Indonesia Maju Bersama Budaya Leluhur

Indonesia Maju Bersama Budaya Leluhur

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang cepat berlari, tetapi bangsa yang tahu dari mana ia berasal dan ke mana ia ingin menuju.

TIMESINDONESIA/Hainor Rahman
TIMES Malang,2 Februari 2026, 09:00 WIB
2.7K
H
Hainor Rahman

MalangDi tengah gemuruh jargon pembangunan dan percepatan modernisasi, kita kerap bertanya: seperti apa wajah Indonesia maju yang sesungguhnya? Apakah ia diukur semata dari gedung pencakar langit, pertumbuhan ekonomi, dan kecanggihan teknologi? Atau justru dari kemampuan bangsa ini menjaga jati dirinya di tengah arus perubahan global yang tak terbendung?

Indonesia tidak pernah kekurangan mimpi tentang kemajuan. Namun sejarah mengajarkan, kemajuan yang tercerabut dari akar budaya sering kali rapuh. Ia tampak megah di permukaan, tetapi mudah retak di dalam. 

Karena itu, Indonesia maju sejatinya bukan Indonesia yang meninggalkan budaya leluhurnya, melainkan Indonesia yang berjalan ke depan sambil membawa ingatan kolektif tentang siapa dirinya.

Budaya leluhur bukan sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan rapi di museum atau dipentaskan saat hari besar. Ia adalah sistem nilai yang hidup: cara berpikir, cara bersikap, dan cara memandang kehidupan. 

Di dalamnya terkandung etika gotong royong, rasa hormat pada alam, keseimbangan antara lahir dan batin, serta kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan bersama dan saling bergantung.

Nilai-nilai itulah yang justru relevan di tengah krisis modern hari ini. Ketika dunia dihadapkan pada kerusakan lingkungan, polarisasi sosial, dan krisis kemanusiaan, budaya leluhur Indonesia menawarkan perspektif alternatif. 

Kearifan lokal mengajarkan bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan ruang hidup yang harus dijaga. Bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan yang dirawat melalui musyawarah dan kebijaksanaan.

Sayangnya, dalam praktik pembangunan, budaya sering kali diposisikan sebagai ornamen pelengkap, bukan fondasi. Kita bangga mengenakan pakaian adat di acara seremonial, tetapi lupa menerjemahkan nilai-nilainya dalam kebijakan publik. 

Kita mempromosikan pariwisata budaya, tetapi abai pada kesejahteraan masyarakat adat sebagai penjaga tradisi itu sendiri. Budaya direduksi menjadi estetika, bukan etika.

Padahal, kemajuan tanpa etika hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Ketika pembangunan ekonomi mengabaikan nilai keadilan dan keberlanjutan, yang tumbuh bukan kesejahteraan bersama, melainkan jurang sosial. Ketika teknologi berkembang tanpa kebijaksanaan, yang lahir bukan kemudahan hidup, tetapi alienasi dan krisis makna.

Indonesia memiliki modal budaya yang luar biasa. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki nilai luhur yang mengajarkan kebersamaan, kerja kolektif, dan penghormatan terhadap kehidupan. 

Gotong royong, misalnya, bukan sekadar istilah klasik, melainkan sistem sosial yang telah lama menjadi penopang ketahanan masyarakat. Dalam gotong royong, kemajuan tidak dimonopoli oleh segelintir orang, tetapi diupayakan bersama.

Tantangannya hari ini adalah bagaimana menjadikan budaya leluhur sebagai sumber inspirasi inovasi, bukan sekadar romantisme masa lalu. Budaya harus hadir dalam pendidikan, bukan hanya sebagai mata pelajaran hafalan, tetapi sebagai nilai yang dihidupi. 

Anak-anak muda perlu diajak memahami bahwa menjadi modern tidak berarti menjadi asing terhadap akar sendiri. Bahwa globalisasi tidak harus berujung pada homogenisasi identitas.

Peran generasi muda menjadi sangat penting dalam konteks ini. Mereka hidup di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Di tangan merekalah budaya leluhur bisa menemukan bentuk barunya lebih kontekstual, lebih dialogis, dan lebih relevan dengan zaman. Ketika anak muda mengemas nilai lokal melalui seni, teknologi, literasi, dan ruang digital, budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Negara pun memiliki tanggung jawab besar. Kebijakan pembangunan harus berpihak pada pelestarian budaya sebagai bagian dari strategi kemajuan nasional. 

Masyarakat adat harus dilindungi hak-haknya, bahasa daerah harus dirawat, dan ruang-ruang ekspresi budaya harus dijaga dari kepentingan ekonomi jangka pendek. Tanpa itu semua, slogan Indonesia maju hanya akan menjadi narasi kosong.

Indonesia maju bukan berarti menjadi bangsa lain. Kita tidak sedang berlomba menjadi tiruan negara maju, tetapi berikhtiar menjadi versi terbaik dari diri sendiri. 

Kemajuan sejati adalah ketika teknologi berjalan seiring dengan kearifan, ketika pertumbuhan ekonomi sejalan dengan keadilan sosial, dan ketika modernitas berdampingan harmonis dengan budaya leluhur.

Budaya bukan beban masa lalu, melainkan kompas masa depan. Ia mengingatkan kita ke mana harus melangkah dan batas apa yang tidak boleh dilanggar. 

Jika Indonesia ingin maju secara utuh bukan hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga matang secara peradaban maka jawabannya jelas: melangkah ke depan tanpa melupakan akar, dan membangun masa depan bersama nilai-nilai leluhur.

Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang cepat berlari, tetapi bangsa yang tahu dari mana ia berasal dan ke mana ia ingin menuju.

***

*) Oleh : Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Tim Redaksi