnya.
Ragam Teh dari Berbagai Negara
POP Mason 52 menghadirkan berbagai jenis teh dari berbagai negara seperti China, Taiwan, Jepang, India, Sri Lanka, Afrika, hingga Indonesia.
Karakter rasa teh yang disajikan pun sangat beragam. Ada yang memiliki aftertaste manis, aroma kacang, beras panggang, cokelat, hingga aroma kayu. Beberapa jenis teh bahkan difermentasi selama 5 hingga 10 tahun, yang membuat rasanya semakin kompleks sekaligus lebih mahal.
Selain itu terdapat pula teh unik dari Afrika yang tidak berasal dari daun, melainkan dari akar tanaman dengan aroma yang menyerupai root beer.
Di tempat ini, teh disarankan diminum tanpa gula agar aroma dan karakter aslinya bisa terasa lebih jelas.
“Kami ingin orang menikmati teh dari aromanya, bukan dari gula,” jelas Septian.
House of Tea yang Langka di Malang
Konsep house tea seperti POP Mason 52 masih tergolong jarang di Kota Malang. Karena itu, tantangan terbesar mereka adalah memperkenalkan budaya minum teh kepada anak muda.
Salah satu caranya adalah dengan membuka ruang kegiatan di lantai dua seperti bazar, pameran, dan acara komunitas agar semakin banyak orang mengenal tempat ini.
Selain menyajikan teh, POP Mason 52 juga menjual berbagai teapot, cangkir teh, serta peralatan minum teh khas Tiongkok yang berasal dari koleksi dan hobi sang pemilik.
Beberapa buku yang ada di tempat ini bahkan berasal dari koleksi lama, termasuk buku tentang arsitektur, kehidupan, hingga nilai-nilai kebajikan.
Dengan memadukan sejarah kolonial, budaya minum teh, serta ruang komunitas, POP Mason 52 tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga ruang untuk memahami sejarah dan budaya dari sudut yang berbeda.
Di tempat ini, secangkir teh tidak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga cerita panjang tentang Malang, pengetahuan, dan perjalanan budaya lintas zaman. (*)
Pewarta: Lusia Dian Finnadi
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

