TIMES MALANG, MALANG – Di ruang-ruang kelas kita, anak-anak diajari menghafal nama sungai di Eropa, revolusi di Amerika, dan teori pendidikan dari negeri empat musim. Mereka fasih menyebut kota-kota jauh yang tak pernah mereka pijak, tetapi gagap menceritakan sejarah kampung sendiri. Kita mencetak generasi kosmopolitan di atas kertas, tetapi asing di tanah kelahirannya.
Beginilah wajah pendidikan lokal hari ini: hadir, tetapi tak dianggap. Diakui, tetapi tak dirayakan. Ia seperti bahasa ibu yang hanya dipakai saat marah, lalu dilupakan ketika rapat resmi dimulai.
Kurikulum nasional berdiri seperti gedung bertingkat tinggi, seragam dari Sabang sampai Merauke. Di dalamnya, kearifan lokal hanya menjadi hiasan kecil di sudut buku paket. Ia bukan jantung pembelajaran, melainkan catatan kaki. Sekadar pelengkap, bukan penentu arah.
Padahal, pendidikan seharusnya tumbuh dari tanah tempat ia berpijak. Anak pesisir mestinya belajar membaca laut sebelum membaca grafik ekonomi global. Anak pegunungan mestinya mengenal hutan sebelum mengenal pasar saham. Namun sistem kita justru menanam benih yang sama di ladang yang berbeda, lalu heran mengapa panennya tak seragam.
Sekolah berubah menjadi pabrik kurikulum. Murid diperlakukan seperti produk setengah jadi yang harus lulus uji standar nasional, bukan manusia yang hidup dalam konteks sosial dan budaya tertentu. Identitas lokal dianggap terlalu sempit, kurang modern, bahkan kadang dicurigai sebagai penghambat kemajuan.
Ironisnya, ketika globalisasi datang membawa budaya asing seperti banjir bandang, pendidikan lokal justru dibiarkan tanpa payung. Anak-anak lebih hafal lirik lagu luar negeri daripada tembang daerahnya sendiri. Mereka bangga memakai simbol budaya asing, tetapi malu menggunakan bahasa ibu.
Kita sibuk mengejar peringkat internasional, tetapi lupa menguatkan akar sendiri. Pendidikan diperlakukan seperti lomba lari jarak jauh: siapa yang paling mirip negara maju, dia yang dianggap berhasil.
Akibatnya, sekolah-sekolah berlomba menjual “kelas internasional”, “kurikulum global”, dan “standar dunia”, sementara pengetahuan lokal dibiarkan seperti barang lama di gudang berdebu.
Di desa, banyak kearifan hidup yang tak pernah masuk silabus: cara membaca musim, merawat tanah, menjaga air, menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, hingga menghitung hasil panen dengan logika sederhana namun presisi. Semua itu kalah pamor dibanding rumus abstrak yang sering tak pernah dipakai setelah ujian selesai.
Pendidikan lokal akhirnya menjadi yatim piatu. Negara sibuk merancang kebijakan dari pusat, sekolah sibuk mengejar akreditasi, orang tua sibuk memimpikan anaknya jadi “orang kota”. Tak ada yang benar-benar berdiri sebagai wali bagi pengetahuan yang lahir dari kampung halaman sendiri.
Padahal, pendidikan yang tercerabut dari konteks lokal ibarat pohon yang ditanam di pot sempit: bisa tumbuh, tetapi akarnya rapuh. Ketika angin perubahan datang, ia mudah tumbang. Anak-anak tumbuh pintar secara akademik, tetapi kering secara identitas. Mereka tahu banyak hal, tetapi tak tahu siapa dirinya.
Marginalisasi pendidikan lokal juga memperlebar jurang sosial. Pengetahuan yang tidak sesuai konteks membuat banyak lulusan gagap menghadapi realitas sekitarnya.
Mereka dididik untuk dunia yang jauh, tetapi pulang ke lingkungan yang tak mereka pahami. Akhirnya, sekolah mencetak pengangguran berijazah dan pekerja yang merasa asing di kampung sendiri.
Lebih tragis lagi, masyarakat lokal sering dianggap “tidak modern” karena mempertahankan cara hidup tradisional. Padahal, di balik kesederhanaan itu, tersimpan logika ekologis dan sosial yang justru relevan untuk krisis hari ini: krisis iklim, krisis pangan, dan krisis kemanusiaan.
Ketika pendidikan mengabaikan lokalitas, kita sedang menyiapkan generasi yang pandai meniru, tetapi gagap mencipta. Pandai mengutip, tetapi lemah menanam. Pintar bicara tentang masa depan, tetapi lupa menjaga halaman rumah sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang pendidikan lokal sebagai masa lalu yang usang. Ia bukan beban, melainkan fondasi. Bukan penghalang modernitas, tetapi penyeimbangnya.
Kemajuan tanpa akar hanya akan melahirkan manusia cepat, tetapi kosong. Cerdas, tetapi mudah hanyut. Modern, tetapi kehilangan rumah batin.
Jika pendidikan terus meminggirkan pengetahuan lokal, maka yang kita bangun bukanlah peradaban, melainkan generasi transit: singgah sebentar di sekolah, lalu tersesat di dunia nyata.
Dan kelak, ketika anak-anak itu bertanya dari mana mereka berasal, mungkin kita hanya bisa menunjuk buku teks, bukan tanah tempat mereka berdiri. (*)
***
*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD Negeri 4 Sawojajar.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |