Kesiapan Mukmin Melaksanakan Ibadah Puasa

Kesiapan Mukmin Melaksanakan Ibadah Puasa

Puasa yang dijalani tanpa kesiapan hanya akan melelahkan tubuh. Tetapi puasa yang disiapkan dengan kesadaran akan menghidupkan jiwa.

TIMESINDONESIA/Hainor Rahman
TIMES Malang,2 Februari 2026, 10:00 WIB
714
H
Hainor Rahman

MalangPuasa sering kali kita sambut sebagai ritual tahunan yang datang dengan sendirinya. Kalender berganti, bulan Ramadan tiba, lalu kita menyesuaikan jam makan dan jam tidur. Masjid ramai, spanduk ucapan bermunculan, dan media sosial dipenuhi kutipan religius. 

Namun pertanyaannya, sejauh mana kesiapan seorang mukmin benar-benar hadir ketika puasa dilaksanakan? Apakah ia hanya siap secara fisik, atau juga matang secara batin?

Puasa, dalam ajaran Islam, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan spiritual yang menuntut kesiapan menyeluruh: iman, akal, emosi, dan perilaku. 

Allah tidak menjadikan puasa sebagai ibadah yang ringan, sebab di dalamnya terkandung tujuan besar, yakni membentuk pribadi bertakwa. Karena itu, kesiapan mukmin dalam melaksanakan puasa sejatinya dimulai jauh sebelum azan subuh pertama berkumandang.

Kesiapan pertama adalah kesiapan niat. Niat puasa bukan sekadar lafaz yang diucapkan, melainkan kesadaran penuh tentang mengapa kita berpuasa. Apakah puasa kita didorong oleh keinginan mendekat kepada Allah, atau sekadar rutinitas sosial agar tidak tampak berbeda? Tanpa niat yang jernih, puasa mudah berubah menjadi kebiasaan mekanis tubuh berpuasa, tetapi jiwa tetap lapar makna.

Kesiapan kedua adalah kesiapan ilmu. Banyak mukmin rajin berpuasa, tetapi belum sepenuhnya memahami hakikat dan adab puasa. Padahal, ilmu adalah cahaya yang membimbing ibadah agar tidak tersesat. 

Mengetahui apa yang membatalkan puasa, apa yang menguranginya, serta bagaimana menjaga pahala puasa dari lisan dan perilaku, adalah bagian dari kesiapan yang sering diabaikan. Puasa tidak hanya batal oleh makanan, tetapi juga oleh kebohongan, ghibah, dan kezaliman yang dibiarkan.

Kesiapan berikutnya adalah kesiapan mental dan emosional. Puasa adalah ujian kesabaran. Lapar dan dahaga hanyalah pemantik; yang lebih berat adalah menahan amarah, ego, dan nafsu untuk merasa benar sendiri. 

Tidak sedikit orang yang rajin berpuasa, tetapi mudah tersulut emosi, kasar dalam berbicara, dan abai terhadap perasaan orang lain. Di titik ini, puasa seharusnya menjadi cermin: sejauh mana iman kita benar-benar bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, kesiapan mukmin juga menyentuh dimensi sosial. Puasa bukan ibadah individual yang terlepas dari realitas sekitar. Ia mengajarkan empati melalui pengalaman lapar. Namun empati tidak boleh berhenti pada rasa iba sesaat. 

Ia seharusnya berbuah pada kepedulian nyata: berbagi, membantu, dan memperjuangkan keadilan sosial. Mukmin yang siap berpuasa adalah mukmin yang hatinya peka terhadap penderitaan orang lain, bukan yang sibuk mengejar pahala personal semata.

Dalam konteks ini, kesiapan puasa juga berarti kesiapan untuk memperbaiki relasi. Ramadan seharusnya menjadi momentum rekonsiliasi dengan Allah dan dengan sesama. 

Membersihkan hati dari dendam, meminta maaf, dan memaafkan adalah bagian penting dari kesiapan batin. Tidak masuk akal seseorang berharap ampunan Allah, sementara ia masih menyimpan kebencian yang tak kunjung diselesaikan.

Kesiapan fisik tentu tetap penting, tetapi ia bukan yang utama. Menjaga kesehatan, mengatur pola makan, dan menyesuaikan ritme aktivitas adalah ikhtiar agar puasa dijalani dengan baik. Namun fisik hanyalah kendaraan. Tanpa arah spiritual yang jelas, kendaraan itu bisa berjalan tanpa tujuan.

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, puasa juga menuntut kesiapan untuk melambat. Melambat dari konsumsi berlebihan, dari ambisi duniawi yang tak ada habisnya, dan dari kebiasaan digital yang menguras energi batin. 

Mukmin yang siap berpuasa adalah mereka yang mampu menata ulang prioritas: lebih banyak diam untuk merenung, lebih banyak mendengar daripada berbicara, dan lebih banyak memberi daripada menuntut.

Kesiapan mukmin melaksanakan ibadah puasa bukan diukur dari seberapa penuh jadwal buka puasa bersama, atau seberapa meriah unggahan religius di media sosial. Ia diukur dari perubahan sikap: apakah puasa membuat kita lebih jujur, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih peduli.

Puasa yang dijalani tanpa kesiapan hanya akan melelahkan tubuh. Tetapi puasa yang disiapkan dengan kesadaran akan menghidupkan jiwa. Dan di sanalah letak kemuliaannya: menjadikan mukmin bukan hanya kuat menahan lapar, tetapi juga matang dalam iman dan akhlak.

***

*) Oleh : Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Tim Redaksi