TIMES MALANG, MALANG – Minat masyarakat Kabupaten Malang terhadap investasi pasar modal terus menunjukkan tren positif. Hingga November 2025, jumlah investor pasar modal di Kabupaten Malang tercatat mencapai 110.895 orang, atau tumbuh 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Faletehan, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya literasi dan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sarana investasi.
“Secara tahunan, jumlah investor pasar modal di wilayah kerja OJK Malang meningkat sebanyak 78.338 investor atau tumbuh 26,53 persen year on year (yoy), dari 295.303 pada November 2024 menjadi 373.641 pada November 2025. Ini menunjukkan masyarakat sudah mulai melek investasi di pasar modal,” ujar Farid.
Pertumbuhan investor tidak hanya terjadi di Kabupaten Malang, tetapi juga merata di seluruh wilayah kerja OJK Malang. Di Kota Malang, jumlah investor tumbuh 14 persen, dari 102.459 orang pada November 2024 menjadi 117.499 orang pada November 2025.
Sementara itu, Kota Batu mencatatkan pertumbuhan investor sebesar 22 persen, dari 12.597 orang menjadi 15.448 orang dalam periode yang sama.
Di Kota Pasuruan, tumbuh 25 persen dari 24.148 menjadi 30.355. Kemudian di Kabupaten Pasuruan, dari 38.255 investor naik menjadi 52.711 atau naik 37 persen. Sedang di Kota Probolinggo naik 27 persen, dari 17.597 menjadi 22.369. Terakhir di Kabupaten Probolinggo dari 18.357 menjadi 24.304 atau naik 32 persen.
“Jadi rata-rata semua daerah naik di atas 20 persen. Ini juga menunjukkan masyarakat sudah mulai terliterasi dan memahami pasar modal,” jelas Farid.
Selain peningkatan jumlah investor, aktivitas transaksi saham di wilayah kerja OJK Malang juga mengalami lonjakan signifikan. Rata-rata frekuensi transaksi saham per November 2025 tercatat mencapai 1.268.346 transaksi, atau tumbuh 141,05 persen yoy.
Tak hanya itu, rata-rata nilai transaksi saham juga melonjak tajam. Pada November 2025, nilai transaksi saham mencapai Rp6.766 miliar, meningkat 151,79 persen yoy dibandingkan November 2024 yang tercatat sebesar Rp2.687 miliar.
OJK Malang menilai tren ini menjadi indikator positif berkembangnya inklusi dan literasi keuangan masyarakat, sekaligus peluang bagi penguatan ekonomi daerah melalui sektor pasar modal. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |