TIMES MALANG, MALANG – Di negeri ini, agama sering terdengar nyaring di mulut, tetapi lirih di perbuatan. Ayat dihafal, dalil dikutip, ceramah dibagikan, namun akhlak sering tertinggal di belakang. Kita hidup di zaman ketika teks suci beredar lebih cepat daripada teladan, dan mimbar lebih ramai daripada lorong kejujuran.
Agama, yang seharusnya menjadi kompas moral, kerap berubah menjadi aksesoris identitas. Ia dikenakan saat perlu legitimasi, dilepas ketika berhadapan dengan kepentingan. Di ruang publik, orang berlomba menunjukkan kesalehan simbolik: pakaian religius, jargon surgawi, slogan moralitas. Tetapi di ruang privat, sebagian dari kita masih akrab dengan kebohongan kecil, kecurangan halus, dan ketidakadilan yang disengaja.
Dalil menjadi senjata retorika. Ia dipilih, dipotong, dan dipajang sesuai kebutuhan. Saat ingin menghakimi orang lain, ayat menjadi pedang. Saat diri sendiri yang bersalah, tafsir berubah menjadi selimut. Agama pun diperlakukan seperti pisau lipat: tajam ke luar, tumpul ke dalam.
Ironisnya, kita sangat sensitif terhadap kesalahan orang lain, tetapi alergi mengoreksi diri. Kesalahan kecil pihak berbeda mazhab atau pandangan bisa menjadi viral dan diperdebatkan berhari-hari. Namun ketidakjujuran dalam pekerjaan, manipulasi dalam bisnis, atau pengkhianatan terhadap amanah sering dianggap “urusan pribadi”.
Di kantor, ada yang rajin salat berjamaah, tetapi memotong hak bawahan. Di panggung politik, ada yang fasih mengutip ayat, tetapi gagap saat ditanya soal transparansi. Di media sosial, ada yang lantang bicara soal neraka, tetapi sunyi ketika melihat tetangganya kelaparan.
Agama lalu berubah fungsi: bukan lagi jalan menundukkan ego, melainkan alat meninggikannya. Bukan sarana membersihkan hati, tetapi cara memperindah citra. Kesalehan diukur dari seberapa sering menyebut Tuhan, bukan dari seberapa jarang menyakiti manusia.
Padahal, inti agama bukanlah hafalan, melainkan perubahan. Bukan pada seberapa banyak dalil yang dikoleksi, tetapi seberapa banyak perilaku yang diperbaiki. Kitab suci tidak diturunkan untuk menjadi pajangan intelektual, tetapi panduan etis yang hidup dalam tindakan sehari-hari: jujur saat bertransaksi, adil saat berkuasa, lembut saat berdebat, dan amanah saat dipercaya.
Namun, mengerjakan agama memang lebih sulit daripada mendalilkannya. Mengutip ayat hanya butuh ingatan. Menjadi jujur butuh keberanian. Menyebar hadis hanya butuh jari. Menahan diri dari korupsi butuh integritas. Menyerukan kesabaran itu ringan, menjalankannya saat dirugikan adalah ujian.
Mungkin karena itulah banyak orang lebih nyaman menjadi komentator moral ketimbang pelaku moral. Lebih mudah menasihati daripada mencontohkan. Lebih aman menunjuk dosa orang lain daripada membongkar cacat diri sendiri.
Media sosial memperparah keadaan. Kesalehan tampil sebagai konten. Ibadah menjadi status, sedekah menjadi story, doa menjadi caption. Yang tak terlihat adalah proses sunyi melawan ego, menahan amarah, dan meluruskan niat. Agama direduksi menjadi pertunjukan, bukan perjalanan batin.
Yang lebih berbahaya, dalil kadang dipakai untuk membungkam empati. Ketika ada korban ketidakadilan, sebagian orang lebih sibuk mencari ayat tentang “takdir” daripada bergerak menolong. Ketika ada yang tertindas, kita sibuk berdebat soal istilah, lupa bahwa membela yang lemah adalah inti dari banyak ajaran agama.
Akibatnya, agama kehilangan daya transformasinya. Ia ramai di permukaan, tetapi sepi di kedalaman. Ia hadir dalam slogan, tetapi absen dalam sistem. Ia hidup di spanduk, tetapi mati di kebijakan dan perilaku.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, agama akan semakin sering diperdebatkan, tetapi semakin jarang dirasakan manfaatnya. Masyarakat akan hafal hukum, tetapi asing dengan kasih. Pandai menyebut dosa, tetapi kikuk menumbuhkan keadilan.
Maka barangkali pertanyaan paling jujur bagi kita bukanlah: “seberapa benar dalil yang kita kutip?”, melainkan: “seberapa jauh dalil itu mengubah cara kita memperlakukan orang lain?”
Sebab agama yang sejati tidak diukur dari kerasnya suara di mimbar, tetapi dari lembutnya tangan saat menolong. Tidak dari panjangnya argumen, tetapi dari pendeknya jarak antara ucapan dan perbuatan.
Dan mungkin, di zaman yang penuh kebisingan religius ini, bentuk ibadah yang paling langka justru adalah kesederhanaan: jujur saat bisa curang, adil saat bisa zalim, dan rendah hati saat punya alasan untuk sombong.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak membutuhkan pembelaan kita. Yang lebih mendesak adalah manusia yang membutuhkan kehadiran agama dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar dalil yang indah di udara.
***
*) Oleh : Jefry Hadi, Guru Pendidikan Agama Islam SDN Polehan 2, Malang.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |