TIMES MALANG, MALANG – Kita hidup di zaman yang aneh. Pengetahuan bertebaran seperti debu di udara: gratis, cepat, dan bisa diakses hanya dengan menggerakkan ibu jari. Video penjelasan fisika berdurasi satu menit, ringkasan filsafat dalam lima slide, sampai kursus dari kampus dunia yang tinggal diklik. Namun di tengah kemewahan itu, satu hal justru tampak menyusut perlahan: rasa ingin tahu.
Daya kepo intelektual yang dulu membuat orang rela begadang membaca, berdiskusi sampai larut, atau menulis pertanyaan panjang di pinggir buku, kini sering kalah oleh notifikasi, konten singkat, dan kebiasaan serba instan.
Rasa ingin tahu sejatinya adalah mesin utama peradaban. Dari pertanyaan “mengapa langit biru” sampai “bagaimana negara seharusnya diatur”, semua lompatan besar manusia dimulai dari kegelisahan kecil di kepala. Tapi hari ini, kegelisahan itu sering keburu dibius oleh jawaban cepat.
Mesin pencari memberi solusi, bukan proses. Algoritma menyodorkan kesimpulan, bukan perjalanan berpikir. Kita tidak lagi diajak berkelana dalam labirin pertanyaan, melainkan disuguhi pintu darurat menuju jawaban praktis, ringkas, dan kadang menipu.
Akses belajar yang terbuka lebar ironisnya tidak selalu melahirkan manusia yang lebih haus pengetahuan. Yang sering tumbuh justru generasi “cukup tahu”. Sedikit paham, lalu merasa selesai. Sekilas membaca thread, menonton potongan video, kemudian menganggap diri menguasai topik besar.
Dari geopolitik sampai kesehatan mental, semua terasa bisa diringkas dalam satu menit. Padahal pengetahuan sejati tidak tumbuh dari potongan, melainkan dari perendaman. Dari kesediaan untuk bingung, ragu, bahkan tersesat sebelum menemukan makna.
Di ruang kelas, gejala ini juga terasa. Banyak siswa dan mahasiswa lebih sibuk mencari “jawaban benar” daripada memahami “pertanyaan yang tepat”. Tugas dikerjakan dengan bantuan AI, esai disusun dari salin-tempel ide orang lain, diskusi berubah menjadi formalitas.
Rasa penasaran yang seharusnya menjadi bahan bakar belajar, digantikan oleh orientasi nilai, sertifikat, dan kelulusan cepat. Pendidikan perlahan menjelma jalur tol: lurus, cepat, tapi miskin pemandangan.
Media sosial ikut mempercepat peluruhan itu. Di sana, pengetahuan bersaing dengan hiburan, gosip, dan drama yang lebih menggoda emosi. Otak manusia, yang dasarnya menyukai hal instan dan menyenangkan, akhirnya lebih betah mengejar tawa singkat daripada pemahaman panjang. Membaca artikel mendalam terasa berat, sementara scroll tanpa henti terasa ringan seperti mengunyah permen kapas: manis sebentar, lalu kosong.
Masalahnya bukan pada teknologi, melainkan pada cara kita memperlakukannya. Internet sebenarnya perpustakaan raksasa. Tapi banyak dari kita datang ke sana bukan sebagai penjelajah, melainkan sebagai turis malas yang hanya memotret bagian depan gedung lalu pulang sambil mengaku sudah “tahu isinya”. Kita mengoleksi potongan informasi seperti stiker, bukan menyusunnya menjadi peta pengetahuan.
Ketika rasa ingin tahu melemah, dampaknya tidak berhenti pada dunia akademik. Ia merembes ke cara kita bersikap sebagai warga negara. Orang yang malas bertanya mudah percaya hoaks. Orang yang tidak suka menggali mudah terjebak propaganda.
Demokrasi pun berubah menjadi panggung teriakan, bukan arena pertukaran gagasan. Di titik ini, berkurangnya rasa ingin tahu bukan lagi soal intelektual, melainkan soal masa depan nalar publik.
Padahal, rasa ingin tahu tidak harus lahir dari buku tebal atau diskusi berat. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana: mempertanyakan berita yang kita baca, mencoba memahami sudut pandang yang berbeda, atau menolak puas pada satu jawaban tunggal. Rasa ingin tahu adalah keberanian untuk berkata, “mungkin aku belum sepenuhnya mengerti.”
Menghidupkan kembali rasa ingin tahu di era serba cepat memang tidak mudah. Ia menuntut kita melawan arus. Melawan budaya ringkas, melawan godaan instan, melawan kenyamanan menjadi penonton pasif. Ia meminta kita kembali menjadi murid kehidupan: yang gemar bertanya, siap ragu, dan tidak alergi pada kerumitan.
Pendidikan, media, dan keluarga memiliki peran besar di sini. Sekolah seharusnya tidak hanya mengajarkan cara menjawab, tetapi cara bertanya. Media tidak cukup menyuguhkan sensasi, tetapi juga konteks. Orang tua tidak hanya menuntut anak pintar, tetapi juga penasaran. Sebab kecerdasan tanpa rasa ingin tahu hanya melahirkan mesin hafalan, bukan manusia berpikir.
Di tengah banjir informasi, rasa ingin tahu ibarat perahu kecil. Tanpanya, kita hanya akan hanyut mengikuti arus algoritma, opini mayoritas, dan kesimpulan cepat. Dengan rasa ingin tahu, kita punya kemudi. Kita bisa memilih arah, menolak diseret, dan berani menyelam lebih dalam.
Mungkin, tantangan terbesar generasi hari ini bukan lagi mencari pengetahuan, melainkan memelihara keberanian untuk ingin tahu. Sebab di dunia yang terlalu cepat memberi jawaban, pertanyaan justru menjadi harta yang paling langka. (*)
***
*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |