TIMES MALANG, BATU – style="text-align:justify">Di tengah perkembangan Kota Batu sebagai destinasi wisata nasional, tersimpan sebuah kawasan bersejarah yang masih mempertahankan identitas masa lalu, yakni Kampung Hendrik. Kampung ini berada di RW 10, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu.
Kampung Hendrik dikenal sebagai salah satu warisan kolonial yang tetap hidup melalui ingatan kolektif warganya. Kampung ini menyimpan kisah kedermawanan Mr. Hendrich.
Tuan tanah berkebangsaan Belanda itu dikenal sebagai petani dan peternak dengan kepemilikan lahan perkebunan kopi cukup luas. Wilayah kebun kopi tersebut membentang hingga ke kawasan timur Museum Angkut dan Jalan Kembar Sultan Agung.
“Area perkopiannya luas, sama warga disebut Bon Kopi,” ujar Anwar, warga lokal Kota Batu.dalam suatu kesempatan.
Dalam catatan sejarah lisan warga, Mr. Hendrich menyewakan lahan-lahannya kepada masyarakat sekitar untuk digarap. Perannya sebagai juragan pengelola tanah negara kala itu membuatnya dikenal luas oleh warga. Ia juga menetap di kawasan tersebut dan dikenal sebagai pribadi religius, mengingat lokasi tempat tinggalnya yang berdekatan dengan gereja.
Tak hanya dikenal sebagai pemilik lahan, Mr. Hendrich juga dikenang karena sikap kedermawanannya. Ia menghibahkan sebagian tanah miliknya kepada warga untuk dijadikan permukiman. Pemberian inilah yang kemudian diabadikan masyarakat dengan menamai kawasan tersebut sebagai Kampung Hendrik, sebagai bentuk penghargaan dan ungkapan terima kasih lintas generasi.
Tugu penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para pendiri kampung Hendrik. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Sejumlah literatur lokal juga menyebutkan bahwa Mr. Hendrich memiliki kandang ternak sapi atau staal berukuran besar yang berada di sebelah barat Alun-alun Kota Batu saat ini. Kandang tersebut bahkan masih berdiri hingga era 1980-an sebelum akhirnya menghilang seiring perubahan tata kota.
Keunikan Kampung Hendrik tak hanya terletak pada sejarah kolonialnya. Kampung ini didirikan oleh 10 tokoh lintas agama, yakni Parto Asemun, Asnari, Taselan, Doladi, Amri, Jootje Lejeng, Daib, Marsaid, Suster Cornelia, serta Romo Vollereng O. Charm. Fakta ini menjadikan Kampung Hendrik dikenal sebagai kampung toleransi umat beragama di Kota Batu.
Berdiri sejak 1960, Kampung Hendrik rutin memperingati hari jadinya setiap tanggal 7 Januari. Saat ini, kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman padat penduduk dengan jaringan gang-gang sempit yang saling terhubung.
Pada 2023 lalu, kampung ini kembali mencatat sejarah dengan diresmikannya jembatan penghubung antara Kelurahan Ngaglik dan Desa Pesanggrahan, yang semakin memperkuat akses dan mobilitas warga.
Kampung Hendrik menjadi contoh nyata bagaimana warisan kolonial tidak selalu identik dengan konflik, melainkan dapat menjadi ruang hidup yang sarat nilai toleransi, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah. Kampung ini kerap disebut sebagai representasi harmoni sosial yang tumbuh dari ingatan kolektif warga,
Bagi masyarakat setempat, Kampung Hendrik bukan sekadar nama wilayah, melainkan simbol jasa seorang tuan tanah yang memilih berbagi. Penamaan kampung ini menjadi penghargaan yang diwariskan warga kepada sosok Mr. Hendrich, pengingat bahwa kedermawanan melampaui batas zaman dan kebangsaan. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |