TIMES MALANG, MALANG – Pendidikan seharusnya menjadi pintu keluar dari kegelapan nalar. Ia dirancang untuk menajamkan akal, melatih kepekaan, dan membentuk keberanian berpikir. Namun, ada saat-saat ketika sistem pendidikan justru tampak seperti karpet merah yang digelar rapi untuk menyambut kebodohan agar masuk dengan penuh kehormatan.
Kebodohan hari ini tidak selalu hadir dalam rupa ketidaktahuan. Ia sering datang sebagai kepastian palsu: merasa tahu padahal tidak paham, merasa pintar padahal hanya hafal.
Di ruang-ruang kelas, kita terlalu sering memuja jawaban benar tanpa pernah betul-betul merawat pertanyaan yang jujur. Murid dilatih mengingat, bukan meragukan. Didorong patuh, bukan berpikir.
Kurikulum tumbuh seperti hutan beton: rapi, simetris, tetapi miskin oksigen. Setiap tahun bertambah aturan, indikator, target, dan laporan. Guru tenggelam dalam administrasi, siswa tenggelam dalam ujian, sementara makna belajar mengapung lemah di permukaan. Sekolah menjadi pabrik nilai, bukan taman nalar.
Di banyak tempat, anak-anak tidak diajak mencintai pengetahuan, melainkan diajari takut pada angka. Nilai menjadi dewa kecil yang menentukan harga diri. Buku rapor berubah menjadi kitab nasib. Mereka yang tinggi dipuja, yang rendah dipinggirkan. Padahal kecerdasan tidak pernah tunggal, dan kebijaksanaan tidak bisa diringkus oleh skala 0–100.
Lebih ironis lagi, sistem sering kali menghukum kesalahan, bukan merayakannya sebagai bagian dari proses belajar. Padahal, pengetahuan tumbuh dari keberanian untuk salah. Ketika murid takut keliru, ia akan memilih diam. Ketika diam menjadi kebiasaan, berpikir pelan-pelan menghilang. Di situlah kebodohan menemukan rumah yang nyaman.
Guru pun sering dipaksa menjadi penjaga kurikulum, bukan penjaga api rasa ingin tahu. Mereka diikat oleh modul, dibatasi oleh target, dinilai oleh tabel. Banyak yang ingin mengajar dengan hati, tetapi sistem menyuruh mengajar dengan stopwatch. Akhirnya, kelas berubah menjadi ruang transfer materi, bukan ruang perjumpaan pikiran.
Pendidikan kita juga gemar memproduksi kepatuhan. Anak yang menurut dianggap baik. Anak yang bertanya terlalu banyak dianggap mengganggu. Padahal sejarah kemajuan manusia selalu ditulis oleh orang-orang yang sulit patuh pada jawaban lama. Ketika kepatuhan dijadikan tujuan, maka keberanian berpikir menjadi cacat karakter.
Di luar sekolah, realitas semakin getir. Media sosial menjadi universitas baru tanpa kurikulum dan tanpa dosen. Hoaks lebih cepat menyebar daripada klarifikasi. Opini lebih laku daripada data. Kemarahan lebih viral daripada penjelasan. Dan banyak lulusan sekolah bahkan perguruan tinggi ikut tenggelam dalam arus ini, membagikan kebohongan dengan penuh keyakinan.
Di sinilah paradoks itu terasa tajam: kita menghabiskan bertahun-tahun di bangku sekolah, tetapi gagal membangun kekebalan terhadap kebodohan kolektif. Kita lulus dengan ijazah, namun rapuh menghadapi manipulasi. Kita bisa menghafal rumus, tetapi gagap membaca kepentingan di balik informasi.
Pendidikan, yang seharusnya melahirkan warga yang kritis, justru sering menghasilkan massa yang mudah diarahkan. Mereka tahu cara menjawab soal pilihan ganda, tetapi tidak terlatih mengajukan pertanyaan etis: siapa diuntungkan, siapa dirugikan, dan mengapa ini terjadi.
Menyambut kebodohan bukan berarti kita sengaja ingin bodoh. Ia terjadi pelan-pelan, melalui kompromi kecil: mengorbankan diskusi demi target, mengorbankan nalar demi angka, mengorbankan keberanian demi kenyamanan. Lama-kelamaan, sekolah menjadi tempat jinak bagi pikiran, bukan tempat liar bagi ide.
Jika pendidikan terus berjalan seperti ini, kita mungkin akan memiliki generasi yang terampil bekerja, tetapi miskin kebijaksanaan; cekatan mengikuti perintah, tetapi kikuk membaca ketidakadilan; pandai mengutip, tetapi takut berbeda.
Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar “berapa banyak sekolah kita bangun?” atau “seberapa tinggi skor ujian kita?”, melainkan: apakah pendidikan masih menumbuhkan manusia yang berani berpikir, atau justru sedang melatih mereka untuk tidak terlalu banyak bertanya?
Sebab kebodohan paling berbahaya bukanlah tidak tahu, tetapi merasa sudah cukup tahu untuk berhenti belajar. Dan pendidikan, jika kehilangan keberanian untuk mengganggu kenyamanan intelektual, hanya akan menjadi institusi resmi yang ramah terhadap kebodohan, lengkap dengan seragam, logo, dan sertifikat kelulusan.
Di titik itu, sekolah tetap berdiri megah, kelas tetap ramai, ujian tetap berlangsung. Tetapi nalar berjalan pincang, dan masa depan diserahkan pada generasi yang diajari patuh, bukan berpikir.
Pendidikan pun tak lagi menjadi tangga menuju kebijaksanaan, melainkan karpet empuk yang mengantar kebodohan masuk dengan senyum sopan.
***
*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD Negeri 4 Sawojajar.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |