https://malang.times.co.id/
Opini

Literasi di Kampus Hanya Slogan

Kamis, 22 Januari 2026 - 20:29
Literasi di Kampus Hanya Slogan Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

TIMES MALANG, MALANG – Di hampir setiap spanduk orientasi mahasiswa baru, kata literasi selalu hadir dengan wajah paling rapi. Ia ditulis tebal, diberi warna optimistis, dan diposisikan seolah jantung peradaban akademik. 

Kampus mengaku sebagai rumah bagi budaya baca, nalar kritis, dan dialog ilmiah. Namun, di balik slogan yang berkilau itu, literasi sering kali hidup sebagai hiasan dinding: terlihat, tetapi jarang disentuh.

Perpustakaan berdiri megah, rak-rak buku tersusun seperti barisan tentara yang disiplin, tetapi sunyi dari percakapan. Buku-buku menua lebih cepat daripada pemikiran yang lahir darinya. Mahasiswa datang bukan untuk membaca, melainkan mencari Wi-Fi. 

Dosen menugaskan makalah, tetapi jarang mengajarkan cara membaca yang benar. Kampus pun berubah menjadi panggung tempat literasi dipuja dalam pidato, namun dilupakan dalam praktik.

Literasi hari ini direduksi menjadi kemampuan teknis: bisa membaca, bisa menulis, bisa mencari referensi. Padahal, literasi sejati adalah keberanian menguji informasi, kesabaran menelusuri argumen, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuan selalu sementara. Tanpa itu, kampus hanya memproduksi teks, bukan pemahaman.

Di ruang kelas, diskusi sering berubah menjadi lomba berbicara, bukan latihan mendengar. Kutipan teori dilempar seperti jimat, bukan sebagai alat berpikir. Mahasiswa belajar menyusun paragraf, tetapi tidak selalu belajar merawat keraguan. 

Mereka dilatih mengejar jumlah halaman, bukan kedalaman makna. Skripsi pun lahir seperti produk pabrik: seragam, rapi, dan sering kali aman dari gagasan yang terlalu berani.

Ironisnya, kampus sangat rajin menggelar seminar literasi. Poster ditempel, narasumber didatangkan, sertifikat dibagikan. Namun, setelah acara usai, kebiasaan lama kembali: membaca hanya saat terdesak, menulis hanya saat ditagih, berdiskusi hanya saat dinilai. Literasi pun berhenti sebagai event, bukan ekosistem.

Media sosial memperparah keadaan. Banyak mahasiswa lebih akrab dengan ringkasan viral daripada buku tebal. Pendapat dibentuk oleh potongan video, bukan oleh argumen panjang. Opini disusun dari judul, bukan dari isi. Kampus yang seharusnya menjadi benteng terakhir nalar kritis, justru sering takluk pada logika kecepatan: cepat lulus, cepat unggah, cepat lupa.

Dosen pun tidak sepenuhnya bebas dari jebakan ini. Tekanan publikasi, beban administrasi, dan tuntutan angka kredit membuat membaca menjadi tugas tambahan, bukan kebutuhan intelektual. Artikel ditulis demi indeksasi, bukan percakapan ilmiah. Pengetahuan diukur dengan sitasi, bukan dengan dampaknya pada cara berpikir mahasiswa.

Akibatnya, literasi menjelma menjadi slogan baku: diucapkan bersama kata “unggul”, “berdaya saing”, dan “kelas dunia”. Ia dipajang di brosur akreditasi, tetapi jarang menjadi napas keseharian. Kampus berbicara tentang critical thinking, tetapi alergi pada kritik nyata. Menggaungkan kebebasan akademik, tetapi kikuk menghadapi perbedaan.

Padahal, literasi tidak tumbuh dari seminar mewah atau gedung bertingkat. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang konsisten: membaca pelan, menulis jujur, berdiskusi tanpa takut kalah. Ia membutuhkan ruang aman untuk salah, untuk ragu, untuk tidak tahu. Tanpa itu, kampus hanya menjadi pabrik gelar dengan ornamen intelektual.

Jika literasi terus diperlakukan sebagai slogan, kita akan melahirkan lulusan yang fasih berbicara, tetapi rapuh dalam berpikir; pandai mengutip, tetapi malas menggali; berani berpendapat, tetapi enggan mendengar. Mereka akan membawa ijazah sebagai tiket sosial, bukan sebagai tanggung jawab intelektual.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menyakitkan: apakah kampus masih sungguh-sungguh ingin mencerdaskan, atau sekadar ingin terlihat mencerdaskan?

Sebab literasi bukan soal seberapa sering kata itu diucapkan, melainkan seberapa dalam ia mengubah cara kita memahami dunia. Ia bukan dekorasi institusi, melainkan kerja sunyi yang menuntut waktu, kesabaran, dan keberanian untuk tidak selalu tampak pintar.

Jika kampus ingin jujur pada dirinya sendiri, mungkin sudah saatnya menurunkan literasi dari spanduk dan menaikkannya ke ruang kelas, perpustakaan, dan percakapan sehari-hari. Menjadikannya kebiasaan, bukan jargon. Praktik, bukan poster.

Karena universitas tanpa literasi hanyalah bangunan besar dengan ingatan pendek. Dan slogan, betapa pun indahnya, tidak pernah cukup untuk menggantikan kebiasaan berpikir.

 

***

*) Oleh : Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Malang just now

Welcome to TIMES Malang

TIMES Malang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.